Pemkab Bangka Perkuat Strategi Keberlanjutan Lada Putih

  • 05 Jun 2026 10:12 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Pemerintah Kabupaten Bangka menggelar kegiatan Focus Group Discussion Program Pengabdian kepada Masyarakat, Kamis, 4 Juni 2026. FGD diharapkan memperkuat strategi keberlanjutan komoditas lada putih.

.Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka, Asep Setiawan, mengatakan persoalan lada putih saat ini bukan lagi sekadar isu petani atau isu daerah semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Persoalan lada putih bukan hanya isu petani, daerah maupun isu nasional, tetapi sudah menjadi isu bersama antara akademisi, pemerintah, swasta dan masyarakat,” kata Asep saat membuka kegiatan tersebut.

Asep mengakui sektor perkebunan lada saat ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Mulai dari perubahan iklim, fluktuasi harga pasar global, minimnya regenerasi petani, keterbatasan lahan, hingga tuntutan penerapan praktik perkebunan yang lebih ramah lingkungan.

Karena itu, menurutnya, penyelarasan visi dan langkah antar pemangku kepentingan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perlu pelibatan akademisi, dunia usaha, perbankan, media massa dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci keberlanjutan lada putih Bangka di pasar internasional,” ucapnya.

Sementara, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bangka, Panbudi Marwoto, mengungkapkan salah satu tantangan yang dihadapi sektor perkebunan lada saat ini adalah beralihnya sebagian masyarakat ke sektor pertambangan timah karena dinilai lebih cepat menghasilkan pendapatan dan perkebunan kelapa sawit.

“Banyak masyarakat yang beralih ke timah karena proses menghasilkan uangnya lebih cepat,” ujarnya.

Panbudi menjelaskan, pada masa lalu lada merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia. Namun seiring perkembangan zaman, komoditas tersebut menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ketidakefisienan usaha hingga kondisi pasar yang kurang berpihak kepada petani.

Ia juga menyebutkan sekitar 80 persen ekspor lada Bangka selama ini dikirim ke Singapura. Kondisi tersebut membuat negara tersebut dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan lada dunia karena menerima berbagai jenis kualitas lada dari negara penghasil.

Saat ini, rata-rata kepemilikan lahan petani lada di Bangka hanya berkisar setengah hingga satu hektare. Padahal, sektor perkebunan lada pernah menjadi penopang utama perekonomian daerah.

“Dulu sekitar 33 persen perekonomian Bangka bergantung pada sektor perkebunan, khususnya lada. Karena itu kita ingin agar lada dapat kembali digeliatkan di Bangka,” katanya.

Menurut Panbudi, upaya mengembalikan kejayaan lada putih Bangka hanya dapat dilakukan melalui kerja sama dan sinergi antara pemerintah, akademisi, pihak swasta, serta masyarakat sehingga komoditas unggulan daerah tersebut mampu kembali bersaing dan berkelanjutan di pasar internasional.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....