Mengurai Konflik Manusia-Buaya di Bangka Belitung
- 22 Mei 2025 10:11 WIB
- Sungailiat
KBRN, Bangka : Ratusan sungai terdapat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang rata-rata merupakan habitatnya buaya muara, dan memiliki arti sangat penting bagi sebagian masyarakat.
Sungai merupakan sumber nafkah, baik bagi nelayan, penambang timah, dan dewasa ini, hulu sungai pun banyak berubah fungsi menjadi lokasi perkebunan skala besar.
Sebelum era reformasi 1998, sungai di wilayah penghasil timah terbesar di dunia ini hanya dimanfaatkan masyarakat nelayan mencari ikan. Namun sejak awal reformasi hingga detik ini, pemanfaatan sungai seolah 'direformasi' juga. Penambangan timah ilegal bebas merambah setiap jengkal area daerah aliran sungai seperti tak terkendali.
Akibat yang ditimbulkan dari eksploitasi timah ilegal di daerah aliran sungai ini bisa ditebak, sungai rusak parah, nelayan kesulitan mencari ikan dan akhirnya penghuni alam sekitar sungai mencari pelampiasan akibat habitatnya diganggu, termasuk hewan predator buaya.
Adanya tumpang tindih ruang aktivitas yang berdampak pada perubahan kondisi sungai yang demikian parah, tak pelak menimbulkan konflik yang tidak dapat dihindari antara buaya muara dengan manusia di Bangka Belitung. Lebih mengerikan lagi, bukan hal aneh jika buaya muara yang ganas itu sampai muncul dan 'bermain-main' ke lokasi wisata pantai yang bertebaran di Bangka Belitung hingga membuat pengunjung pantai pun harus ketakutan.
Ratusan sudah kasus konflik buaya dan manusia terjadi di Kepulauan Bangka Belitung sejak tahun 2016 dan sudah ratusan manusia pula yang menjadi korban. Hal itu berdasarkan data resor konservasi wilayah 18 Bangka BKSDA Sumatera Selatan.
Terjadinya tumpang tindih fungsi ruang ini menjadikan situasi pelik. Mau tak mau harus ditemukan solusi nyata agar keberlangsungan buaya bisa terjaga, dan kepentingan manusia juga terakomodir.
"Ya mau tak mau kita harus memilih sebenarnya, walaupun memang harusnya ada jalan tengah keberlangsungan buaya atau keberlangsungan hidup manusia. Buaya itu sebenarnya tidak mau menyerang manusia, namun memang karena habitatnya terganggu, rusak," kata Ketua Lembaga Konservasi Pusat Penyelamatan Satwa Alobi Foundation, Langkasani, Kamis (22/5/2025).
Langkasani mencatat, dari sejumlah kasus konflik buaya dan manusia yang ditangani pihaknya bersama BKSDA Sumatera Selatan, yang menjadi pemicu utama adalah rusaknya daerah aliran sungai (DAS) yang menjadi habitat buaya dampak aktivitas pertambangan timah ilegal yang merambah hampir di seluruh sungai di Kepulauan Bangka Belitung.
Hal itu terbukti dari beberapa kegiatan evakuasi buaya yang dilakukan pihaknya. Di kisaran area evakuasi selalu terdapat tambang timah ilegal. Sayangnya menurut langkah Sani, para pihak seakan menutup mata atas kehancuran alam tersebut.
"Kita duga faktor daerah aliran sungai sebagai habitat dari buaya itu sudah sangat rusak. Pertikaian manusia dengan buaya ini kalau kami nilai sudah menjadi bencana," ucap Langkasani.
Secara spesifik belum ada angka pasti terkait jumlah populasi buaya muara di Kepulauan Bangka Belitung. Tetapi data BKSDA Sumatera Selatan wilayah Bangka menyatakan ada puluhan kantong habitat yang tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung Timur, dan Belitung.
Ratusan kasus serangan buaya ke manusia sudah terjadi dan puluhan nyawa manusia turut jadi korban. Dan salah satu yang beruntung masih bisa diselamatkan dari terkaman ganas buaya muara ini adalah Ketua DPRD Kabupaten Bangka, Iskandar. Peristiwa yang menimpa Iskandar terjadi pada 1 November 2021 silam, cukup menghebohkan jagat Bangka Belitung.
