Literasi Babel Turun, Perempuan Diajak Bangkit Bersama

  • 21 Apr 2026 13:18 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Dalam sesi tanya jawab bersama audiens pada dialog luar studio peringatan Hari Kartini 2026, tema Kartini Masa Kini: Berdaya, Berkarya dan Melek Digital kembali mengemuka. Kegiatan yang digelar di Sekretariat TP PKK Kabupaten Bangka ini menghadirkan diskusi interaktif antara narasumber dan peserta terkait kondisi literasi serta peran perempuan di era digital.

Pegiat literasi dan sastra Bangka Belitung, Ira Esmeralda, memaparkan data terbaru terkait perkembangan literasi di daerah tersebut. Ia menyebutkan bahwa Bangka Belitung sempat menempati posisi tertinggi secara nasional dalam hal minat baca pada tahun 2024.

"Di tahun 2024, Babel berada di posisi nomor satu nasional dalam minat baca. Namun di tingkat daerah, Pangkalpinang dan Belitung masih unggul. Nilai kita saat itu di angka 77,47, di atas rata-rata nasional," ungkapnya.

Namun, capaian tersebut tidak bertahan lama. Ira menjelaskan bahwa pada tahun 2025 terjadi penurunan, meski masih berada di atas rata-rata nasional. Bahkan pada tahun 2026, kondisi literasi Babel mengalami penurunan signifikan hingga keluar dari 10 besar nasional.

"Di tahun 2025 kita turun satu tingkat dengan nilai 52,47, masih di atas rata-rata. Tapi di 2026 kita tidak masuk 10 besar, bahkan berada di bawah rata-rata nasional 48 poin. Ini data rilis Februari 2026. Artinya kita tidak boleh terlena dan harus bangkit bersama,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa penurunan tersebut terjadi secara nasional, sehingga perlu adanya gerakan bersama dalam meningkatkan literasi. Ira mencontohkan pengalaman komunitasnya saat mengunjungi Desa Air Abik, di mana antusiasme masyarakat, terutama anak-anak dan ibu-ibu, sangat tinggi meski akses literasi terbatas.

"Ketika kami datang ke desa, antusiasnya luar biasa. Ini menunjukkan bahwa daerah dengan keterbatasan akses justru punya semangat besar. Ke depan, perlu dukungan dari pemdes dan PKK untuk memberikan pelatihan serta pendampingan berbasis potensi desa," jelasnya.

Dalam sesi diskusi, salah satu audiens dari anggota PKK Kabupaten Bangka, Eka Kartika, menyoroti peran penggiat literasi dalam menjangkau masyarakat dengan keterbatasan fasilitas. Ia juga menyinggung pentingnya keberadaan perpustakaan desa yang aktif dan berkelanjutan.

Menanggapi hal tersebut, Ira mengakui bahwa sebagian desa memang telah memiliki perpustakaan, namun belum dikelola secara optimal.

"Perpusdes sudah ada, tapi koleksi buku masih terbatas dan belum berkembang. Banyak yang berjalan sendiri-sendiri. Kita perlu kolaborasi untuk meningkatkan minat baca masyarakat," katanya.

Sementara itu, audiens lainnya, Elda Handayani dari Pokja 1 TP PKK Kabupaten Bangka, menanyakan kiat agar anak-anak gemar membaca di tengah gempuran teknologi digital. Ira menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun kebiasaan membaca sejak dini.

"Anak harus dibiasakan membaca sejak kecil, dan orang tua harus menjadi contoh. Tidak masalah anak menggunakan gadget, karena itu bagian dari zaman, tapi harus diarahkan, misalnya dengan mengenalkan buku digital,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....