Program Solusi Rehabilitasi Lahan Kritis di Tebat Rasau
- 29 Jan 2026 11:58 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Belitung Timur - Yayasan Tarsius Center Indonesia (TCI) melaksanakan Program Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terpadu di Indonesia (SOLUSI) dengan melakukan penanaman rehabilitasi lahan kritis di Geosite Tebat Rasau, Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang pada Kamis, 29 Januari 2026.
Hal ini sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan berbasis ekosistem. Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam menjaga keseimbangan antara kawasan darat dan laut secara berkelanjutan.
Ketua Yayasan Tarcius Center Indonesia, Budi Setiawan mengatakan Program Solusi ini menetapkan tiga desa berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) Lenggang sebagai lokasi intervensi, yakni Desa Simpang Tiga di hulu sungai, Desa Lintang di bagian tengah, dan Desa Gantung di hilir.
Salah satu bentuk intervensi di Desa Lintang dilakukan melalui pengembangan tanaman rempah berbasis kearifan lokal di kawasan Tebat Rasau. Hal ini dirancang untuk konservasi keanekaragaman hayati atau biodiversity, ruang penelitian berbasis scientific tourism, serta sarana edukasi lingkungan bagi pelajar dan masyarakat. Selain itu, pengembangan ini diharapkan mampu memperkuat sektor kuliner lokal dan mendorong terbentuknya ekowisata sebagai sumber pendapatan berkelanjutan bagi kelompok masyarakat.
"Jadi untuk intervensi di Desa Lintang itu kita selalu menyesuaikan dengan kondisi lokal dan kita melakukan penanaman 16 jenis tanaman lokal yang menjadi bagian dari penguatan ekosistem Desa Lintang ini," kata Budi.
Intervensi tersebut mencakup penanaman 16 jenis tanaman rempah lokal seperti pasak bumi, melantangan, urisan, dan medang, dan sebagainya. Ke depan, program ini juga diarahkan pada pengembangan ekonomi hijau, dan ekonomi biru sebagai bagian dari strategi keberlanjutan Pulau Belitung.
Wakil Bupati Belitung Timur, Khairil Anwar mengapresiasi pelaksanaan kegiatan penanaman dalam Program Solusi yang digagas oleh Yayasan Tarsius Center Indonesia bersama sejumlah komunitas dan mitra konservasi. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan kepedulian nyata terhadap kawasan-kawasan kritis di Belitung Timur.
"Kolaborasi yang dibangun dalam program ini sangat positif dan perlu dijaga keberlanjutannya dan pentingnya keseimbangan antara upaya penanaman dan perlindungan lingkungan, agar tidak terjadi kerusakan yang justru lebih besar," kata Khairil.
Ia juga menyoroti jenis tanaman yang ditanam pada kegiatan tersebut, yang mayoritas merupakan tanaman obat-obatan. Menurutnya, ke depan perlu dilakukan evaluasi agar tanaman yang ditanam benar-benar sesuai dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....