Belanja Konvensional vs Belanja Online, Mana Disuka?

  • 07 Mar 2026 13:55 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Sebagian masyarakat mulai mengonsentrasikan pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang untuk dinikmati di hari raya Idulfitri atau Lebaran. Neraca pengeluaran pun menjadi penentu terhadap besaran jumlah kebutuhan yang diinginkan atau yang memang urgen untuk suatu kebutuhan.

Belanja, kegiatan yang memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, dengan kemajuan teknologi, pilihan belanja semakin beragam. Ada yang masih setia dengan belanja konvensional, ada juga yang sudah beralih ke belanja online.

Belanja konvensional menawarkan pengalaman langsung, bisa menyentuh dan melihat produk secara langsung, bisa mencoba produk sebelum membeli. Itu kelebihannya yang tidak bisa digantikan oleh belanja online. Selain itu bisa berinteraksi dengan penjual. Atmosfir dari suasana keramaian pusat perbelanjaan menjadi daya tarik tersendiri hingga memunculkan istilah 'cuci mata' , wisata belanja atau shoping.

Sementara itu, belanja online menawarkan kemudahan dan kecepatan, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Namun, ada risiko tidak bisa melihat produk secara langsung dan menunggu pengiriman. Belanja online sepertinya cukup populer, terutama di kalangan generasi muda. Keduanya itu tergantung kebutuhan, kadang-kadang online lebih praktis, kadang-kadang konvensional lebih asah.

"Kalau online, seringnya, beli skin care. Harganya lebih murah dibandingkan dengan toko-toko biasa," kata Khansa sosok anak muda Sungailiat Bangka

"Saya sukanya belanja online kalau beli-beli makanan camilan gitu. Harganya yang murah-murah saja," kata Tiara, sosok remaja putri.

Tiara, sosok remaja putri kerap kali belanja online makanan kue atau camilan (Foto: RRI/LG)

Pengalaman belanja online juga diungkapkan sosok ibu rumah tangga dari Sungailiat, Ita Gustini. Dia berpendapat ada beberapa risiko jika belanja online antara lain: Barang yang dikirim tidak sesuai dengan deskripsi atau pesanan.

"Pernah saya beli daster ukuran M, eh, yang dikirim daster anak-anak. Ya, terima aja risiko. Kalau batal kasihan sama kurirnya, COD bayarnya," kata dia.

Dari itu menurut Ita, risiko lain Proses pengembalian sulit atau biaya pengembalian mahal. Barang yang dipesan pun kadang ada terlambatnya. Bahkan jika barang sampai, barang itu tak sesuai ekspektasi.

Hal yang diungkapkan Ita itu, umumnya bukan rahasia lagi, namun postingan-postingan propaganda dagang, satu di antara daya pikat konsumen. Kekuatan IT dan media mendorong dan memotivasi inovasi dan kreativitas dalam setiap menawarkan produk dagangannya.

Sistem belanja online bisakah menjadi ancaman bagi toko atau gerai fisik ? Namun begitu, banyak toko fisik yang berhasil beradaptasi dengan menggabungkan toko online dan offline (omnichannel), sehingga tidak sepenuhnya menjadi ancaman bagi sistem belanja konvensional.

Rekomendasi Berita