Iran Mainkan Perang Asimetris

  • 09 Mar 2026 11:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

MENYADARI kekuatan besar lawannya, Iran memilih jalan perang di Teluk Persia dengan strategi non-konvensional. Ganda Amerika Serikat (AS) dan Israel mengira perang akan berjalan singkat, melawan kompetitor tunggal Iran. Gempuran dahsyat yang menewaskan Ali Khameini dirancang akan menghabisi Iran dalam sekejap.

Faktanya, Iran balik melawan dan cenderung menyeret AS-Israel dalam pertempuran ‘asimetris’. Iran akan menggunakan kecerdasan teknologi militer dan kecerdikan mengolah narasi, untuk menghasilkan ‘mental pressure’ kepada lawan yang dianggap lebih kuat.

Ini berbeda dengan perang simetris/konvensional, ketika kedua pihak saling gempur total sampai binasa. Ujung perang asimetris adalah memaksa lawan terjebak stress, baik disebabkan tekanan domestik maupun di luar negerinya. Kecemasan dan kelelahan mental akan menindih mental, saat Perang Teluk edisi keempat ini diulur lebih lama seperti Perang Vietnam.

Ibarat pelari jarak menengah 5.000 meter atau 10.000 meter, di tengah laga Iran beralih strategi dan memaksa lawannya bertarung maraton 42,195 kilometer. Iran menyatakan dirinya akan berperang enam bulan, boleh jadi bisa lebih lama dari itu.

Kita bayangkan jika Selat Hormuz akan dikunci hingga 6 bulan atau lebih, tak ada lagi tangker minyak yang boleh melintas. Dunia akan merintih kehabisan energi. Cadangan minyak kita yang 21 hari pun akan dipaksa mencari sumber energi baru.

Dalam berlari maraton, kecepatan dan akselerasi tak lagi utama. Seorang pelari sangat dituntut daya tahan, kekuatan otot kaki, dan asupan oksigen yang maksimal. Saking jauhnya lintasan, garis finis acap kabur tak tampak hingga ujung horizon. Dan, sang pelari akan dihantui ketakpastian akan kekuatannya sendiri. AS, khususnya presidennya, berkarakter tak sabaran. Ingin serbacepat mengakhiri targetnya. Justru di sinilah titik lemahnya.

Kehebatan ‘Kamikaze’

Drone serang satu arah ‘Kamikaze’ Iran, diakui pejabat pemerintahan Trump menjadi tantangan besar bagi pertahanan udara AS. Seperti diberitakan berbagai portal berita internasional, Menhan AS Pete Hegseth menyebut drone yang terbang rendah dan lambat itu lebih sulit dicegat dibanding rudal balistik, sehingga tak semuanya bisa diintersepsi.

Namun Trump mengklaim sebagian besar instalasi militer Iran telah dihancurkan dan kematian Pemimpin Tertinggi Iran disebutnya memicu proses suksesi yang kompleks. Sebaliknya pejabat Partai Demokrat mencemaskan cadangan amunisi AS, sementara Iran memiliki stok besar drone dan rudal.

Militer Iran mengandalkan drone Shahed-136 produksi asli Iran yang berbiaya murah hanya USD20 ribu (sekitar Rp 360 juta). Padahal untuk mencegah serangan drone ini, Israel harus menggunakan sistem pertahanan THAAD Patriot.

Setiap rudal pencegat menelan USD4 juta (Rp 72 miliar). Karena murahnya produksi drone kamikaze Iran, Rusia pun diberitakan ikut memproduksi massal senjata pembunuh satu arah ini. Dinamakan Geran-2, Rusia memakainya untuk menyerang Ukraina.

Data Google menyebutkan salah satu komponen drone Shahed-136 itu berasal dari Surabaya. Pada 2024, otoritas AS menjatuhkan sanksi terhadap seorang pengusaha di Surabaya, dituduh memasok servomotor, komponen kendaraan udara tanpa awak (UAV) ke Iran.

Ia dituduh AS menjual 100 servomotor ke Pishgam Electronic Safeh Company (PESC) di Iran, penyedia servomotor bagi Pasukan Udara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Pengusaha itu telah membantah tuduhan ini.

Iran menjadikan Shahed-136 sebagai senjata utama menghancurkan pangkalan AS di kawasan Teluk. Sebelumnya telah digunakan Rusia dalam konflik di Ukraina sejak 2022.

Video The New York Times menunjukkan drone Shahed-136 menghantam sejumlah bangunan di negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA). Drone tersebut memiliki suara dengungan khas dari mesin saat terbang di udara. Ciri ini membuatnya mudah dikenali sebelum menghantam target.

Andalkan Produk AS

AS sendiri mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) Anthropic untuk memproses data intelijen dalam jumlah besar, analisis target, dan pendukung keputusan di medan perang. AS berinvestasi besar-besaran dalam pesawat tanpa awak (UAV), drone otonom, dan robotika tempur.

Ada juga rudal hipersonik yang terbang lebih dari 5 kali kecepatan suara (Mach 5), yaitu Dark Eagle (LRHW) yang akan digunakan pada 2026, serta rudal HAVOC yang dapat diluncurkan dari udara, darat, dan laut. Dikembangkan pertahanan laser permanen di garis depan untuk menangani ancaman drone kamikaze.

Angkatan Darat AS menerapkan senapan M7 (XM7) dan senapan otomatis M250 (XM250) buatan SIG Sauer. Operasi AS didukung oleh kombinasi jet tempur canggih seperti F-22 Raptor dan F-35 Lightning II, pengebom siluman B-2, serta rudal jelajah Tomahawk. Tentu investasi tinggi untuk teknologi keamanan siber, dan jaringan seluler 5G untuk komunikasi militer yang aman.

AS akan memanfaatkan produksi dan penjualan global alutsista. Lockheed Martin Corp, dikenal sebagai produsen pesawat tempur canggih seperti F-16, F-22, dan F-35. General Dynamics memproduksi senjata, rudal, kapal perang, kapal selam, dan roket. Sedangkan United Technologies Corp fokus pada pengembangan sistem teknologi tinggi untuk helikopter militer, sistem autopilot, serta sistem peringatan berbasis laser.

Banyak negara di dunia menjadi pelanggan setia industri militer AS. Indonesia, Arab Saudi, Inggris, Mesir, Irak, Australia, dan tentu saja Israel. Keandalan dan kecanggihan senjata buatan AS diakui dunia. Tak hanya dagang senjata, AS juga menjual bahan bakar untuk kendaraan tempur, pembelinya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Kembali ke strategi Iran memilih perang marathon dan asimetris. Kemenangan akan ditentukan siapa yang paling punya stamina dan daya tahan. Perang durasi panjang akan menyiksa banyak pihak yang tidak ikut bertikai.

Begitulah ‘nature’ sebuah laga, selalu ada derita sekaligus terbuka banyak peluang usaha. Karena perang sesungguhnya adalah juga ruang pamer produk alutsista.


Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

Rekomendasi Berita