Normalisasi Sungai Itu Buat Air Tak Lagi Mengamuk
- 23 Okt 2025 21:42 WIB
- Sungaipenuh
KBRN, Sungai Penuh: Hujan deras mengguyur Kota Sungai Penuh sejak pagi. Rintik yang berubah menjadi deras itu biasanya menjadi pertanda cemas bagi warga Kecamatan Tanah Kampung. Dulu, setiap tetes yang jatuh dari langit seperti alarm bencana. Warga menunggu dengan degup jantung tak menentu menanti apakah air akan kembali menyelinap ke rumah-rumah mereka, menggenangi lantai, menenggelamkan harapan, dan memaksa mereka berjaga sepanjang malam.
Namun, kini suasana berubah. Pada Selasa sore itu, saat hujan masih turun di atap rumah kayu milik Erik, seorang warga Tanah Kampung, tidak ada lagi kecemasan.

“Air sekarang cepat surut… tidak lagi banjir seperti dulu. Kami bisa bernapas lega, tidur pun lebih tenang,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca, Kamis (23/10/2025).
Ucapan sederhana itu menyiratkan rasa syukur yang mendalam bukan hanya pada perubahan lingkungan, tetapi juga terhadap hadirnya rasa aman yang selama bertahun-tahun dirindukan masyarakat.
| Baca juga: Ide Warung Modal Terbatas tapi Menjanjikan |
Normalisasi Sungai, Normalisasi Kehidupan
Kota Sungai Penuh selama ini dikenal sebagai daerah yang dikelilingi aliran sungai. Keindahan alamnya kerap menjadi daya tarik wisata, namun di balik itu sungai-sungai kecil kerap menjadi ancaman saat musim penghujan. Sungai Bungkal, Muara Jaya, Air Sempit, hingga Batang Merao semuanya pernah menjadi sumber banjir tahunan yang menelan kerugian material bahkan psikologis warga.
Melihat kondisi itu, Walikota Alfin, SH, bersama Wakil Walikota Azhar Hamzah menginisiasi langkah besar: normalisasi sungai secara menyeluruh. Tidak hanya simbolis, tetapi nyata melibatkan Balai Wilayah Sungai Sumatera VI, Dinas PU Provinsi Jambi, serta koordinasi langsung dengan pemerintah pusat dan Kementerian PUPR.
Program ini meliputi pengerukan sedimen yang menumpuk bertahun-tahun, pelebaran alur sungai, penguatan tebing, hingga pembersihan material sampah. Setiap alat berat yang bekerja, setiap suara mesin pengeruk sungai, sejatinya tengah membangun kembali rasa aman warga.
Bukan Sekadar Infrastruktur, Ini Tentang Rasa Aman
Di Muara Jaya, air yang dulunya menggenang hingga semeter kini hanya mengalir jernih di dasar sungai yang telah dalam. Di Sungai Bungkal, anak-anak kembali bermain di halaman rumah tanpa takut air tiba-tiba meluap.
“Normalisasi ini bukan hanya proyek fisik, tapi bentuk kasih sayang negara kepada rakyatnya,” ujar Walikota Alfin saat meninjau lokasi normalisasi. Menurutnya, menghadirkan rasa aman adalah bagian dari tanggung jawab moral pemerintah.
Dari Air yang Menghanyutkan Menuju Air yang Menghidupkan
Dengan kapasitas aliran sungai yang kini meningkat signifikan, air hujan tak lagi menjadi ancaman, melainkan berkah bagi pertanian dan kehidupan sehari-hari warga.
Program normalisasi ini tidak hanya menjawab persoalan banjir, tetapi juga membuka harapan baru untuk pembangunan berkelanjutan. Pemerintah kota kini tengah menginisiasi kolaborasi lanjutan dengan PUPR untuk memastikan pemeliharaan dan perluasan program ini mencakup seluruh aliran sungai strategis di Kota Sungai Penuh.
Harapan Tumbuh dari Aliran yang Kembali Normal
Seiring surutnya air pada sore itu, senyum warga mulai bermunculan di tepi-tepi sungai. Seperti aliran air yang kembali jernih, kehidupan warga pun mengalir lebih tenang, lebih pasti.
“Kami ingin anak cucu kami tidak lagi tumbuh dalam ketakutan menghadapi banjir. Normalisasi sungai ini adalah warisan peradaban yang berharga,” tutup Erik pelan, memandangi aliran sungai yang mulai memantulkan warna langit senja.
Kini, air tak lagi mengamuk. Ia kembali pada fitrahnya: membawa kehidupan, bukan bencana.
Feature oleh: Desi Hermila
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....