Kreativitas Batik Menembus Era Digital

  • 28 Feb 2026 21:06 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Dialog Kita Indonesia, Jumat 27 Februari 2026, menghadirkan narasumber Umi Badriyah, Guru SMKN 12 Surabaya mata pelajaran kriya kreatif batik dan tekstil. Dalam siaran menyoroti bagaimana kreativitas batik terus berkembang di tengah arus digitalisasi.

Umi Badriyah menjelaskan bahwa SMKN 12 Surabaya yang berdiri pada 12 Desember 2012 merupakan satu-satunya sekolah seni terlengkap di Jawa Timur. “Di sekolah kami ada seni pertunjukan, seni kriya, sampai seni teknologi. Harapannya bisa menjadi barometer nasional,” ujarnya.

Ia memaparkan bahwa pembelajaran kriya batik dan tekstil dimulai dari dasar di kelas 10, penerapan di kelas 11, hingga tahap penciptaan produk layak jual. “Anak-anak tidak hanya belajar membatik, tapi juga menenun, menyablon, melukis kain, sampai membuat produk yang siap dipamerkan,” jelasnya.

Menurut Umi, digitalisasi bukanlah ancaman, melainkan peluang jika diarahkan dengan benar. Ia mengakui tantangan maraknya tekstil bermotif batik printing di pasaran. “Batik tulis itu mahal karena prosesnya panjang dan manual. Ada penorehan malam, pewarnaan berulang, bisa berbulan-bulan,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan zaman, ia mengarahkan siswa memanfaatkan gawai secara produktif. “HP jangan hanya untuk hiburan. Sebelum membuat produk, anak-anak harus menyusun konsep, riset tema, cari referensi di internet, lalu desain bisa pakai aplikasi seperti Ibis, Canva, bahkan Gemini,” ungkapnya.

Tema lokal menjadi sumber inspirasi utama. Umi mencontohkan saat siswa mengangkat tema kuliner khas Surabaya. “Kalau mau ambil tema rujak cingur, gali dulu apa saja unsur di dalamnya. Dari situ lahir motif yang unik dan limited edition,” katanya.

Ia menambahkan, setiap siswa wajib membuat motif berbeda setiap tahun sehingga karya benar-benar orisinal. “Saya selalu bilang ke pengunjung pameran, ini limited edition, belum tentu ada yang sama di dunia,” tuturnya bangga.

Dalam metode pembelajaran, Umi menerapkan pendekatan presentasi dan evaluasi terbuka. Siswa diminta mempertanggungjawabkan konsep di depan kelas. “Teman-temannya memberi masukan, kritik, lalu diperbaiki. Dari situ kreativitas dan mental mereka terbentuk,” jelasnya.

Umi juga menekankan pentingnya adaptasi karakter siswa di era sekarang. “Anak sekarang kalau sudah ketemu jalannya bisa luar biasa semangatnya. Tapi untuk memulai itu perlu motivasi dan pendampingan,” ujarnya. Ia bahkan mengajak siswa memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk pemasaran karya.

Sebagai penutup, Umi menegaskan bahwa kreativitas harus diimbangi daya juang dan kemampuan teknis. “Di batik itu ada matematika, ada hitungan gram warna, ada komposisi benang. Jadi jangan kira masuk SMK tidak perlu matematika,” pungkasnya. Dialog tersebut menegaskan bahwa batik tetap lestari dan relevan, bahkan semakin kuat berkat sentuhan teknologi digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....