Bupati Merangin Temukan Sekolah di Pelosok tanpa Guru PNS
- 17 Jul 2026 09:40 WIB
- Sungaipenuh
RRI.CO.ID, Sungai penuh - Bupati Merangin M. Syukur menyoroti berbagai persoalan yang masih membayangi dunia pendidikan di Kabupaten Merangin. Dalam rapat koordinasi bersama ratusan kepala sekolah tingkat TK, SD, dan SMP se-Kabupaten Merangin, ia menegaskan bahwa pemerataan kualitas pendidikan harus menjadi perhatian bersama.
Rapat yang berlangsung di Aula Utama Lantai IV Kantor Bupati Merangin, Rabu 15 Juli 2026, menjadi pertemuan perdana Bupati M. Syukur dengan seluruh kepala sekolah sejak memimpin Kabupaten Merangin.
Dalam arahannya, M. Syukur mengajak seluruh kepala sekolah membahas kondisi pendidikan secara terbuka. Menurutnya, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan fasilitas sekolah, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia dan pembentukan karakter generasi muda.
"Persoalan pendidikan bukan hanya soal gedung atau bangku sekolah, tetapi soal generasi, mutu, dan moral. Semua itu membutuhkan kerja sama kita bersama," tegasnya.
Bupati mengungkapkan, kemajuan pendidikan di Merangin belum merata. Ia menilai perkembangan yang signifikan masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan sekolah-sekolah unggulan.
Sebaliknya, sejumlah sekolah di kecamatan terpencil masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik. Bahkan, berdasarkan hasil kunjungan lapangannya, masih ada sekolah yang belum memiliki satu pun guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).
"Masih banyak sekolah di pelosok yang tidak memiliki guru PNS. Betul tidak?" tanya Bupati kepada peserta rapat, yang dijawab serempak, "Betul."
Selain itu, M. Syukur juga menyoroti banyaknya jabatan kepala sekolah yang masih diisi pelaksana tugas (Plt). Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi efektivitas pengelolaan sekolah.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga mengingatkan para guru agar menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, termasuk ketika ditempatkan di daerah terpencil.
Ia menegaskan bahwa profesi guru merupakan bentuk pengabdian yang tidak mengenal batas wilayah.
"Ketika menjadi guru, tidak ada sumpah yang menyebut hanya bertugas di kota. Namun, sampai sekarang belum ada yang meminta ditempatkan di pelosok. Yang ada justru marah ketika ditempatkan di sana," ujarnya.
Pernyataan tersebut disambut senyum dan tawa para kepala sekolah yang hadir.
M. Syukur kemudian membagikan pengalamannya saat mengunjungi salah satu daerah terpencil di Kecamatan Tiang Pumpung.
Saat menyalurkan bantuan banjir, ia bertemu seorang guru perempuan yang tetap mengajar meski tinggal di rumah sederhana dengan fasilitas terbatas.
Menurutnya, dedikasi guru tersebut menjadi contoh nyata semangat pengabdian kepada masyarakat.
"Saya sempat terharu. Beliau mengatakan bahwa mengajar adalah tugasnya untuk membantu masyarakat. Saya berharap semangat seperti itu tetap hidup di hati para pendidik," tutupnya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....