CKG Datang ke Masjid, Suryatin Tahu Tubuhnya Tak Baik-Baik Saja
- 27 Agt 2026 14:51 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Belitung Timur - Setiap Jumat, Masjid Bangek, Desa Simpang Tiga, Kecamatan Simpang Renggiang, Kabupaten Belitung Timur, menjadi tempat Suryatin menunaikan ibadah sekaligus bertemu dengan warga lainnya.
Tidak ada keluhan yang membuat pria berusia 63 tahun itu merasa perlu memeriksakan kesehatan. Sebelumnya, ia bahkan mengaku belum pernah mendatangi fasilitas kesehatan hanya untuk memastikan kondisi tubuhnya.
Namun, Jumat itu, petugas UPT Puskesmas Simpang Renggiang sedang membuka layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) melalui program Jumat Keliling atau JULING di Masjid Bangek.
Dengan langkah kaki perlahan, Suryatin pun mencoba memeriksakan diri dan keputusan sederhana itu justru membuatnya mengetahui sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari. Tekanan darahnya tercatat 179/88 mmHg, sedangkan kadar kolesterol total mencapai 241. Hasil pemeriksaan menunjukkan ia mengalami hipertensi dan hiperlipidemia.
“Awalnya saya ya merasa sehat, tidak ada rasa sakit, pusing, atau apalah itu. Namun, pas saya mau jumatan ada orang puskesmas kecamatan yang buka layanan CKG, saya daftar, dan barulah saya tahu hasilnya ternyata ada hipertensi dan hiperlipidemia," kata Suryatin, Rabu, 26 Agustus 2026.
Bagi Suryatin, kedatangan petugas kesehatan ke masjid bukan sekadar membuat pemeriksaan menjadi lebih dekat. Pemeriksaan itu membuatnya mengetahui kondisi tubuh yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.
Kini kebiasaannya berubah. Suryatin mulai rutin melakukan pemeriksaan kesehatan melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer atau ILP setiap bulan. Pemeriksaan yang semula tidak pernah menjadi bagian dari rutinitasnya, kini justru menjadi sesuatu yang ia tunggu untuk memastikan kondisi kesehatannya tetap terpantau.
Kisah Suryatin menunjukkan satu persoalan yang kerap muncul dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan: seseorang bisa merasa sehat karena tidak merasakan sakit, sementara masalah kesehatan di dalam tubuh belum tentu memberikan tanda yang mudah dikenali.
"Sekarang lebih sering kontrol di Posyandu di Bangek ini lah dan Alhamdulillah berkat CKG saya bisa tau penyakit ini dan langsung diberi arahan petugas puskesmas untuk pengobatan lanjutan," ujarnya.
Di titik itulah pemeriksaan menjadi penting. Bukan menunggu sakit, tetapi mencari tahu lebih awal.
Menjemput yang Sulit Dijumpai
Bagi UPT Puskesmas Simpang Renggiang, pengalaman Suryatin bukan satu-satunya cerita. Di balik kesibukan warga dan tenaga kesehatan, ada Winda Lestari, Kepala UPT Puskesmas Simpang Renggiang yang memastikan layanan CKG ini bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya.
Salah satunya melalui Program JULING yang dirancang untuk mendekati kelompok masyarakat yang selama ini sulit ditemui di fasilitas pelayanan kesehatan pada jam kerja.
Masjid dipilih sebagai salah satu titik karena menjadi tempat berkumpulnya warga, termasuk bapak-bapak yang sebagian besar beraktivitas atau bekerja pada siang hari.
“Bapak-bapak yang sulit meninggalkan pekerjaan untuk memeriksakan kesehatan kini dijemput ke masjid. Dari pemeriksaan itu, ditemukan masalah kesehatan yang sebelumnya tidak mereka sadari,” kata Winda.
Dalam satu kegiatan JULING, petugas dapat melayani sekitar 30 hingga 40 warga. Hingga pelaksanaannya di sembilan masjid, program tersebut telah menjangkau 235 warga se Kecamatan Simpang Renggiang.
Angka itu bukan sekadar jumlah orang yang datang untuk diperiksa. Di dalamnya terdapat warga yang mungkin sebelumnya merasa sehat, warga yang sulit meninggalkan pekerjaan, serta mereka yang baru mengetahui adanya faktor risiko kesehatan setelah dilakukan pemeriksaan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan di empat desa dalam wilayah kerja Puskesmas Simpang Renggiang, hipertensi menjadi temuan terbanyak dengan 73 warga. Selain itu, tercatat 39 warga mengalami hiperurisemia, 21 warga hiperlipidemia, empat warga hiperglikemia, serta 52 warga memiliki kebiasaan merokok.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak hanya berbicara tentang ada atau tidaknya penyakit. Pemeriksaan juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengetahui faktor risiko yang dimiliki seseorang.
