Megengan, Tradisi Berbagi Jelang Puasa Ramadhan

  • 04 Feb 2026 13:04 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Megengan merupakan tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini dilaksanakan pada akhir bulan Syakban, tepat sebelum 1 Ramadan.

Megengan berasal dari bahasa Jawa, yaitu “megeng” yang berarti menahan diri. Makna tersebut selaras dengan tujuan ibadah puasa sebagai latihan pengendalian diri.

Tradisi Megengan telah berlangsung turun-temurun sebagai bentuk persiapan spiritual sebelum menjalani Ramadan. Kegiatan ini juga menjadi wujud rasa syukur karena masih dipertemukan dengan bulan suci.

Selain itu, Megengan dimaknai sebagai momen mempererat silaturahmi. Masyarakat berkumpul untuk saling memaafkan serta mendoakan leluhur.

Di beberapa daerah, tradisi ini dikenal dengan sebutan lain, seperti Nyadran atau Ruwahan. Meski berbeda istilah, esensi kegiatannya tetap sama.

Rangkaian Megengan umumnya diawali dengan ziarah atau nyekar ke makam leluhur. Kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama atau tahlil di musala maupun masjid.

Masyarakat juga membawa ambengan, yakni hidangan nasi beserta lauk pauk dan kue tradisional. Doa bersama biasanya dipimpin oleh sesepuh lingkungan setempat.

Salah satu sajian wajib dalam tradisi ini adalah kue apem. Kue tersebut kemudian dibagikan kepada warga untuk dinikmati bersama.

Apem memiliki makna filosofis yang berasal dari kata “ngafwan” atau “ngafwun” yang berarti permohonan maaf. Kue apem melambangkan keikhlasan membersihkan hati sebelum Ramadan.

Megengan merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. Tradisi ini mencerminkan harmoni antara kearifan lokal dan ajaran keislaman.

Melalui tradisi Megengan, masyarakat diajak menjaga warisan budaya leluhur. Nilai kebersamaan, toleransi, dan spiritualitas menjadi pesan utama yang terus dilestarikan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....