JFX: Tren Harga Timah Dunia Bersifat Sementara

  • 19 Mei 2026 14:07 WIB
  •  Sungailiat
Poin Utama
  • Kenaikan harga komoditas timah

RRI.CO.ID, Pangkalpinang- Gejolak geopolitik global dinilai menjadi faktor utama yang mendongkrak kenaikan harga komoditas saat ini, termasuk timah. Kendati demikian, tren kenaikan harga komoditas tersebut diprediksi bersifat sementara (temporary).

Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX), Yazid Kanca Surya, mengatakan, para pelaku usaha timah di dalam negeri yang telah mengantongi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta siap melakukan ekspor untuk segera memanfaatkan momentum harga tinggi ini.

"Bagi pelaku usaha yang sudah siap ekspor dan punya RKAB-nya, momentum saat ini harusnya menjadi lebih menarik. Sebab, harga tinggi seperti sekarang biasanya tidak bertahan selamanya," ujar Kanca di Pangkalpinang, Selasa 19 Mei 2026.

Yazid menjelaskan, lonjakan harga komoditas global belakangan ini sangat dipengaruhi oleh eskalasi konflik di wilayah strategis, seperti situasi di Selat Hormuz yang menghambat distribusi minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak bumi di atas USD 100 per barel secara otomatis mengerek biaya transportasi global dan memicu kenaikan harga komoditas lainnya.

"Faktor utamanya ada dua, yaitu pergerakan harga minyak bumi dan nilai tukar Rupiah. Kalau Rupiah melemah, harga komoditas tujuan ekspor kita tentu akan meningkat. Namun, jika nanti tercapai gencatan senjata dan situasi mereda, harga minyak bumi diprediksi bisa turun kembali ke level USD 80-an, dan harga komoditas lain akan ikut menyesuaikan ke tingkat yang lebih rendah," ucapnya.

Saat ini, sekitar 95 persen dari total produksi timah Indonesia dialokasikan untuk pasar ekspor. China masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi timah Indonesia karena masifnya pertumbuhan industri elektronik dan pabrik kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di negara tersebut.

Selain China, permintaan signifikan juga datang dari negara produsen elektronik lain seperti Korea Selatan. Ketika disinggung mengenai penguatan pasar lokal melalui program hilirisasi, Yazid mengakui, serapan pasar domestik saat ini masih relatif kecil. Hal ini disebabkan karena jumlah industri hilir pengguna timah di dalam negeri yang masih sangat terbatas.

Menurutnya, penguatan industri hilir domestik memang harus terus ditingkatkan secara bertahap, namun proses tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Penetrasi pasar untuk industri hilir itu memerlukan waktu dan proses yang panjang, tidak bisa instan. Oleh karena itu, di tengah fluktuasi permintaan global saat ini, memanfaatkan momentum pasar ekspor yang sedang tinggi merupakan langkah strategis yang perlu diambil oleh para pembisnis komoditas saat ini," ujarnya.

Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) Babel, mencata Nilai Ekspor Provinsi Bangka Belitung Maret 2026 sebesar 211,30 juta US dollar naik sebesar 2,88 persen dibanding Maret 2025.

“Ekspor timah pada Maret 2026 mencapai 197,31 juta US dollar. Jika dibandingkan tahun sebelumnya (y on y), pada Maret 2025 nilai ekspor timah 179,72 juta US dollar naik sebesar 9,79 persen,” kata Kepala BPS Babel, Sugeng Arianto.

Nilai impor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bulan Maret 2026 sebesar 643,00 ribu dollar. Nilai impor Januari-Maret 2026 sebesar 755,07 ribu US dollar. mengalami penurunan sebesar 53,36 persen dibandingkan dengan periode yang sama Januari-Maret 2025 (c to c ).

“Neraca perdagangan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada bulan Maret 2026 mengalami surplus sebesar 210,66 juta US dollar,” ujar Sugeng.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....