Merawat Toleransi di Nusantara yang Bhineka
- 10 Feb 2026 19:40 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Bangka : Perasaan kesukuan yang berlebihan atau primordialisme menjadi hal yang sangat rentan terjadi di Indonesia. Indonesia memang dikenal sebagai negara yang memiliki beragam suku, agama, budaya, ras dan etnis sehingga paham primordialisme kian mudah berkembang.
Ketika sudah terwujud dalam bentuk sikap primordial, maka hal itu dapat memicu diskriminasi, konflik, kurangnya objektivitas ilmu pengetahuan, konflik, serta menghambat hubungan antar kelompok. Meski di sisi lain, sikap primordial dapat dengan mudah memunculkan rasa cinta, setia, dan juga patriotisme pada diri seseorang.
Menurut Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bangka, Husin Djais, ancaman primordialisme di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama. Sukuisme di Indonesia memang cukup kental, yang sudah tercipta sejak zaman kolonial Belanda, Jepang, dan seterusnya.
Namun khusus di Bangka Belitung yang juga terdiri dari berbagai latar belakang masyarakatnya, dia melihat situasinya dapat terjaga dengan harmoni, meski diakuinya potensi munculnya primordialisme tetap ada.
“Saya melihat sebagai Ketua FKUB, di Bangka Belitung Saya kira masih relatif aman ya, tapi kita harus tetap hati-hati karena kalau tidak datang dari dalam biasanya datang dari luar yang bersifat provokatif. Harus kita hindari secara bijaksana tentunya,” katanya kepada RRI, di Sungailiat, Selasa, 10 Februari 2026.
Untuk meredam segala potensi konflik di tengah masyarakat, selama ini FKUB Kabupaten Bangka terus membangun kerjasama dengan semua pihak, sembari terus membangun komunikasi yang baik antar pemuka agama dan juga masyarakat.
"Sebagai sebuah bangsa kita harus lebih menekankan adanya suatu kerjasama dan toleransi yang jernih, yang bersih gitu. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja,” ujarnya.
Sementara, Sejarawan dan Budayawan Bangka Belitung, Dato' Akhmad Elvian DPMP, CECH, menjelaskan, jika orang Bangka Belitung adalah masyarakat penghuni bandar pesisir, yang wilayah teritorinya terdiri dari daratan, pulau kecil, dan pesisir (lautan).
“Nah konsekuensi logis sebagai wilayah kepulauan ini, masyarakatnya begitu terbuka, yang siap menerima pengaruh, siap menerima siapa pun yang datang selama tidak merusak adat istiadat, tatanan masyarakat Bangka Belitung,” ucap pria yang juga Sekretaris Lembaga Adat Melayu Bangka Belitung ini.
Meski di Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari bermacam latar belakang, kultur toleransi begitu terjaga. Dalam catatan sejarah hal itu disebut Akhmad Elvian bisa dilihat bagaimana harmoninya kehidupan masyarakat di Bangka Belitung, antar pribumi dengan orang yang datang.
"Ada kedatangan orang-orang Tionghoa di Bangka diterima masyarakat pribumi dan terjadi 'kawin-mengawin' sehingga lahirlah peranakan Tionghoa-Bangka. Lalu kedatangan sekitar 5.000-an orang-orang dari Semenanjung Melayu ke Pulau Bangka di tahun 1734 terjadi juga ‘pembauran’ itu. Terus kedatangan orang-orang Bugis yang datang ke Bangka sekitar tahun 1729 yang membangun koalisi dengan pribumi Bangka. Artinya begitu dinamis masyarakat Bangka Belitung ini,” ujarnya.
Tak ada kebudayaan maupun keyakinan yang dapat lebih dibanggakan dibanding keyakinan hidup saling toleransi dan saling menghormati di lingkungan yang majemuk.
Sebagai bangsa Indonesia kita harus bangga karena kemajemukan adalah tantangan tersulit yang dihadapi seluruh bangsa di dunia, namun ternyata mampu diterapkan dengan baik di Bumi Pertiwi, dengan selalu berpedoman pada Pancasila dalam semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.