Galangan Tradisional Sedang Tersengal
- 29 Sep 2026 21:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Galangan kapal tradisional Indonesia masih bertahan di berbagai wilayah meskipun mengalami keterlambatan dalam persaingan industri perkapalan modern yang didominasi Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Jerman, dan Italia.
- Sentra galangan kapal tradisional terbesar berada di pantura Jawa, khususnya Batang (Jawa Tengah), dengan galangan lainnya tersebar di Rembang, Juwana, Cirebon, Bagan Siapiapi (Riau), Bulukumba (Sulsel), dan Penajam Paser Utara (Kaltim).
- Keahlian perkapalan Indonesia memiliki jejak sejarah panjang yang tercermin dalam relief Candi Borobudur serta armada kapal dari Kerajaan Sriwijaya, Aceh, dan Majapahit yang menggunakan teknologi kapal kayu lokal.
.
Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)
GALANGAN kapal modern telah jauh melesat. Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, Jerman, Italia mendominasi industri perkapalan modern. Galangan kapal nasional seperti PT PAL Indonesia pun bergegas mengejarnya. Namun satu hal yang sering terlupa, kita mewarisi sejarah galangan kapal yang ditulis jauh berabad lampau. Kita kenali jejaknya di relief dinding Candi Borobudur, berlanjut di armada kapal Kerajaan Sriwijaya, Aceh, Majapahit. Angkatan laut mereka belum mengenal kapal besi, hanya kapal kayu buatan lokal.
Hebatnya hingga detik ini, galangan kapal tradisional domestik masih bertahan meski sempoyongan dan nafas tersengal. Sentra industrinya berada di pantura Jawa, terutama yang mashur berada di Batang, Jawa Tengah. Sederet galangan kecil lainnya berada di Rembang, Juwana, Cirebon. Di luar Jawa galangan besar berada di Bagan Siapiapi (Provinsi Riau Daratan) menghasilkan kapal penangkap ikan berkapasitas besar. Sedangkan di Bulukumba (Sulawesi Selatan) dikenal dengan perahu Phinisi, serta Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur.
| Baca juga: Nasib Pahit KM Virgo dan Tampomas |
Lokasi galangan berada di pesisir atau muara sungai agar kapal yang selesai dibangun mudah langsung diluncurkan. Di Batang misalnya memilih sepanjang Sungai Sambong, digunakan membuat kapal kayu besar jenis cakalang, cantrang, porsen mini, dan porsen standar. Pesanan datang dari berbagai daerah di luar Batang, seperti Jakarta, Indramayu, Tegal, Cilacap, Pati, Jepara, hingga Bali.
Galangan tradisional tidak mengenal cad-cam atau gambar rancang bangun yang rumit. Mereka tanpa desain formal, hanya mengandalkan pengalaman dan ingatan para tukang ahli (undagi). Local genius ini pun ditularkan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya. Bahan baku utamanya bukan besi melainkan kayu berkualitas tinggi yang kuat tahan air dan cuaca hingga 25 tahun, seperti kayu ulin, bengkirai, kempas, atau jati.
Setiap galangan rata-rata mampu memproduksi 4 unit kapal per tahun, dengan total produksi keseluruhan berkisar antara 50 hingga 60 kapal per tahun. Pembuatan satu unit kapal besar misalnya jenis Cakalang ukuran 30 meter, sekitar 8 bulan pengerjaan fisik, hingga 1,5 sampai 2 tahun sampai kapal benar-benar siap beroperasi lengkap dengan mesin dan alat tangkapnya.
Di Penajam Paser Utara
Galangan besar lainnya berada di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, khususnya di Desa Kayu Api. Pengrajinnya menggunakan kayu berkualitas tinggi seperti ulin, bungur, dan leban (halaban) yang tahan puluhan tahun. Namun dikeluhkan tingginya biaya untuk mendapatkan kayu berkualitas.