Saat sedang mencuci tangan di selokan air yang berada di kebun sawit miliknya di Merawang, Kabupaten Bangka, kaki kirinya sempat digigit buaya. Namun gigitan itu bisa dilepaskan meski meninggalkan luka menganga.
"Waduh kalau ingat kejadian itu, kepala buaya pun masih terngiang-ngiang di mata saya. Masih beruntung saya bisa selamat, masyarakat untuk waspada jika beraktivitas di sekitar sungai dan sejenisnya," kata Iskandar.
Salah satu daerah di Kepulauan Bangka Belitung yang paling banyak terjadi kasus pertikaian manusia dengan buaya yakni Kabupaten Belitung Timur. Bahkan masalah ini dianggap sangat darurat sehingga pernah sampai membuat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Belitung Timur menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama para dukun atau pawang buaya se-Pulau Belitung, "khusus" membahas konflik manusia dengan buaya' pada Selasa, 22 Juni 2021 silam.
Anggota DPRD Belitung Timur, Japri menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa membiarkan masalah ini terus terjadi. Harus ada langkah dan solusi penanganan yang tepat agar masyarakat bisa melakukan aktivitasnya dengan aman dan tenang.
"Harus ada langkah dan solusi penanganan agar masyarakat bisa melakukan aktivitas kehidupannya dengan tenang dengan penanganan buaya itu diadakan pertemuan disampaikan kepada masyarakat apakah nanti ada penanganan dari bumbu rambu atau ingatan di daerah rawan buaya atau nanti ada tindakan untuk penangkaran buaya," tegasnya.
Tak hanya para Wakil Rakyat di Belitung Timur saja yang bereaksi terhadap konflik manusia dengan buaya. Semangat untuk menyudahi konflik ini pun membuat tokoh adat atau dukun kampung se-Kabupaten Belitung Timur angkat bicara dan mengadakan pertemuan. Ketua Tokoh Adat Pulau Belitung, Mukti Maharib mengungkapkan pertemuan ini berangkat dari kegelisahannya melihat fenomena manusia diterkam buaya yang kerap terjadi.
"Di Pulau Belitung ini adat dan tradisi masih sangat terasa kental. Maka ketika ingin bertindak harus berpaham secara adat sehingga tidak terjadi ketersinggungan. Semoga dengan adanya pertemuan ini bisa berkontribusi terhadap penyelesaian masalah buaya dan manusia serta para dukun bisa kompak kembali," ujar Mukti.
Buaya merupakan predator yang berbahaya. Buaya memang reptil pemburu yang hebat. Akan tetapi mereka hanya akan berburu jika ada kesempatan dan lapar.
Perlu juga dipahami bahwa pada dasarnya buaya tidaklah memangsa manusia. Adanya konflik antara manusia dan buaya itu semata karena tidak ada lagi jarak antara keduanya. Karena habitat dirusak, buaya muara mencari tempat yang masih baik. Upaya mitigasi tak lagi bisa dikesampingkan, dan yang dapat dilakukan pemerintah setempat adalah memasang papan himbauan, bahwasanya lokasi tersebut habitat buaya di samping terus memberikan edukasi terhadap masyarakat.
Manusia harus ingat jika buaya juga memiliki peran penting walaupun sering dianggap sebagai pengganggu. Buaya muara itu memiliki fungsi luar biasa dalam sebuah ekosistem yaitu sebagai top predator. Yang perlu ditanamkan kini, kesadaran untuk saling memiliki sesama makhluk hidup, manusia, hewan dan tumbuhan. Manusia bisa saja berdampingan dengan buaya tanpa harus menimbulkan masalah, selama aturan-aturan yang ada dipatuhi oleh manusia.
Hidup berdampingan dengan sang predator buaya muara mengharuskan kita untuk memahami perilaku dan menjaga perilaku saat berada di sekitar mereka, bukan malah menghancurkan habitatnya. Dengan demikian, "Mengurai Kusut Konflik Manusia dan Buaya", bukan bualan semata.