Bara di Teluk Belum Mereda

  • 05 Mar 2026 14:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

HANYA dalam seminggu, sejak gugurnya pemimpin Iran Ayatollah Ali Khameini Sabtu 28 Februari lalu, bara di Teluk Persia “cenderung mereda”. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai inisiator serangan ke Iran, melakukan ‘genjatan senjata sepihak’. Dikutip dari ‘The Atlantic’ Trump menyatakan setuju akan berbicara dengan Iran, mau bernegosiasi untuk menghentikan perang.

Klaim itu sontak dibantah, Iran tegas menolak bernegosiasi dengan AS. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, membantah tuduhan negaranya sedang berusaha berunding dengan AS dan membantah laporan Al Jazeera yang mengutip The Wall Street Journal.

Disebutkan Larijani berusaha berunding dengan Washington melalui Oman. Sebaliknya ia mengritik Trump sebagai biang kekacauan di kawasan Teluk dengan narasi ‘ilusi kosong’. Trump telah mengubah slogan 'America First' menjadi 'Israel First' dan mengorbankan pasukan Amerika berikut keluarganya demi hasrat kekuasaan Israel.

Trump sendiri sedang didera gelombang protes luas di dalam negerinya. Serangan ke Iran dilakukan tanpa persetujuan Kongres. Para orang tua prajurit AS tak rela anak-anaknya pulang terbungkus peti mati. Banyak tokoh partainya sendiri gencar menyerang. Dan, paling membuatnya gentar, Iran ternyata mampu membalas dengan hebat.

Iran negeri Islam yang sudah puluhan tahun diborgol sanksi ekonomi AS dan sekutunya, tak seremeh yang dibayangkan. Berbagai pangkalan militer AS di negara kawasan Teluk berhasil dihancurkan.

Jika Iran mengamuk, pelajaran pahit bagi AS dan Israel bukan hanya ilusi. Iran telah lama dituduh membangun senjata nuklir, meski faktanya belum terbukti. Dan, tiba-tiba diserang dengan korban Sang Ayatollah.

Nasionalisme dan jiwa patriot warga Iran pasti akan bangkit melawan. Trump dan warga AS bisa mengulang sejarah pahit seperti di Vietnam dan Afghanistan.

Di negaranya, Trump pernah menyamakan dirinya dengan Napoleon. Ia mengutip jargon Sang Kaisar Prancis itu “siapa pun yang menyelamatkan negaranya, tidak melanggar hukum apa pun”. “Dia adalah presiden paling melanggar hukum dalam sejarah AS,” tulis Robert Reich, mantan Menaker AS. Ia menyebut pengadilanlah yang berwenang menentukan apakah presiden menggunakan kekuasaannya secara 'sah', bukan presiden itu sendiri.

Sikap Rusia dan Tiongkok

Respons Moskow mencerminkan kemarahan, sekaligus solidaritas kepada Teheran, tetapi berhati-hati agar tidak terseret langsung ke dalam konfrontasi. Sebagaimana dilaporkan Sergei Goryashko dari BBC News Russian, Rusia kecewa karena di saat Washington dan Teheran telah melakukan perundingan, situasi justru memburuk menjadi agresi terbuka. Moskow menolak praktik pembunuhan politik dan perburuan terhadap para pemimpin negara berdaulat.

Namun Kremlin menghindari kritik langsung terhadap Trump, dan menyatakan dukungan terhadap Iran lebih banyak bersifat retoris. Padahal sejak Rusia menginvasi Ukraina, Teheran merupakan salah satu sekutu terdekat Moskow dengan memasok drone dan membantu Rusia mencari cara menghindari sanksi Barat.

Kremlin tidak akan terlalu jauh terlibat karena tengah sibuk di Ukraina, dan enggan memberikan dukungan diplomatik dan kerja sama teknis militer kepada Iran. Perjanjian kemitraan strategis Rusia–Iran pada 17 Januari 2025 tidak sampai menjadi pakta pertahanan bersama.

