Komisi XII DPR Dorong PLN Optimalkan Pemanfaatan FABA
- 13 Agt 2026 21:51 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Pangkalpinang — Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mendorong PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Bangka Belitung mengoptimalkan pemanfaatan fly ash and bottom ash (FABA) dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai bahan pupuk untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
"Yang namanya FABA yang tadinya merupakan residu, ternyata bisa kita gunakan untuk pupuk. Hasilnya bagus dan biaya pemupukannya murah," kata Bambang usai meninjau pemanfaatan FABA di Bangka Belitung, Kamis 13 Agustus 2026.
Menurut dia, pemanfaatan FABA sebagai bahan pupuk telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, sehingga perlu dikembangkan secara lebih luas dan tidak hanya sebatas uji coba.
Ia mengatakan. Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (Formap) di Bangka Belitung saat ini telah memproduksi pupuk berbahan FABA sekitar 16 ton per hari.
Ia berharap PLN dapat berperan sebagai "orang tua asuh" dalam pengembangan produk tersebut, termasuk membantu proses standardisasi agar pupuk berbahan FABA dapat dipasarkan dan dikembangkan di daerah lain.
"Kalau kita bisa urus SNI-nya, sehingga menjadi terstandarisasi, kemudian bisa dikembangkan di tempat-tempat lain di Indonesia," ujarnya.
Ia menjelaskan penggunaan pupuk berbahan FABA juga telah mendapat sejumlah testimoni positif dari masyarakat. Salah satunya dari petani sawit yang mengaku produksinya meningkat dari sekitar 14 ton menjadi lebih dari 30 ton setelah menggunakan pupuk tersebut.
Selain itu, penggunaan pupuk berbahan FABA untuk tanaman cabai juga dilaporkan mampu membantu tanaman yang sebelumnya mengalami kondisi daun keriting untuk kembali menumbuhkan tunas dan akar baru.
Ia menyebut pupuk berbahan FABA juga memiliki harga relatif murah. Saat ini, satu karung pupuk tersebut dijual sekitar Rp35 ribu, sedangkan pupuk urea disebut memiliki harga jauh lebih tinggi.
"Ini sangat bagus dengan judul pemberdayaan dan ketahanan pangan. Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi satu program nasional, PLN dapat melakukan optimalisasi hilirisasi FABA untuk mendukung pangan," katanya.
Sementara, Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo mengatakan pemanfaatan FABA sebagai bahan pendukung pupuk memiliki potensi besar untuk dikembangkan di sekitar PLTU di seluruh Indonesia.
"Kami akan menjadikan apa yang dilakukan oleh PLN Babel ini sebagai percontohan dan kami akan copy hal ini juga di pembangkit-pembangkit kami di seluruh Indonesia," kata Rizal.
Ia mengatakan potensi FABA yang dihasilkan pembangkit PLN di Bangka Belitung mencapai sekitar 165 ribu ton per tahun. Jumlah tersebut menjadi peluang besar untuk dikembangkan menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Artinya ini peluang yang besar sekali bagi masyarakat sekitar untuk menikmati FABA menjadi sebuah komoditas yang bernilai tinggi," ujarnya.
Rizal menjelaskan produksi FABA PLN secara nasional mencapai sekitar tiga juta metrik ton per tahun. Sementara apabila seluruh PLTU di luar PLN turut diperhitungkan, potensi FABA di Indonesia diperkirakan mencapai 13 juta hingga 20 juta ton per tahun.
Menurut dia, selama ini pemanfaatan FABA umumnya diarahkan untuk kebutuhan konstruksi, seperti pembuatan conblock, batako, dan berbagai kebutuhan pembangunan lainnya.
Namun, pemanfaatan FABA sebagai bahan pupuk menunjukkan adanya peluang baru yang dapat mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan.
"Selama ini kan hanya untuk konstruksi saja, untuk conblock, untuk kegiatan-kegiatan bangunan dan lain-lain. Ternyata ini bisa untuk mendukung ketahanan pangan," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....