“Kadang masyarakat merasa sehat, merasa baik-baik saja karena tidak ada keluhan. Tapi setelah kita datangi dan dilakukan pemeriksaan, baru diketahui ada masalah kesehatan. Dari situ kita anjurkan untuk kontrol dan melakukan pemeriksaan secara rutin,” ujar Winda.
Bagi warga yang ditemukan memiliki faktor risiko atau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, Puskesmas tentunya memberikan anjuran untuk melakukan kontrol rutin. Pelayanan lanjutan dapat dilakukan di Puskesmas maupun Posyandu. Dengan begitu, hasil pemeriksaan tidak berhenti sebagai angka di lembar hasil skrining.
Dari Masjid, Warung Kopi hingga Meja Goyang
Upaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat juga terus digencarkan Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Timur.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belitung Timur, Dianita Fitriani, terus menggenjot capaian CKG di masing-masing Puskesmas. Berbagai strategi dilakukan untuk mempercepat capaian CKG itu.
Pelayanan tidak hanya mengandalkan masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga mendatangi tempat-tempat yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, seperti di Warung Kopi dan lokasi Meja Goyang.
“Di mana pun ada pusat komunitas atau tempat masyarakat berkumpul, kita coba lakukan pemeriksaan cepat. Kalau ada kekurangan, ditindaklanjuti dan dikirim lagi ke Puskesmas,” ujar Dianita.
Berdasarkan data per 22 Agustus 2026, capaian CKG Kabupaten Belitung Timur berada di angka 35,81 persen. Angka tersebut masih di bawah target pemerintah daerah sebesar 65 persen dengan total kehadiran 47.788 warga.
Di tengah upaya mengejar target, Dinas Kesehatan juga menghadapi persoalan lain. Sebagian masyarakat sudah mendaftar CKG, tetapi belum datang untuk menjalani pemeriksaan.
Ada yang masih berstatus waiting dalam sistem karena belum menentukan waktu pemeriksaan. Ada pula yang sudah datang dan menjalani pemeriksaan.
"Bahkan ada masyarakat yang ingin CKG, namun mereka tidak membawa kartu identitas atau bahkan ada yang sudah melakukan CKG berulangkali. Hal itu tetap kami layani, namun pastinya tidak bisa diinput salam sistem," ujarnya.
Artinya, tantangan CKG bukan hanya membuat masyarakat mengetahui adanya layanan, tetapi memastikan mereka benar-benar hadir dan menyelesaikan pemeriksaan dan mendapatkan penanganan setelah pemeriksaan. Sebab, menemukan masalah kesehatan tanpa tindak lanjut tidak akan cukup untuk mengubah kondisi seseorang.
Cegah Dini, Jangan Berhenti di Skrining
Dianita mengatakan sejumlah faktor risiko masih banyak ditemukan dalam pemeriksaan kesehatan masyarakat. Di antaranya kurangnya aktivitas fisik, obesitas, hiperlipidemia, hipertensi, dan diabetes.
Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang masih dominan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan bukan hanya untuk menemukan penyakit, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengenali risiko dan mendorong perubahan perilaku.
Namun, menemukan masalah kesehatan bukanlah akhir dari proses. Masyarakat yang berdasarkan hasil pemeriksaan membutuhkan penanganan akan diarahkan ke fasilitas pelayanan kesehatan, terutama Puskesmas.
Jika kondisi masih dapat ditangani di tingkat Puskesmas, pelayanan dan pengobatan dilakukan di sana. Sementara masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut akan mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan sesuai kondisi dan kebutuhan medis masing-masing.
Dianita menegaskan CKG tidak boleh berhenti pada pemeriksaan atau skrining. “Pemeriksaan atau screening itu tidak boleh berhenti di situ. Hasilnya harus ditindaklanjuti supaya masyarakat yang ditemukan memiliki masalah kesehatan bisa segera mendapatkan penanganan,” kata Dianita.
Pada akhirnya, Cek Kesehatan Gratis bukan sekadar tentang datang, diperiksa, lalu menerima hasil. Lebih dari itu, CKG adalah kesempatan untuk mengenali tubuh sebelum terlambat, mengambil langkah ketika masalah ditemukan, dan memastikan penanganan benar-benar dilakukan.
Sebab, kesehatan sering kali baru terasa begitu berharga ketika mulai hilang. Maka, sebelum tubuh memberi tanda yang lebih keras, ada baiknya kita lebih dulu mendengarkannya
Cegah dini bukan sekadar mengetahui penyakit sebelum terlambat. Cegah dini adalah memberi diri sendiri kesempatan untuk bertindak lebih cepat. Dan tuntas obati berarti memastikan kesempatan itu tidak berhenti pada sebuah hasil pemeriksaan
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....