Konflik Gelopolitik di Timteng Belum Berdampak terhadap Ekspor Timah
- 06 Mar 2026 14:41 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID, Pangkalpinang- Perusahaan bursa menyatakan konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah (Timteng) saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekspor timah Indonesia.
Direktur Utama Jakarta Futures Exchange (JFX), Yazid Kanca Surya, mengatakan, hal ini dikarenakan mayoritas pangsa pasar ekspor timah nasional masih didominasi oleh China.
"Tujuan ekspor kita sebagian besar ke China, jadi seharusnya untuk daerah sana (Timur Tengah) relatif tidak banyak terpengaruh," kata Kanca, Jumat 6 Maret 2026.
Meski demikian, Kanca mengakui sempat terjadi lonjakan harga yang cukup drastis menyusul peristiwa penyerangan pada 28 Februari lalu. Menurutnya, kenaikan harga timah tersebut lebih dipicu oleh sentimen pasar global yang mengikuti kenaikan harga emas.
"Harga timah naik hampir 10 dolar AS. Meski timah bukan logam mulia (precious metal), biasanya logam-logam lain ikut terkerek naik mengikuti emas," katanya.
Terkait langkah antisipasi, Kanca menjelaskan, selama konflik tidak meluas ke wilayah Asia, proses distribusi dan permintaan dari China relatif aman. Indonesia sendiri merupakan produsen timah nomor dua terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 1.4 persen dari total produksi global.
Sementara, Direktur Utama Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Budi Susanto, menegaskan komitmennya untuk terus mendukung administrasi perdagangan di bursa.
Namun, ia menyoroti kendala teknis yang saat ini dihadapi industri, yakni terkait realisasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
"Kami berharap RKAB bisa segera direalisasikan dan turun semua. Saat ini masih banyak yang belum terbit, kemungkinan masih dalam proses perizinan di kementerian," kata Budi.
Keterlambatan izin RKAB ini diakuinya, berdampak pada volume produksi yang belum bisa maksimal. Berdasarkan siklus tahunan, izin tersebut biasanya baru akan keluar secara menyeluruh pada periode Maret hingga April.
Budi juga menyampaikan kekhawatirannya jika konflik geopolitik berlangsung dalam jangka panjang. Menurutnya, perang yang berlarut-larut dapat memicu penurunan pertumbuhan ekonomi global yang berujung pada merosotnya permintaan industri terhadap komoditas timah.
"Harapan kita perangnya tidak meluas dan tidak lama. Jika terlalu lama, pertumbuhan ekonomi dan industri bisa turun, yang akhirnya membuat permintaan timah ikut merosot," katanya.