Moskow dan Teheran sebatas berjanji untuk berbagi informasi, menggelar latihan gabungan, serta menjaga keamanan regional. Namun, keduanya tidak berkomitmen saling membela jika diserang.

Tiongkok juga mengecam keras pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei. Beijing menentang strategi perubahan rezim yang dijalankan AS di berbagai belahan dunia, seperti di Venezuela.

Inti hubungan China–Iran adalah kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan, sebagaimana dilaporkan BBC World Service Global. Tiongkok itu mitra dagang terbesar Iran sekaligus pelanggan energi terpentingnya.

Selama Iran bertahun-tahun digempur sanksi berat dari AS, Beijing tetap menjadi penopang utama ekonomi Teheran. Tiongkok membeli minyak Iran dalam jumlah besar dengan harga diskon melalui jaringan "ghost fleets"—kapal-kapal yang didaftarkan secara palsu untuk menghindari sanksi.

Pada 2025, Tiongkok membeli lebih dari 80 persen minyak yang dikirim Iran. Pendapatan dari penjualan itu membantu Iran menstabilkan ekonominya dan membiayai belanja pertahanan.

Iran setiap hari menghasilkan sekitar 4 juta barel minyak, sedangkan kebutuhan domestiknya hanya 1,5 juta barel perhari. Sisanya banyak dijual ke luar. (Sebagai perbandingan, produksi minyak RI tak sampai 1 juta barel perhari). Sebuah perjanjian strategis 25 tahun dengan Tiongkok melibatkan investasi ratusan miliar dolar dari Tiongkok untuk infrastruktur dan telekomunikasi Iran.

Perang Dunia Tertunda

Indonesia banyak mengimpor minyak bumi dari Nigeria, Angola, dan Arab Saudi, yang armada lautnya melewati Selat Hormuz. Selat ini dilalui 20 persen kebutuhan minyak global. Jika blokade berlangsung lama, pasokan minyak ke berbagai negara akan terguncang. Ini bisa memicu krisis bahan bakar, kenaikan harga berbagai barang, dan gejolak ekonomi yang merembet ke krisis politik.

Sebagai negeri pengimpor besar, cadangan minyak RI dikatakan Menteri ESDM aman hingga 20 hari. Pengalaman impor dari Rusia juga pernah goyah sejak konflik Rusia-Ukraina, toh tak banyak pengaruh ke konsumsi domestik.

Namun bagaimana jika serangan AS-Israel gagal karena fasilitas nuklir Iran terlindungi sangat baik. Bagaimana jika 400 kilogram uranium Iran, yang diperkaya hingga 60 persen (bahan bakar nuklir yang mencapai kadar untuk memproduksi sekitar 10 bom) itu gagal dihancurkan?

Israel mungkin telah membunuh banyak ilmuwan nuklir, tetapi tidak ada bom yang bisa menghancurkan pengetahuan dan keahlian Iran. Bagaimana jika rudal hipersonik Iran berkecepatan 8 kali suara masih bebas berkelebat.

Bagaimana bila pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei putra Ayatollah Ali, justru berpikir membangun senjata nuklir lebih cepat?

Meski dunia cemas, Perang Teluk edisi keempat, atau bahkan Perang Dunia III, diharapkan masih jauh panggang dari api. Banyak negara Teluk yang sangat makmur seperti Kuwait, Arab Saudi, UEA, Qatar, tak akan bodoh terlibat.

Para sekutu AS di Eropa Barat pun akan berhitung ulang. Negara-negara di dunia telanjur terikat kebergantungan dan saling-butuh yang ketat. Atmosfer itulah yang menjadi kekuatan global untuk menolak sengketa apapun.

Skala dampak perang di Teluk sangatlah berbeda dengan Rusia-Ukraina. Dunia masih dicemaskan ambisi liar duet Trump dan Netanyahu. Negara mana lagi yang akan dijarah. Di balik itu para produsen utama alutsista berharap perang jangan sebentar. Industri plastik kantung mayat (body bag) pun, ingin tetap berpesta melalui perang.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

Rekomendasi Berita