Aktivis Lingkungan Soroti Kerusakan Hutan Kerinci akibat PETI

  • 11 Mar 2026 15:19 WIB
  •  Sungaipenuh

RRI.CO.ID, Sungai Penuh – Aktivis lingkungan Randi Vitora mengeluarkan pernyataan keras terkait masifnya kerusakan hutan di Kabupaten Kerinci. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, ia mengungkap bahwa puluhan hektare hutan, termasuk di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), diduga rusak akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).

Unggahan tersebut menjadi viral dan memicu perhatian publik terhadap kondisi hutan di wilayah Kerinci. Dalam pernyataannya, Randi menegaskan bahwa aparat dan otoritas terkait tidak boleh membiarkan kekuatan modal mengalahkan hukum.

“Negara tidak boleh kalah oleh cukong. Jika birokrasi di tingkat tapak sudah tumpul, jangan salahkan jika publik mulai bergerak mencari keadilan sendiri,” tulis Randi dalam unggahannya, Rabu 11 Maret 2026.

Ia juga mempertanyakan lemahnya pengawasan terhadap aktivitas tambang ilegal, khususnya terkait masuknya alat berat ke lokasi tambang di wilayah Tamiai. Menurutnya, mobilisasi alat berat yang memakan waktu hingga tiga hari perjalanan seharusnya cukup bagi petugas untuk melakukan pencegahan.

“Para penambang dan alat berat tidak turun begitu saja dari langit. Apakah waktu tempuh tiga hari tidak cukup untuk menghentikan? Kita jadi bertanya, seserius apa pengawasan terhadap hutan Kerinci?” ujarnya.

Selain persoalan PETI, Randi turut menyoroti sejumlah isu lain yang menjadi keresahan masyarakat, seperti pengelolaan sampah di jalur pendakian serta dugaan praktik jual beli lahan ilegal di kawasan konservasi.

Ia menilai akumulasi berbagai persoalan tersebut menunjukkan adanya ketidakadilan ekologis yang berpotensi merugikan masyarakat Kerinci secara luas.

“Hutan Kerinci adalah sumber kehidupan, bukan komoditas cukong. Jika pengawasan di tingkat tapak sudah tumpul, maka publik yang harus tajam bersuara,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Balai Besar Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat belum memberikan tanggapan resmi terkait data kerusakan puluhan hektare hutan maupun tudingan pembiaran masuknya alat berat yang disampaikan oleh aktivis tersebut.

Rekomendasi Berita