Media Sosial Picu Perempuan Terjebak Gaya Hidup
- 23 Feb 2026 18:03 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya : Di tengah derasnya arus digitalisasi dan media sosial, perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terdampak budaya konsumtif. Standar gaya hidup yang terus ditampilkan melalui platform digital mulai dari tren fesyen, kecantikan, hingga gaya hidup mewah kerap menempatkan perempuan pada persimpangan antara kebutuhan nyata dan tekanan sosial untuk “tampil ideal”.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan perempuan perkotaan, tetapi juga merambah ke berbagai lapisan usia dan latar belakang sosial. Validasi sosial dalam bentuk “likes”, komentar, dan pengakuan lingkungan sering kali menjadi pemicu utama keputusan konsumsi, meskipun tidak selalu selaras dengan kondisi finansial pribadi.
Aktivis Perempuan yang juga Financial Planner, Willy Filosofia menilai bahwa tekanan sosial memiliki pengaruh besar terhadap pola belanja perempuan saat ini. Menurutnya, konsumsi kerap dijadikan simbol penerimaan sosial.
“Banyak perempuan akhirnya berbelanja bukan karena butuh, tapi karena takut tertinggal atau merasa tidak cukup baik dibandingkan standar yang dibentuk lingkungan dan media sosial,” ujar Willy saat berbincang dengan RRI Surabaya dalam program Kesetaraan Gender, Senin 23Februari 2026.
Ia menjelaskan, budaya konsumsi yang tidak disadari dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan finansial, terutama jika tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Tanpa perencanaan yang matang, pengeluaran impulsif berpotensi menggerus tabungan dan menghambat tujuan keuangan jangka panjang.
Willy menekankan pentingnya kesadaran diri dalam mengelola keuangan di tengah tekanan sosial yang semakin kuat.
“Perempuan perlu berani menetapkan prioritas keuangan berdasarkan nilai dan kebutuhan pribadi, bukan semata-mata tuntutan sosial. Finansial yang sehat justru memberi ruang bagi perempuan untuk lebih berdaya,”ucapnya.
Di sisi lain, meningkatnya kesadaran perempuan terhadap kemandirian finansial menjadi sinyal positif. Edukasi keuangan, perencanaan anggaran, dan pengelolaan emosi dalam berbelanja dinilai sebagai kunci agar perempuan tidak terjebak dalam pusaran konsumsi semu.
Di tengah arus konsumsi yang kian deras, perempuan dihadapkan pada pilihan penting, mengikuti gaya hidup yang dibentuk tekanan sosial, atau membangun kontrol diri demi masa depan finansial yang lebih aman dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....