Fenomena 'Sugar Daddy' Dinilai Cerminkan Ketimpangan Relasi Gender

  • 16 Mar 2026 11:34 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Fenomena hubungan yang dikenal dengan istilah sugar daddy semakin sering menjadi perbincangan publik, terutama di kalangan generasi muda dan pengguna media sosial. Relasi yang umumnya melibatkan pihak yang memiliki kekuatan ekonomi dengan pasangan yang lebih muda ini dinilai memunculkan sejumlah persoalan sosial, mulai dari ketimpangan relasi kuasa hingga potensi eksploitasi berbasis gender.

Dalam dialog Surabaya Siang Ini, Kesetaraan Gender, Senin, 16 Maret 2026, Willy Filosofia, Direktur Kepatuhan Pialang Berjangka, mengatakan fenomena sugar daddy tidak bisa hanya dilihat sebagai hubungan pribadi antara dua individu. Sebab, di balik relasi tersebut terdapat persoalan yang lebih kompleks, terutama terkait ketimpangan kekuasaan dan kondisi sosial ekonomi.

“Fenomena sugar daddy sering kali menunjukkan adanya relasi kuasa yang tidak seimbang. Ketika satu pihak memiliki kekuatan ekonomi yang dominan, maka potensi terjadinya eksploitasi atau ketergantungan dalam hubungan menjadi lebih besar,” ujarnya.

Ia menilai, fenomena ini juga berkaitan erat dengan tekanan ekonomi serta gaya hidup yang berkembang di masyarakat. Dalam beberapa kasus, kondisi finansial dan keinginan mempertahankan gaya hidup tertentu dapat mendorong seseorang terlibat dalam hubungan yang berpotensi merugikan dirinya sendiri.

“Persoalan ini tidak bisa hanya menyalahkan individu yang terlibat. Kita juga harus melihat faktor struktural seperti tekanan ekonomi, budaya konsumtif, hingga konstruksi sosial tentang gender yang masih menempatkan perempuan pada posisi rentan,” katanya.

Selain itu, perkembangan media sosial turut mempercepat penyebaran fenomena tersebut. Akses digital yang luas membuat berbagai bentuk relasi dapat terbentuk dengan cepat, namun juga membuka ruang bagi praktik hubungan yang tidak sehat.

“Kesadaran tentang kesetaraan gender sangat penting agar setiap individu dapat membangun hubungan yang sehat, saling menghargai, dan tidak didasarkan pada dominasi atau ketergantungan ekonomi,” ujarnya.

Untuk itu, Willy menegaskan pentingnya literasi gender dan edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar mampu memahami risiko yang mungkin muncul dalam hubungan yang tidak setara. Selain itu, masyarakat diharapkan dapat melihat fenomena sugar daddy secara lebih kritis, tidak sekadar sebagai tren atau gaya hidup, melainkan sebagai persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....