Bersiaplah Hadapi Robot AI

  • 19 Mar 2026 16:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PARA pemburu kerja (job seekers) kini harus bersiap melawan pesaing baru, kolaborasi robot humanoid dan kecerdasan buatan (AI). Mereka dihadapkan sebuah kompetisi absurd yang tak lagi bisa mengandalkan angka ijasah, stempel kelakuan baik, pengalaman kerja, bahkan uang sogok dan koneksi nepotisme. Lambat atau cepat kompetisi itu akan tiba, diprediksi menciutkan peluang kerja dan menambah penganggur.

Ada baiknya Pemerintah segera mengantisipasi, menciptakan ekosistem kerja yang sehat dan melindungi angkatan kerja kita. Jika prosesnya diserahkan kepada pasar, petaka nasional bisa terjadi.

Mari kita lihat data BPS, jumlah penganggur di Indonesia pada November 2025 tercatat 7,35 juta orang. Kita terhibur karena terjadi penurunan penganggur sekitar 109.000 orang dibandingkan Agustus 2025. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pun juga menurun menjadi 4,74 persen.

Sejauh ini Indonesia masih sebagai juara pengangguran tertinggi di ASEAN. Urutan berikutnya Brunei Darussalam (4,7 persen) dan Filipina (3,7 persen), Malaysia: 3 persen, Myanmar: 3 persen, Vietnam: 2,24 persen, Singapura: 2,1 persen, Timor Leste: 1,6 persen, Laos: 1,2 persen, Thailand: 0,89 persen, dan terendah Kamboja: 0,27 persen.

Paling santai menganggur di Brunei, karena negaranya memberikan tunjangan atau bantuan sosial kepada warga pensiunan di atas 60 tahun. Bantuan itu berkisar BND250 (sekitar Rp5 juta) per orang/pasangan tua.

Brunei terkenal dengan kekayaan minyak dan gas. Negerinya aman tanpa kerusuhan maupun mogok kerja, dan menggratiskan layanan kesehatan serta pendidikan hingga universitas.

Gen Z Terbanyak

Generasi Z (Gen Z) menjadi penyumbang terbesar menembus 2-3 juta penganggur. Terjadi ketidaksesuaian keterampilan (skill mismatch) antara lulusan pendidikan (terutama SMK/SMA) dan kebutuhan industri.

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada November 2025 terdapat 155,27 juta orang pekerja, naik 1,262 juta orang dibanding Agustus 2025. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 70,95 persen, naik 0,36 persen dibanding Agustus 2025.

Penduduk bekerja pada November 2025 sebanyak 147,91 juta orang, dengan rata-rata upah buruh per- November 2025 sebesar Rp 3,33 juta rupiah/bulan. Pengangguran di kota 5,75 persen lebih tinggi dibanding perdesaan yang hanya 3,47 persen.

Anak-anak muda berusia 15-24 tahun terbanyak menganggur mencapai 16,89 persen. Usia 25-59 tahun mencapai 2,93 persen dan 60 tahun ke atas hanya 1,71 persen.

Survei Kemendikdasmen menemukan tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih tertinggi yakni 8,63 persen. Lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) menyusul dengan 6,88 persen. Lulusan kampus (D-IV, S1, S2, S3) tingkat penganggurannya mencapai 5,39 persen.

Berdasarkan provinsi, pengangguran tinggi ada di Papua Barat Daya mencapai 6,96 persen dan kedua Papua 6,85 persen, disusul Jawa Barat 6,77 persen, Banten 6,69 persen, dan Kepulauan Riau 6,45 persen.

Berakhir Putus Asa

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menemukan fakta tidak sedikit penduduk usia produktif yang tidak bekerja dan telah putus asa mencari kerja.

Lulusan pascasarjana jenjang S2 dan S3 yang putus asa cari kerja mencapai ribuan orang. Bank Dunia menilai pengangguran yang putus asa atau ’discouraged workers’ mengindikasikan rapuhnya dinamika permintaan dan penawaran tenaga kerja.

Jumlah penganggur putus asa di Indonesia per Februari 2025, ada 1,87 juta orang, sekitar 45 ribu lulusan S1 dan lebih dari 6 ribu lulusan pascasarjana (S2 dan S3). Ini sebuah pergeseran dari posisi mencari kerja ke posisi menyerah.

Pria menyumbang 2/3 dari total penganggur (69 persen), sedangkan wanita 31 persen. Pria lebih rentan sebagai pelamar yang berkali-kali gagal.

Sedangkan wanita menghadapi hambatan lebih besar dalam transisi dari sekolah ke bekerja, disebabkan terbatasnya peluang kerja formal yang ramah perempuan. Akibatnya wanita yang ingin bekerja, tapi berkali-kali gagal akhirnya menyerah.

Keadaan makin runyam bila robot dan AI sudah hadir meluas. Di Tiongkok saja kehadiran robot menambah pengangguran di kalangan pekerja manufaktur berketerampilan rendah.

Meskipun pemerintahnya gigih mendorong robotika, sejumlah pekerjaan terancam hapus, antara lain perakitan otomotif, elektronik konsumen, petugas kebersihan industri, dan kurir. Tiongkok menargetkan 10 ribu robot humanoid beroperasi 2027, untuk mengambil alih tugas-tugas di pabrik dan rumah tangga.

Diperkirakan 85 juta pekerjaan secara global berpotensi terdampak kecerdasan buatan. Robot dapat memperlebar kesenjangan antara pemilik teknologi dan pekerja. Nilai ekonomi lebih banyak dinikmati oleh penyedia layanan otomatis daripada pekerja tradisional.

Robot juga mengurangi sentuhan manusia di berbagai pelayanan, sehingga menggerus kualitas hubungan antarmanusia. Sebanyak 36% pekerja Tiongkok cemas AI akan mengambil alih pekerjaan mereka. Bahkan AI juga mengancam pekerjaan kerah putih yang melibatkan analis data, hukum, dan keuangan.

Betapa kejam adangan robot AI bagi masa depan pencari kerja. Boleh jadi saat dicetuskan janji akan terbuka 19 juta pekerjaan baru, ancaman sang robot AI luput dibahas. Alih-alih membuka lapangan kerja, justru generasi putus asa yang dihasilkan.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....