Konflik Global Turut Picu Inflasi Bangka Belitung

  • 03 Jul 2026 23:49 WIB
  •  Sungailiat
Poin Utama
  • Inflasi Babel Juni 2026 mencapai 0,35% bulanan dan 2,92% tahunan, dalam target nasional 2,5%±1% dan terendah ketujuh nasional.
  • Kenaikan harga didorong oleh melonjaknya harga minyak dunia akibat konflik Selat Hormuz, penyesuaian harga BBM non-subsidi, dan terbatasnya pasokan daging ayam pasca-Iduladha.
  • Bank Indonesia telah melaksanakan 10 pertemuan tingkat tinggi, 64 operasi pasar murah, dan perluasan kerja sama antar daerah untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

RRI.CO.ID. Pangkalpinang– Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pada Juni 2026 mengalami inflasi bulanan sebesar 0,35 persen (month-to-month/mtm) dan inflasi tahunan sebesar 2,92 persen (year-on-year/yoy).

Ketua Tim Statistik Harga BPS Babel, Desiana Arbani Safari, mengatakan, capaian tersebut membuat inflasi di Babel tetap berada di dalam koridor sasaran target nasional, yaitu 2,5 persen dengan deviasi ±1 persen. Angka ini juga tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata inflasi nasional yang menyentuh 3,34 persen(yoy).

Dengan performa ini, Bangka Belitung sebagai daerah dengan inflasi tahunan terendah ke-tujuh secara nasional sekaligus berhasil mempertahankan stabilitas harga sepanjang semester I 2026.

Secara bulanan (mtm), pergerakan indeks harga pada Juni 2026 utamanya didorong oleh faktor eksternal dan perayaan tradisi lokal. Kenaikan dipicu oleh melonjaknya harga minyak dunia imbas konflik di Selat Hormuz. Hal ini mengerek harga avtur yang berujung pada kenaikan tarif angkutan udara, ditambah adanya kebijakan penyesuaian harga BBM non-subsidi (Pertamax) oleh Pemerintah pada 10 Juni 2026.

Selain itu, tekanan inflasi terjadi pada komoditas daging ayam ras. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan pasca-hari raya Iduladha, di tengah tingginya permintaan warga yang merayakan tradisi menyambut tahun baru Hijriah di Bangka Belitung.

Sementara itu untuk perhitungan tahunan (yoy), andil inflasi terbesar datang dari Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 6,17 persen yang didominasi oleh tingginya harga emas perhiasan akibat ketidakpastian global. Disusul oleh Kelompok Makanan (khususnya komoditas cumi-cumi) sebesar 4,49 persen dan Kelompok Transportasi akibat tarif angkutan udara sebesar 4,20 persen.

Merespons dinamika data dari BPS tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Hingga Juni 2026, sejumlah langkah taktis dan konkret telah dilakukan di antaranya 10 kali hight level meeting di antaranya Pertemuan intensif bersama kepala daerah guna merumuskan formulasi kebijakan yang tepat sasaran agar sektor pangan tidak bergejolak.

Kemudian 64 Kali Pasar Murah Sinergi pelaksanaan Operasi Pasar Murah (OPM) dan Gerakan Pangan Murah demi memastikan warga mendapat pangan layak dengan harga terjangkau lewat prinsip tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat komoditas.

Perluasan Kerja Kerja Sama Antar Daerah (KAD) Mengamankan rantai pasokan bahan pokok masuk ke wilayah kepulauan Babel.

Pendampingan UMKM dan Edukasi Belanja Bijak Pembinaan langsung pada UMKM pertanian serta sosialisasi gerakan belanja bijak sesuai kebutuhan bagi konsumen.

"Penguatan strategi 4K Pengendalian Inflasi diharapkan dapat mengoptimalkan implementasi program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) demi mendukung Program Strategis Nasional," kata Rommy.

Rommy mengingatkan tantangan ke depan tidak mudah karena masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik. Oleh sebab itu, penguatan nilai Optimisme, Komitmen, dan Sinergi (OKS) antarinstansi harus terus dirawat.

“Inflasi yangterjaga stabil ini menjadi modal penting untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tantangan perekonomian dan ketidakpastian global,” ujarnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....