Anak Tidak Punya Teman? Kenali Penyebab dan Cara Membantunya

  • 29 Sep 2026 15:56 WIB
  •  Sungaipenuh
Poin Utama
  • cara-mengatasi-anak-yang-dijauhi-teman

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - Mendengar anak bercerita tentang teman yang menjauhinya tentu membuat orang tua merasa sedih. Apalagi, perubahan sikap anak sering terlihat setelah masalah tersebut terjadi. Anak yang biasanya ceria dapat menjadi lebih pendiam dan murung. Karena itu, orang tua perlu memahami penyebabnya sebelum menentukan cara membantu anak.

Mengapa Anak Bisa Dijauhi Teman?

Setiap anak memiliki karakter dan cara berinteraksi yang berbeda. Karena itu, penyebab seorang anak dijauhi teman juga tidak selalu sama. Para ahli psikologi anak menyebutkan beberapa perilaku yang dapat memengaruhi hubungan anak dengan teman sebaya. Namun, orang tua tetap perlu melihat kondisi anak secara menyeluruh.

Pada anak laki-laki, perilaku agresif dapat menjadi salah satu penyebab masalah pertemanan. Beberapa anak sering memukul, menendang, atau mendorong teman lainnya. Selain itu, sebagian anak juga cenderung suka mengganggu dan argumentatif. Meski begitu, tidak semua anak laki-laki menunjukkan perilaku tersebut.

Sekitar 13–20 persen anak laki-laki justru memiliki karakter pemalu dan cenderung menarik diri. Bahkan, sebagian anak menunjukkan sikap yang berbeda dari teman sebayanya. Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa kurang cocok dalam kelompoknya. Oleh sebab itu, orang tua perlu memahami karakter anak sebelum mengambil kesimpulan.

Sementara itu, anak perempuan dapat menghadapi persoalan pertemanan dengan cara berbeda. Sikap bossy atau suka memerintah dapat membuat teman merasa tidak nyaman. Selain itu, perilaku membantah, melanggar aturan, dan menunjukkan banyak emosi negatif juga dapat memengaruhi hubungan. Anak yang kesulitan menyelesaikan masalah juga dapat menghadapi persoalan serupa.

Namun, setiap anak memiliki kondisi yang berbeda. Bisa saja anak mengalami masalah pertemanan karena alasan lain yang tidak tercantum dalam kondisi tersebut. Karena itu, orang tua perlu melakukan pengamatan secara langsung. Selanjutnya, orang tua dapat bertanya kepada anak mengenai kejadian yang sebenarnya.

Anak usia dini juga kerap mengalami pertengkaran kecil ketika bermain bersama. Perbedaan pendapat dapat menjadi salah satu pemicunya. Namun, orang tua sebaiknya tidak langsung mengambil kesimpulan berdasarkan cerita anak. Sebaliknya, orang tua perlu mencari informasi tambahan agar mendapatkan gambaran yang lebih berimbang.

Selain berbicara dengan anak, orang tua dapat mencari informasi dari teman-temannya. Setelah itu, orang tua juga dapat berdiskusi dengan guru di sekolah. Guru biasanya melihat perilaku anak dalam lingkungan sekolah sehari-hari. Dengan demikian, guru dapat membantu orang tua memahami kondisi anak dan memberikan saran.

Masalah pertemanan bisa muncul karena anak merasa malu atau enggan berbagi. Selain itu, sikap bossy dan keengganan untuk mengalah juga dapat menjadi penyebab. Berbagai perilaku negatif lainnya juga dapat memengaruhi hubungan anak dengan teman. Karena itu, orang tua perlu mengakui masalah tersebut dan mencari langkah perbaikan.

Cara Membantu Anak yang Dijauhi Teman

1. Tunjukkan Empati

Bagi anak, dijauhi teman dapat menjadi persoalan yang cukup besar. Karena itu, orang tua perlu menunjukkan empati ketika anak menceritakan pengalamannya. Dengarkan ceritanya dengan baik dan jangan langsung menyalahkan anak. Dengan begitu, anak dapat merasa lebih aman untuk bercerita.

Selain itu, orang tua dapat membagikan pengalaman masa kecil yang serupa. Cara tersebut dapat membuat anak merasa tidak sendirian menghadapi masalahnya. Anak juga mengetahui bahwa orang tuanya pernah menghadapi situasi serupa. Karena itu, empati dapat menjadi langkah awal dalam membantu anak.

