Geologi dan Mitigasi Kebencanaan di Jawa Timur

  • 11 Mar 2026 12:48 WIB
  •  Surabaya

RRI. CO. ID, Surabaya - Provinsi Jawa Timur memiliki kondisi geologi yang kompleks sehingga berpotensi mengalami berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tanah longsor, hingga erupsi gunung api. Hal ini disampaikan oleh Rusmita, S.T. Analis Kebencanaan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Timur, dalam siaran Dialog Kentongan di Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya.

Dalam dialog tersebut, Rusmita menjelaskan bahwa secara geologis wilayah Jawa Timur dipengaruhi oleh aktivitas tektonik dan vulkanik yang membentuk berbagai bentang alam seperti pegunungan, dataran tinggi, hingga kawasan pesisir. Kondisi ini juga membuat Jawa Timur memiliki sejumlah gunung api aktif seperti Gunung Semeru, Gunung Bromo, Gunung Kelud, dan Gunung Ijen yang merupakan bagian dari jalur cincin api Indonesia.

Selain aktivitas vulkanik, potensi bencana di Jawa Timur juga dipengaruhi oleh kondisi litologi batuan, kemiringan lereng, serta struktur geologi seperti patahan dan lipatan. Pada wilayah dengan lereng curam dan batuan yang mudah melapuk, terutama di kawasan perbukitan dan pegunungan, risiko tanah longsor cenderung meningkat, khususnya saat musim hujan dengan curah hujan tinggi.

Rusmita menjelaskan bahwa ilmu geologi memiliki peran penting dalam memahami karakteristik wilayah dan potensi bencana yang dapat terjadi. Melalui kajian geologi, para ahli dapat mengetahui tingkat kerentanan suatu daerah terhadap bencana alam sehingga dapat menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan yang lebih aman dan berkelanjutan.

Beberapa jenis bencana geologi yang sering terjadi di Indonesia antara lain gempa bumi, tanah longsor, letusan gunung api, tsunami, hingga likuefaksi. Gempa bumi umumnya terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik atau aktivitas patahan di dalam bumi yang melepaskan energi secara tiba-tiba. Sementara itu, tanah longsor terjadi akibat pergerakan massa tanah atau batuan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah karena pengaruh gaya gravitasi.

Untuk mengurangi risiko bencana tersebut, diperlukan upaya mitigasi yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Mitigasi bencana merupakan serangkaian tindakan yang bertujuan mengurangi dampak bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kapasitas masyarakat.

Menurut Rusmita, pemerintah daerah melalui BPBD memiliki peran strategis dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana, termasuk melakukan sosialisasi, edukasi, serta simulasi kebencanaan kepada masyarakat. Kegiatan tersebut bertujuan agar masyarakat memahami potensi bencana di wilayahnya serta mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.

Upaya mitigasi juga dapat dilakukan melalui perencanaan tata ruang yang memperhatikan kondisi geologi wilayah, pembangunan infrastruktur yang tahan bencana, serta pemasangan sistem peringatan dini. Selain itu, masyarakat juga dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan, seperti mempertahankan vegetasi di daerah lereng untuk mencegah longsor serta memastikan sistem drainase berfungsi dengan baik.

Rusmita juga mengingatkan masyarakat untuk mengenali tanda-tanda awal terjadinya tanah longsor, seperti munculnya retakan pada tanah atau bangunan, pohon atau tiang listrik yang mulai miring, serta adanya rembesan air pada lereng. Jika tanda-tanda tersebut muncul, masyarakat diharapkan segera melaporkan kepada pihak terkait agar dapat dilakukan penanganan lebih lanjut.

Melalui pemahaman tentang kondisi geologi serta penerapan berbagai langkah mitigasi, diharapkan masyarakat di Jawa Timur dapat lebih siap menghadapi potensi bencana yang mungkin terjadi. Edukasi kebencanaan menjadi langkah penting untuk membangun masyarakat yang tangguh dan mampu meminimalkan risiko bencana di masa mendatang.

Rekomendasi Berita