Ketika Konflik Global (Potensi) Menekan Dapur Indonesia
- 26 Mar 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Konflik global
- Perang AS-Israel-Iran
KONFLIK antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kerap dipandang sebagai persoalan jauh. Seolah hanya milik kawasan Timur Tengah.
Namun dalam dunia yang saling terhubung, perang tidak pernah benar-benar jauh. Dampaknya merambat, menembus batas geografis, hingga akhirnya terasa di dapur rumah tangga Indonesia.
Kenaikan harga minyak dunia menjadi dampak paling nyata. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi global berpotensi mengganggu pasokan dan mendorong harga energi melonjak.
Bagi Indonesia, kondisi ini langsung berdampak pada pembengkakan subsidi, tekanan terhadap APBN, dan potensi kenaikan harga BBM yang menekan daya beli masyarakat. Namun dampaknya tidak berhenti pada energi.
Gangguan rantai pasok global akan mendorong kenaikan harga pangan, baik impor maupun domestik. Harga gandum, kedelai, hingga beras berpotensi meningkat.
Dalam situasi seperti ini, stabilitas ekonomi bukan lagi sekadar soal indikator makro, tetapi menyangkut kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar. Tekanan juga menjalar ke sektor keuangan.
Ketidakpastian global mendorong investor mencari safe haven, sehingga memicu pelemahan rupiah, volatilitas pasar keuangan, dan meningkatnya biaya utang. Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat memicu inflasi sekaligus mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Dalam perspektif kebijakan publik, situasi ini menuntut pemerintah bergerak dalam kerangka adaptive governance yakni respons cepat, terukur, dan berbasis antisipasi risiko. Pada sektor energi, pemerintah perlu memastikan subsidi lebih tepat sasaran dalam jangka pendek, sembari mempercepat transisi menuju kemandirian energi melalui penguatan bauran energi nasional.
Pada sektor pangan, stabilisasi harga melalui operasi pasar dan penguatan cadangan pangan menjadi langkah mendesak. Dalam jangka menengah, diversifikasi pangan lokal dan perbaikan sistem distribusi harus menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan impor.
Sementara itu, di sektor keuangan, koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar. Intervensi yang tepat, disertai penguatan pasar domestik, diperlukan untuk meredam dampak arus modal keluar.
Lebih jauh, konflik ini juga menguji konsistensi politik luar negeri Indonesia. Prinsip bebas aktif menuntut Indonesia tetap berada pada posisi seimbang yang tidak terseret dalam polarisasi global, namun tetap konsisten pada nilai kemanusiaan dan perdamaian.
Dalam konteks ini, diplomasi multilateral harus diperkuat untuk menjaga kredibilitas sekaligus kepentingan nasional. Hal yang tak kalah penting adalah dimensi domestik.
Resonansi konflik global dapat memicu dinamika sosial di dalam negeri, mulai dari meningkatnya solidaritas hingga potensi polarisasi. Karena itu, pemerintah perlu mengelola komunikasi publik secara inklusif dan menjaga stabilitas sosial agar tidak tergerus oleh sentimen global.
Dalam jangka panjang, pelajaran paling penting dari situasi ini adalah urgensi kemandirian. Ketergantungan pada impor energi dan pangan membuat Indonesia rentan terhadap guncangan eksternal.
Tanpa strategi yang jelas untuk memperkuat ketahanan nasional. Setiap konflik global akan terus berulang menjadi tekanan domestik.
Pada akhirnya, konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengingatkan satu hal, yakni dalam dunia global, jarak tidak lagi menentukan dampak. Apa yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, pada akhirnya akan terasa di meja makan masyarakat.
Di situlah kebijakan publik diuji. Apakah mampu melindungi rakyat dari gejolak yang tidak mereka ciptakan.
Oleh:
Dr. Genius Umar, S.Sos., M.Si
(Dosen MAP Universitas Negeri Padang, Mantan Wali Kota, Pengamat Kebijakan Publik)

Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....