2. Jangan Menjelekkan Teman Anak

Orang tua sebaiknya tidak mengajak anak menjelekkan teman-temannya. Sebaliknya, jelaskan bahwa pertengkaran kecil dapat terjadi ketika anak bermain bersama. Namun, konflik tersebut sebaiknya tidak berlangsung terus-menerus. Orang tua juga dapat menceritakan pengalaman serupa ketika masih kecil.

3. Bantu Anak Memperbaiki Perilakunya

Setelah memahami perasaan anak, orang tua dapat membantu memperbaiki perilakunya. Langkah ini menjadi penting jika orang tua sudah mengetahui penyebab masalah pertemanan. Misalnya, anak mungkin sering menunjukkan sikap bossy kepada teman. Karena itu, orang tua dapat mulai melatih perilaku tersebut dari lingkungan rumah.

Orang tua dapat menggunakan permainan peran untuk membantu anak memahami perilakunya. Saat anak suka memerintah, orang tua dapat memberikan pengertian secara tenang. Anak perlu memahami bahwa dirinya tidak dapat memerintah orang lain sesuka hati. Selain itu, orang tua dapat menjadi contoh perilaku yang baik di rumah.

4. Ajarkan Anak Mengenali Kapan Harus Berhenti

Setiap orang dapat melakukan kesalahan ketika berinteraksi dengan orang lain. Anak juga dapat mengalami hal serupa ketika bermain bersama teman. Namun, anak perlu belajar mengenali kesalahan dan memahami kapan harus berhenti. Kemampuan tersebut dapat membantu anak membangun hubungan sosial yang lebih baik.

Misalnya, anak mungkin tidak sengaja melukai temannya ketika bermain. Saat melihat temannya terluka, anak perlu memahami bahwa tindakannya harus berhenti. Orang tua dapat melatih kemampuan tersebut melalui permainan peran di rumah. Dengan begitu, anak belajar membaca tanda dari teman ketika mereka merasa tidak nyaman.

5. Ajarkan Anak Menerima Kekalahan

Sebagian anak mungkin menghadapi masalah pertemanan karena menunjukkan reaksi negatif ketika kalah bermain. Karena itu, orang tua perlu menjelaskan bahwa menang dan kalah merupakan bagian dari permainan. Anak juga perlu memahami bahwa kesempatan menang dapat muncul pada permainan berikutnya. Dengan demikian, anak dapat belajar menerima hasil permainan dengan lebih baik.

Selain itu, orang tua perlu mengajarkan anak agar tidak mengejek teman yang kalah. Setiap orang memiliki kesempatan menang dan kalah dalam permainan. Karena itu, anak perlu belajar menghargai teman dalam situasi apa pun. Sikap tersebut juga membantu anak memahami pentingnya sportivitas.

6. Ajarkan Anak Tidak Berbohong kepada Teman

Kebiasaan berbohong juga dapat memengaruhi hubungan anak dengan teman. Anak mungkin berbohong karena ingin membuat teman kagum atau masuk dalam kelompok tertentu. Jika menghadapi kondisi tersebut, orang tua perlu menjelaskan bahwa berbohong bukan perilaku yang baik. Anak juga perlu memahami bahwa kebohongan tidak dapat menjadi cara untuk mendapatkan teman.

Sebaliknya, orang tua dapat mengajarkan cara lain untuk membangun hubungan pertemanan. Misalnya, anak dapat mengajak teman bermain bersama di rumah. Selain itu, anak dapat mengikuti permainan yang memang disukai temannya. Dengan cara tersebut, anak dapat membangun kedekatan tanpa perlu membuat cerita yang tidak benar.

Orang Tua Perlu Memahami Kondisi Anak

Ketika anak dijauhi teman sebaya, orang tua tentu dapat merasa khawatir. Namun, orang tua perlu memahami penyebabnya sebelum menentukan langkah berikutnya. Setiap anak memiliki karakter dan persoalan pertemanan yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang diberikan juga perlu menyesuaikan kondisi anak.

Dengan memahami penyebabnya, orang tua dapat membantu anak menghadapi masalah sosial secara lebih tepat. Selain itu, komunikasi yang terbuka dapat membuat anak merasa didengar dan didukung. Orang tua juga dapat melibatkan guru untuk mendapatkan gambaran perilaku anak di sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....