Ayah di Era Digital: Penjaga Arah Anak di tengah Banjir Informasi

  • 11 Agt 2026 07:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ada masa ketika seorang ayah cukup memastikan dapur tetap mengepul, anak-anak bersekolah, dan kebutuhan keluarga terpenuhi. Namun zaman telah berubah.
  • Kehadiran ayah bahkan menjadi semakin penting ketika perhatian anak diperebutkan oleh begitu banyak pihak.
  • Kita harus berbicara tentang manusia yang akan mengoperasikan semua kemajuan tersebut.
  • Peradaban bermula dari rumah, dari percakapan sederhana antara ayah dan anak, dari keteladanan yang dilihat setiap hari, dan dari doa yang diam-diam dipanjatkan orang tua untuk masa depan anaknya.
  • Sukamta menguraikan bahwa tantangan terbesar keluarga modern adalah menjaga pembentukan karakter anak di tengah gempuran arus informasi digital.

Anak membutuhkan ayah yang mau berbicara, bukan hanya ayah yang memberi perintah. Mereka membutuhkan sosok yang bersedia mendengarkan kegelisahan, pertanyaan, bahkan kesalahan mereka tanpa buru-buru menghakimi.

Kedekatan semacam itu tidak selalu membutuhkan waktu berjam-jam. Percakapan saat makan malam, perjalanan bersama, menemani belajar, mengajak salat berjamaah, atau sekadar bertanya tentang apa yang terjadi sepanjang hari dapat menjadi ruang penting untuk membangun hubungan batin.

Sebab anak-anak pada dasarnya tidak hanya membutuhkan orang tua yang hadir secara fisik. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir secara emosional.

Seorang ayah bisa berada di ruang yang sama dengan anak, tetapi pikirannya sepenuhnya berada di layar telepon genggam. Sebaliknya, seorang ayah mungkin memiliki waktu yang terbatas, tetapi ketika bersama anak ia benar-benar mendengarkan, memperhatikan, dan merespons dengan penuh perhatian.

Kualitas kehadiran inilah yang sering kali lebih menentukan daripada panjangnya waktu kebersamaan.

Lebih jauh, anak-anak adalah peniru yang sangat baik. Mereka mungkin tidak mengingat seluruh nasihat yang disampaikan ayahnya, tetapi mereka akan merekam bagaimana ayahnya menjalani kehidupan sehari-hari.

Jika seorang ayah mengajarkan kejujuran tetapi sering berbohong, anak akan melihat kontradiksi. Jika seorang ayah meminta anak disiplin tetapi dirinya sendiri tidak menepati janji, pesan yang diterima anak bukanlah kata-kata, melainkan perilaku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....