Masa Depan Terancam Anak Putus Sekolah Babel
- 02 Mar 2026 06:52 WIB
- Sungailiat
RRI.CO.ID,Sungailiat - Fenomena anak putus sekolah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Di balik angka statistik, tersimpan beragam persoalan yang saling berkelindan, mulai dari ekonomi keluarga hingga persoalan sosial di lingkungan sekitar anak. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan masa depan generasi muda di daerah penghasil timah tersebut.
Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Bangka Belitung, Imelda Handayani, mengungkapkan bahwa kasus anak putus sekolah tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. “Banyak faktor yang akhirnya membuat anak berhenti sekolah. Pertama, faktor ekonomi keluarga yang belum stabil,” ujarnya saat diwawancarai di Bangka Belitung Pagi di Programa 1 RRI Sungailiat.
Menurut Imelda, tekanan ekonomi kerap memaksa anak ikut membantu orang tua mencari penghasilan. Di sejumlah wilayah Bangka, anak-anak bahkan terlibat dalam aktivitas tambang timah tradisional. “Mereka ikut orang tua mencari timah. Anak kemudian berpikir, lebih baik bekerja dan mendapatkan uang dibandingkan sekolah yang hasilnya belum tentu langsung dirasakan,”Ujarnya.
Selain faktor ekonomi, lingkungan juga berperan besar. Pergaulan yang kurang kondusif membuat anak menjadi malas belajar. Lingkungan yang tidak mendukung pendidikan, kata Imelda, perlahan membentuk pola pikir bahwa sekolah bukanlah prioritas utama. Kurangnya dorongan dari sekitar membuat anak kehilangan semangat untuk melanjutkan pendidikan.
| Baca juga: Pemuda Babel Bergerak Jaga Sungai Cerudik |
Faktor pergaulan bebas dan minimnya motivasi dalam diri anak turut memperparah situasi. Imelda menilai, sebagian anak tidak memiliki role model atau figur pendukung yang bisa menguatkan tekad mereka untuk bertahan di bangku sekolah. “Motivasi internal anak sangat penting. Jika tidak ada dukungan keluarga dan lingkungan, anak mudah menyerah,” ungkapnya.
Tak kalah penting, kasus perundungan atau bullying di sekolah juga menjadi pemicu anak memilih berhenti belajar. Tekanan psikologis akibat ejekan atau kekerasan dari teman sebaya membuat anak merasa tidak nyaman berada di lingkungan sekolah. Dalam beberapa kasus, anak lebih memilih keluar daripada terus mengalami tekanan mental.
Sementara itu, seorang pendengar RRI dari Sungailiat, Bangka, Rima ,menyampaikan keprihatinannya. Ia menilai perlu ada pendekatan yang lebih humanis kepada keluarga kurang mampu. “Kadang orang tua tidak sepenuhnya salah. Mereka juga terdesak kebutuhan. Mungkin pemerintah dan sekolah bisa lebih aktif memberi beasiswa atau pendampingan supaya anak tetap sekolah,”Ungkapnya.
Imelda menegaskan, persoalan anak putus sekolah harus ditangani secara kolaboratif. Pemerintah daerah, sekolah, orang tua, hingga komunitas masyarakat perlu duduk bersama mencari solusi berkelanjutan. “Anak adalah aset daerah. Jika dibiarkan putus sekolah, dampaknya bukan hanya pada individu, tapi juga masa depan Bangka Belitung,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....