Proses produksinya masih konvensional, belum berbasis standar teknis (principal dimension) digital atau pengukuran GT yang akurat. Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lokasi pembuatan juga masih minim. Pengrajin sangat berharap bantuan alat kerja modern serta subsidi modal usaha dari pemerintah daerah.
Pembeli luar daerah lebih memilih membuat kapal di PPU karena terkenal dengan kualitas kayunya. Hanya tiga jenis kayu yang kuat yaitu kayu bungur, leban (halaban) dan kayu ulin. Keunggulan lainnya kapal-kapal di Penajam sama sekali tidak menggunakan paku tetapi hanya pasak kayu untuk menyatukan atau mengikat antar papan dengan ketebalan papan 3 sentimeter atau lebih.
Menyadari besarnya potensi galangan di Batang, Pemerintah Kabupaten Batang mendorong penguatan sektor maritim sebagai penggerak ekonomi daerah dan industri strategis berskala luas.
Galangan lokal ini sudah mampu membangun kapal 30-50 gross ton (GT). Kapasitas ini sangat strategis untuk mendukung aktivitas nelayan samudera dan transportasi laut skala kecil menengah.
Pemkab Batang juga merancang integrasi pengembangan galangan kapal dengan proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) yang akan dibangun di wilayah pesisir utara Jawa. Kita tahu daratan Batang, Brebes, Pekalongan, bahkan Semarang dan Demak, sudah ambles berada di bawah permukaan laut, sehingga pasang air laut (rob) rutin jadi masalah.
Diusulkan tanggul besar ini juga bisa difungsikan sebagai jalur lingkar. Jadi tidak hanya untuk penahan rob, tapi juga membuka akses baru yang mendukung aktivitas ekonomi, termasuk galangan kapal. Semarang dan Demak sementara cukup terlindung dengan dibangunnya jalan tol yang berfungsi menahan abrasi dan rob.
Jadi Destinasi Wisata
Mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pun pernah menggagas kawasan galangan kapal di Desa Karangsari, Kabupaten Batang menjadi destinasi wisata yang memadukan industri kapal dengan bahari. Wisatawan bisa berlayar menyaksikan bergam galangan, tidak hanya lewat daratan.
Pengusaha warga Karangsari, berharap Pemerintah Provinsi Jateng memfasilitasi para pengusaha kapal mengurus perizinan galangan kapal. Termasuk menata jembatan Sungai Sambong sekaligus mengeruk muara sungai agar tidak dangkal. Selama ini kondisi jembatan dan muara di kawasan tersebut mengganggu lalu lintas kapal bersandar. Kini galangan di Batang dirundung muram. Sejumlah galangan kapal tutup akibat sepinya permintaan hingga dampak Covid-19 yang berpengaruh besar.
Nelayan Pantura Jaya merupakan salah satu industri yang masih bertahan dan sedang mengerjakan empat kapal. Kapal jenis cakalang berbobot 160 GT butuh waktu lama antara 1,5 hingga dua tahun dikerjakan 20 orang. Bila sudah dilengkapi peralatan navigasi dan siap berlayar, harga per-unitnya bisa mencapai Rp18 miliar.
Inilah sebuah ironi negeri maritim yang memiliki sejarah panjang industri galangan tradisional, namun seolah kehilangan momentum. Masalahnya begitu klasik dan berlarut. Menyangkut sulitnya mengurus izin galangan, dukungan modal perbankan dengan bunga rendah, minim pengenalan teknologi maju, kurangnya perhatian Pemkab, Pemprov, bahkan Pusat. Tanpa peran pemerintah mereka tak hanya meredup, bahkan bisa menemui ajalnya.
Padahal industri ini sudah lama eksis, menyangkut tenaga kerja dengan local genius yang hebat. Tidak ada bandingannya dengan Negara lain. Jangan sampai generasi modern kita, hanya meratapi kejayaan moyangnya di museum bahari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....