Bangka Pulihkan Kejayaan Lada Putih lewat Sinergi Multipihak

  • 07 Jun 2026 21:20 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Sungailiat - Pemerintah Kabupaten Bangka memulihkan kejayaan lada putih sebagai komoditas unggulan daerah. Pemkab perkuaat sinergi pemerintah, akademisi, dunia usaha, perbankan, media massa, dan masyarakat.

Pemerintah daerah melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bangka membuat Program Pengabdian kepada Masyarakat dengan kolaborator internasional yang digelar untuk membahas strategi keberlanjutan dan pengembangan lada putih Bangka di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor perkebunan saat ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka, Asep Setiawan, mengatakan lada putih memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat Bangka, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan identitas daerah.

"Lada putih bukan sekadar komoditas unggulan bagi Kabupaten Bangka dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ia adalah bagian dari identitas ekonomi, budaya, sejarah panjang nenek moyang kita dan menjadi tulang punggung perekonomian sebagian besar masyarakat di Pulau Bangka,” kata Asep, Minggu, 7 Juni 2026.

Menurutnya, berbagai tantangan seperti perubahan iklim, fluktuasi harga global, keterbatasan regenerasi petani, ketersediaan lahan, hingga tuntutan praktik perkebunan yang berkelanjutan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Karena itu, ia menegaskan pengembangan lada putih tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perlu pelibatan akademisi, dunia usaha, perbankan, media massa dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci keberlanjutan lada putih Bangka di pasar internasional,” ujarnya.

Asep berharap forum diskusi tersebut dapat menghasilkan rekomendasi yang konkret dan berkelanjutan, mulai dari penyelarasan kebijakan antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten, penguatan kelembagaan petani berbasis teknologi dan kearifan lokal, hingga strategi peningkatan nilai tambah lada putih Bangka yang memperhatikan aspek ekonomi, sosial budaya, kelembagaan, dan kelestarian lingkungan.

Wakil Dekan Bidang Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama dan Alumni Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Sri Rahayoe menuturkan, pihaknya ikut terlibat dalam program tersebut dengan menyelaraskan antara akademisi, pemerintah daerah, Bappeda dan OPD serta komunitas petani terhadap roadmap 2025 - 2028 sebagai basis pembangunan daerah.

"Dari urgensi kegiatan ini tentunya didorong oleh kondisi darurat di perkebunan lada," katanya.

Dijelaskan Sri, banyak faktor yang mempengaruhi berkurangnya produksi pertanian lada Bangka, diantaranya faktor degradasi lingkungan, dampak tambang, rusak fungsi lahan yang menjadi media tanam untuk lada ini.

Faktor lain krisis produktivitas dan kesejahteraan tanah sehingga menghambat penyerapan nutrisi secara drastis, untuk itu perlu ada upaya yang dilakukan melalui inovasi di pertanian UGM melakukan pendampingan terhadap pengembangan nantinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....