TNKS yang Kian Terluka
- 11 Feb 2026 10:56 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CI.ID, Sungai Penuh - Kabut pagi masih setia menggantung di lereng Bukit Barisan. Dari kejauhan, hamparan hijau Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) terlihat tenang, seolah tak pernah tersentuh masalah. Padahal, di balik keteduhan itu, TNKS di Provinsi Jambi menyimpan cerita tentang hutan yang perlahan terkikis.
TNKS merupakan kawasan konservasi terbesar di Sumatera. Ia menjadi rumah bagi harimau Sumatera, tapir, gajah, beruang madu, serta ribuan jenis flora endemik. Di wilayah Jambi, kawasan ini membentang di Kabupaten Kerinci dan Merangin, menjadi penyangga kehidupan bagi masyarakat sekitar.
Namun, ketenangan itu mulai berubah.
Jejak Manusia di Jantung Hutan
Di beberapa titik, hutan rapat kini tak lagi utuh. Jalur setapak muncul, disusul pondok-pondok kecil, kebun, hingga jalan tidak resmi yang membelah kawasan. Pohon besar yang dahulu menopang ekosistem satu per satu menghilang, digantikan tanaman ladang dan kebun ilegal.
Perubahan ini berlangsung perlahan, nyaris tak terasa, namun dampaknya besar. Tutupan hutan berkurang, tanah kehilangan daya ikat, dan aliran air menjadi tak menentu.
TNKS yang seharusnya menjadi benteng terakhir justru mulai terbuka dari dalam.
Ketika Alam Kehilangan Ruang
Hutan bukan hanya deretan pohon. Ia adalah sistem hidup. Saat satu bagian rusak, bagian lain ikut terganggu. Satwa kehilangan jalur jelajah, sumber pakan menipis, dan ruang berlindung makin sempit.
Akibatnya, konflik antara manusia dan satwa meningkat. Harimau dan gajah keluar dari habitat, masuk ke kebun warga. Bukan untuk menyerang, melainkan mencari ruang hidup yang tersisa.
Kerusakan kawasan konservasi selalu berujung pada ketidakseimbangan. Yang hilang bukan hanya hutan, tapi juga rasa aman.
Ancaman yang Datang Perlahan
Kerusakan TNKS di Jambi tidak terjadi dalam satu malam. Ia muncul dari aktivitas kecil yang dibiarkan: membuka lahan, menebang satu pohon, membangun pondok, lalu berkembang menjadi kawasan garapan.
Selain perambahan, tekanan lain datang dari pembalakan liar, perburuan, serta aktivitas ekonomi ilegal. Semua bergerak senyap, mengikuti celah pengawasan di kawasan yang luas.
Saat hutan terpotong-potong, fungsi ekologis ikut terbelah.
Dari Penyangga Menjadi Risiko
TNKS berperan sebagai pengatur tata air. Ia menyimpan hujan, melepaskannya perlahan ke sungai dan sawah. Ketika tutupan rusak, air tak lagi tertahan. Banjir dan longsor menjadi ancaman nyata.
Di Jambi, kawasan penyangga TNKS juga menopang pertanian dan kehidupan masyarakat. Rusaknya hutan berarti terganggunya rantai kehidupan di luar kawasan.
Apa yang terjadi di dalam TNKS, dampaknya terasa hingga ke hilir.
Menjaga yang Masih Ada
TNKS bukan sekadar kawasan konservasi, melainkan warisan alam Sumatera. Ia menyimpan sejarah, kehidupan, dan masa depan. Kerusakan yang dibiarkan hari ini akan menjadi penyesalan esok hari.
Hutan masih berdiri, meski tak lagi utuh. Masih ada waktu untuk menjaga yang tersisa, memperbaiki yang terluka, dan menghentikan kerusakan sebelum semuanya berubah menjadi cerita masa lalu. Karena TNKS di Jambi bukan hanya milik hutan, tetapi milik generasi yang akan datang.