Asal Usul Nama Sungailiat dan Pentingnya Toponimi
- 05 Jun 2025 12:25 WIB
- Sungailiat
KBRI, Sungailiat: Adagium menyebutkan "Apalah arti sebuah nama". Tidak demikian bagi seorang sejarawan Bangka Belitung Ahmad Elvian.
Sebagai sejarawan, dia pun menguraikan hasil studi kesejarahannya tentang asal muasal nama Sungailiat. Kota kecil yang menjadi ibu kota Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu, menurut Ahmad Elvian berasal dari dua nama yakni; kata Sungai yang berarti aliran air, dan Liat berasal dari kata Liet yang merupakan nama ikan.

Rekaman Dialog "Sejarah Penamaan Wilayah Geografis di Pulau Bangka" di RRI Sungailiat (4/6/2025). Foto (Taufan/RRI)
Ikan Liat diduga banyak hidup di daerah Sungai di daerah yang kini merupakan wilayah Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan menjadi ciri khas yang dikenal masyarakat. Akhmad Elvian menyatakan, penamaan satu daerah sangat bisa berhubungan dengan flora dan fauna yang hidup di suatu tempat.
"Jadi ikan Liat itu ada di Bangka, ada di Sumatera, ada di pulau Leat, dan ada juga di pulau Jawa. Kenapa ikan ikan tersebut ada di sungai itu, karena dulu di masa sebelum es mencair, dulunya wilayah Jawa, Sumatera, termasuk Bangka adalah satu daratan yang kita kenal dengan nama Paparan Sunda dan Paparan Sahul," jelas Akhmad Elvian usai mengikuti program Obrolan Budaya, dengan tema "Sejarah Penamaan Wilayah Geografis di Pulau Bangka" di RRI Sungailiat (4/6/2025).
Tidak hanya itu penamaan di suatu daerah, juga erat hubungannya dengan aktivitas masyarakat atau sejarah di masa lalu. Seperti nama daerah Toboali, yang merupakan teknik penambangan timah masyarakat di masa lalu.
Penamaan tempat atau Toponimi, menurut Akhmad Elvian sangat penting dilakukan. Menurutnya penamaan tempat dapat memudahkan dalam aktivitas pembangunan dan pengembangan suatu wilayah.
"Saya beri contoh, misalnya Sungai Pangkalpinang, ada anak sungainya atau aik aik, sekarang aik aik itu sudah hilang karena dibangun pemukiman. Ketika air laut pasang atau hujan lebat, wilayah aik tadi sebagai resapan air sudah tidak ada lagi, sehingga timbulah musibah banjir," jelasnya.
Kendati demikian, pencarian terhadap asal usul nama daerah bukanlah hal yang mudah. Para penulis buku yang melakukan riset, kerap mengalami kendala untuk mencari data atau informasi yang valid.
"Kami akan terus mencari sumbernya (asal usul nama daerah), kira kira asal nama itu apa, dan harus belajar lebih giat lagi, juga harus ditanya dengan orang orang di kampung," jelas Meilanto, penulis buku bertema sejarah dan budaya Bangka Belitung, yang juga turut dihadirkan di dialog. [Taufan/RRI]