IIGCE 2026 Soroti Transformasi Ekosistem Industri Panas Bumi
- 25 Agt 2026 10:13 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Industri panas bumi Indonesia mulai bergerak menuju ekosistem yang lebih terintegrasi, tidak lagi terbatas pada pembangkitan listrik. Perkembangan tersebut mencakup teknologi pengeboran, pemanfaatan AI dan IoT, pengelolaan brine, pemulihan mineral, hingga pengembangan industri hilir.
Perubahan itu menjadi salah satu sorotan Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026. Forum tersebut mendorong pemanfaatan teknologi dan kolaborasi industri untuk memperkuat peran panas bumi dalam ketahanan energi nasional.
“Tantangan terbesar kita ada pada kecepatan eksekusi dan regulasi. Pemerintah siap mempermudah perizinan dan memberikan insentif konkret agar kerja sama regulator dan pelaku usaha berjalan selaras,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dalam siaran pers, Selasa 25 Agustus 2026.
Bahlil juga mendorong pemanfaatan panas bumi untuk kebutuhan di luar pembangkitan listrik. Pemanfaatannya antara lain untuk pengeringan hasil pertanian hingga mendukung kebutuhan industri petrokimia.
Presiden Asosiasi Panas Bumi Indonesia (INAGA/API) Julfi Hadi menjelaskan, pengembangan panas bumi dapat mendukung target kapasitas hingga 30 GW sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Sinergi pemerintah, pengembang IPP, dan kepastian izin WKP dinilai menjadi kunci percepatan proyek.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia, namun sekitar 88 persen cadangannya belum termanfaatkan. Momentum 100 tahun ini harus menjadi landasan pacu untuk mempercepat eksekusi proyek di lapangan,” tegas Julfi Hadi.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTK) Kementerian ESDM, Prof. Eniya Listiani Dewi, memaparkan rekam jejak keandalan panas bumi nasional. Sekaligus komitmen pemerintah dalam memacu target kapasitas terpasang dan kontribusi ekonomi sektor energi bersih.
“Panas bumi adalah jangkar transisi energi kita. Dari kontribusi 2,2 persen saat ini, kami memacu akselerasi proyek agar target 5,2 GW dapat segera terealisasi,” papar Eniya Listiani Dewi.
Sebelumnya, even IIGCE 2026 digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) dengan tema “Energy Self-Sufficiency for a Stronger Indonesia: Geothermal as the Baseload Driving Energy Transition and Security”. Penyelenggaraan tahun ini sekaligus menjadi momentum 100 tahun perjalanan pengembangan panas bumi di Indonesia, yang pertama kali dieksplorasi pada 1926.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....