ChatGPT untuk Remaja Hadir dengan Fitur Keamanan

  • 22 Agt 2026 08:44 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh - OpenAI memperkenalkan ChatGPT untuk remaja dengan sistem perlindungan tambahan bagi pengguna berusia di bawah 18 tahun. Mode tersebut dirancang untuk membantu aktivitas belajar sekaligus membatasi paparan terhadap konten yang dinilai tidak sesuai usia.

Peluncuran ini dilakukan ketika OpenAI menghadapi sorotan hukum terkait keamanan anak saat menggunakan chatbot berbasis kecerdasan buatan.

Sejumlah fitur baru disiapkan

Mode perlindungan tersebut membawa beberapa pengaturan yang ditujukan untuk membatasi penggunaan ChatGPT secara berlebihan. Salah satunya berupa pengingat istirahat setelah pengguna aktif selama 90 menit dalam periode tiga jam.

Orang tua dan remaja juga dapat mengatur fitur Jam Tenang. Ketika jadwal tersebut aktif, ChatGPT tidak dapat digunakan hingga periode yang ditentukan berakhir.

Ada pula Jam Belajar yang secara otomatis mengaktifkan mode belajar pada ChatGPT. Fitur ini diarahkan untuk mendukung aktivitas akademik tanpa menghilangkan fungsi chatbot sebagai sarana eksplorasi dan kreativitas.

OpenAI juga memperketat respons chatbot terhadap percakapan mengenai perasaan pribadi. Sistem dirancang agar tidak memberikan pendapat tertentu yang berpotensi memengaruhi kondisi emosional pengguna.

Pengguna mendapat peringatan sebelum mengunggah gambar sensitif

Perlindungan tambahan juga diterapkan ketika pengguna hendak mengunggah gambar pribadi atau sensitif. ChatGPT akan memberikan pengingat agar pengguna mempertimbangkan kembali tindakan tersebut.

OpenAI mengatakan pengamanan berbasis usia itu dibuat untuk mengurangi kemungkinan remaja terpapar materi yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

Perusahaan tetap menyatakan bahwa ChatGPT dapat digunakan untuk belajar, berkreasi, dan mengeksplorasi berbagai topik.

Sistem akan memperkirakan usia pengguna

Pengguna yang menyatakan dirinya berusia di bawah 18 tahun ketika membuat akun akan langsung masuk ke mode perlindungan remaja.

OpenAI juga menyiapkan teknologi untuk memperkirakan usia pengguna. Jika sistem menduga seseorang masih berusia di bawah 18 tahun, mode perlindungan dapat diterapkan meski tanggal lahir dalam profil menunjukkan usia berbeda.

Kepala bagian remaja dan keluarga OpenAI, Lauren Jonas, mengatakan fitur tersebut ditujukan untuk membantu anak tetap fokus belajar dengan dukungan pengamanan tambahan.

Kehadiran fitur ini menjadi relevan seiring meningkatnya penggunaan chatbot AI oleh kelompok usia muda.

Penggunaan chatbot AI di kalangan remaja meningkat

Studi Pew Research Center yang diterbitkan pada Desember menunjukkan hampir sepertiga remaja di Amerika Serikat menggunakan chatbot AI setiap hari.

Dalam survei tersebut, ChatGPT menjadi chatbot yang paling banyak digunakan. Sekitar separuh responden mengaku pernah menggunakan layanan AI tersebut.

Angka itu menunjukkan bahwa chatbot generatif semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari remaja. Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan perhatian terhadap bagaimana teknologi AI memberikan respons kepada pengguna usia muda.

OpenAI menghadapi sejumlah tuntutan hukum

Peluncuran perlindungan baru ini berlangsung ketika OpenAI mendapat tekanan hukum mengenai keamanan ChatGPT.

Sejumlah keluarga pengguna menuding percakapan dengan chatbot berkontribusi terhadap tindakan berbahaya, termasuk kasus bunuh diri anak. OpenAI membantah tuduhan tersebut.

Pada musim gugur sebelumnya, perusahaan memperkenalkan kontrol orang tua yang memungkinkan sejumlah fitur dinonaktifkan. Pengaturan tersebut mencakup memori dan riwayat percakapan.

Orang tua juga dapat menerima pemberitahuan ketika sistem mendeteksi apa yang disebut sebagai momen stres negatif akut selama anak menggunakan ChatGPT.

OpenAI sebelumnya menyatakan akan menambahkan peringatan berkaitan dengan gangguan makan.

Gugatan juga berkaitan dengan kasus kekerasan

Pada April, tujuh keluarga korban penembakan sekolah di British Columbia menggugat OpenAI dan CEO Sam Altman.

Gugatan tersebut berkaitan dengan dugaan percakapan pelaku dengan ChatGPT mengenai kekerasan menggunakan senjata api. Setelah Altman menyampaikan permohonan maaf, OpenAI menyatakan telah memperkuat sistem keamanannya.

Tekanan hukum kembali muncul pada Juni ketika OpenAI dan Altman menghadapi gugatan dari negara bagian Florida.

Dalam perkara tersebut, ChatGPT dituding gagal mengantisipasi sejumlah risiko terhadap pengguna anak. Tuduhan yang diajukan mencakup dugaan chatbot mendorong tindakan bunuh diri, membantu pelaku kekerasan, serta menimbulkan persoalan lain bagi pengguna muda.

OpenAI membantah tuduhan tersebut dan menyatakan perusahaan telah menerapkan perlindungan serta kebijakan keamanan yang dirancang untuk menghadapi risiko penggunaan AI.

Kehadiran mode khusus remaja kini menjadi bagian dari upaya OpenAI memperkuat perlindungan bagi pengguna di bawah umur. Bagi keluarga, perubahan tersebut juga menempatkan pengaturan penggunaan AI sebagai bagian penting dari pendampingan aktivitas digital anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....