Rusia Pesta, Asteng Meradang

  • 26 Mar 2026 12:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

PERANG Teluk belum usai. Negara-negara sekitarnya menderita karena Iran menghajar berbagai pangkalan AS di Negara mereka. Ada korban jiwa, ada banyak kerusakan fasilitas warganya. Tak seorang jua bisa ramalkan kapan perang akan berakhir.

Di tengah kerugian besar itu, Rusia justru menikmati pesta dan paling diuntungkan secara geopolitik dan ekonomi. Lonjakan harga energi global meningkatkan pendapatan minyak Rusia.

Perhatian Barat pun teralihkan dari masalah Ukraina, sekaligus menguatkan posisinya di Timur Tengah serta Eropa. Selain Rusia Negara produsen minyak lain AS, Kanada, Norwegia, dan industri pertahanan global juga meraup untung besar.

Dilaporkan BBC World Service, kontraktor militer mencatat lonjakan saham dan pendapatan karena peningkatan anggaran militer global dan permintaan senjata. Perusahaan seperti Palantir Technologies diuntungkan dari meningkatnya kebutuhan teknologi intelijen dan pertahanan. Perusahaan militer besar jelas melihat perang sebagai peluang mendapatkan kontrak besar.

Saat perang dunia I dan II misalnya, perusahaan IG Farben dari Jerman, mendukung Nazi melalui pasokan industri dan finansial seperti bahan kimia, bahan bakar sintetik. Juga Ford dan General Motors, pabrik mereka di Jerman tetap produksi kendaraan militer. Standard Oil, memasok bahan bakar ke berbagai pihak.

Dan, kini saat konflik geopolitik memanas, perusahaan besar yang untung besar dari membiayai perang adalah Lockheed Martin. Ini perusahaan terkaya yang mendanai perang, terutama melalui kontrak dengan Departemen Pertahanan AS dan kontraktor utama pertahanan.

CNBC yang melansir Visualcapitalist, menyebut Lockheed Martin menerima kontrak senilai USD61,4 miliar dari Departemen Pertahanan pada 2023. Pemain-pemain besar lainnya di sektor ini antara lain RTX Corporation (sebelumnya Raytheon), Boeing, General Dynamics, dan Northrop Grumman.

Asia Tenggara Meradang

Rusia sebagai sekutu utama dan mitra militer penting bagi Rusia, diuntungkan berkurangnya rudal patriot dan senjata pencegatnya, karena Ukraina tak bisa mendapatkannya. Apalagi penutupan Selat Hormuz telah melambungkan brankas Rusia, karena ekspor minyaknya yang dipatok USD59 per barel, kini sudah mendekati USD120 per barel.

Tiongkok pun belum merasakan dampak perang. Hanya sekitar 12 persen minyak mentah yang diimpornya berasal dari Iran. Tiongkok sukses menimbun minyak cukup untuk beberapa bulan dan mudah beralih ke Rusia jika butuh tambahan.

Sebaliknya negara Asia Tenggara (Asteng) yang sangat bergantung pada minyak dan gas dari Timur Tengah, tergopoh mengambil langkah penghematan drastis untuk meredam dampak ekonomi. Di Vietnam, harga solar sudah naik 60 persen, dan meminta warganya bekerja dari rumah.

Filipina yang mengimpor 95 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah, memotong hari kerja pegawai empat hari seminggu. Pembatasan serupa diterapkan di Pakistan, dengan pengecualian sektor perbankan.

Di Bangladesh terjadi gelombang borong minyak di stasiun pengisian bahan bakar. Pembelian kini dibatasi 10 liter per hari untuk mobil dan hanya dua liter untuk sepeda motor.

Sri Lanka terpaksa memangkas hari kerja menjadi empat hari, untuk lembaga pemerintah, sekolah, hingga universitas. Sektor swasta diminta mengikuti langkah serupa, dan menetapkan libur setiap hari Rabu. Presiden Sri Lanka, bahkan mengingatkan jajarannya siap hadapi kondisi terburuk.

Thailand memiliki cadangan cukup untuk 95 hari ke depan, toh masih berupaya mencari tambahan pasokan gas alam cair (LNG) dari AS, Australia, dan Afrika Selatan. Sekitar 68 persen kebutuhan energi Thailand berasal dari gas alam, dan 35 persennya impor.

Selain warganya bekerja dari rumah, suhu pendingin ruangan (AC) dibatasi 26-27 derajat Celsius. Pegawai boleh berbaju lengan pendek sebagai pengganti jas dan dasi.

Dampak ikutan menimpa para petani yang bergantung pada pupuk. Catatan BBC News, gangguan pada pasokan pupuk dapat memicu krisis pangan global. Sekitar 30 persen urea dunia melewati Selat Hormuz. Urea berasal dari petrokimia yang diproduksi melalui proses penyulingan minyak mentah.

Jadi, jika 30 persen pasokan urea hilang dari pasar global, dampaknya terhadap keamanan pangan dunia akan sangat besar. QatarEnergy, salah satu eksportir gas terbesar dunia sekaligus produsen urea untuk pupuk, tidak luput dari serangan.

Indonesia Masih Aman

Akan halnya cadangan BBM nasional Indonesia yang semula 21 hari, meningkat 27-28 hari, sehingga konsumsi domestik masih dapat terpenuhi dengan baik. Kebutuhan transportasi maupun kelistrikan, masih aman.

Pasokan listrik pun terkendali mencapai 52 gigawatt, sementara beban puncak hanya 35 persennya. Margin risikonya sekitar 48 persen dari rata-rata kebutuhan harian.

Sebagai kesiagaan, bisa saja dijajaki impor minyak dari Rusia. Menurut Bloomberg, AS dan Uni Eropa membatasi impor energi Rusia setelah invasi ke Ukraina pada 2022.

Namun AS masih izinkan pembeli mengambil kargo minyak Rusia yang sudah berada di laut. Ini jangka pendek dan hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan. Boleh untuk minyak India, tetapi tidak untuk Iran.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan peluang impor minyak selain Timur Tengah dan AS juga Rusia. Terpenting barangnya ada dan harganya kompetitif. Kita juga membidik minyak dari tetangga satu pulau Kalimantan, Brunei Darussalam.

Bahlil sudah bertemu Wakil Menteri Energi Brunei, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah. Brunei salah satu produsen migas utama di Asia Tenggara mulai secara serius melirik langkah transformasi energi Indonesia.

Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi. Sementara Brunei 99 persen sumber energinya dari gas untuk pembangkit listrik.

Data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25 persen, Angola 28,5 juta barel atau 21 persen, Arab Saudi 25,36 juta barel atau sekitar 19 persen, Brasil 9 persen, Australia 8 persen, serta sejumlah negara lain seperti Gabon, AS, dan Malaysia. Sedangkan untuk impor BBM, paling banyak dari Singapura dan Malaysia, ditambah dari Tiongkok, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.

Kini status cadangan BBM nasional tercatat 23 hari, masih di bawah standar Badan Energi Nasional atau International Energy Agency (IEA), yaitu 90 hari cadangan minyak mentah atau produk BBM. Di tengah potensi pengetatan pasokan dan melonjaknya harga, pemerintah berencana membangun storage minyak mentah, untuk menambah umur cadangan nasional.

Betapapun aman situasi sekarang, jika perang berlarut-larut, dampak lain perlu disiapkan sejak dini.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....