Ruwatan, Warisan Budaya Jawa Sarat Makna Spiritual

  • 04 Sep 2025 13:02 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Masyarakat Jawa melaksanakan tradisi ruwatan untuk membebaskan seseorang dari malapetaka, kesialan, atau kutukan yang dikenal dengan istilah sukerta. Kata ruwatan berarti “dilepas” atau “dibebaskan”. Melalui upacara ini, mereka berupaya melindungi anak dari marabahaya seperti penyakit, kesialan, maupun hal-hal yang diyakini berasal dari karma buruk atau roh jahat.

Selain bermakna perlindungan, ruwatan juga menjadi sarana memperoleh berkah, ketenteraman jiwa, kesehatan, kedamaian, keselamatan, kebahagiaan, serta kesejahteraan. Banyak masyarakat percaya bahwa orang yang sudah menjalani ruwatan akan terbebas dari marabahaya sepanjang hidupnya. Ruwatan biasanya berlangsung pada bulan Muharam atau suro dalam penanggalan Jawa, serta bulan Rajab dalam penanggalan Islam.

Masyarakat menggelar ruwatan melalui pertunjukan wayang kulit dengan lakon Murwakala. Seorang dalang khusus yang menguasai ilmu ruwatan memimpin jalannya prosesi. Berbeda dengan pentas wayang biasa, pertunjukan ini menghadirkan lebih banyak ubarampe sesaji. Keluarga yang menggelar ruwatan menyiapkan jajanan pasar, aneka tumpeng, bubur, umbi-umbian, pisang, kelapa, hingga unggas seperti burung merpati. Mereka juga menyiapkan kain lurik, kain mori putih, kain batik, kemenyan wangi, bunga setaman, air dari tujuh sumber, padi, serta benang lawe.

Peserta ruwatan menjalani beberapa tahapan, mulai dari mandi air kembang, memotong rambut, hingga mengenakan kain putih bersih. Setelah itu, mereka menuju panggung pertunjukan wayang, di mana dalang melantunkan mantra dan doa dalam bahasa Jawa sebelum melanjutkan dengan lakon Murwakala.

Tradisi ini ditujukan untuk orang-orang yang dianggap memiliki “keistimewaan” tertentu. Mereka antara lain anak tunggal (ontang-anting), anak kembar, atau anak dengan urutan kelahiran khusus seperti uger-uger lawang (dua anak laki-laki semua) hingga pandhawa (lima anak laki-laki). Anak yang lahir dengan kondisi tertentu, seperti anak bungkus, anak tiba sampir, atau bayi albino (bule), juga termasuk dalam kelompok yang perlu diruwat. Selain itu, orang yang sering sakit-sakitan, kerap ditimpa kesialan, atau hendak memulai usaha baru pun kadang memilih menjalani ruwatan.

Meski berakar dari kepercayaan kuno, ruwatan tetap relevan di era modern. Tradisi ini menjadi sarana introspeksi, penyucian diri, sekaligus pencapaian keseimbangan spiritual. Di tengah derasnya arus modernisasi, ruwatan berdiri sebagai warisan budaya Jawa yang kaya makna dan patut dilestarikan. Memahami ruwatan bukan hanya berarti melestarikan budaya, tetapi juga menggali kearifan lokal untuk memperkaya kehidupan modern.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....