Cemas Bara di Teluk Persia

  • 02 Mar 2026 20:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

TELUK Persia kembali membara, setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan besar-besaran di Iran sejak Sabtu lalu. Insiden ini dicemaskan dunia akan memicu terjadinya ‘Perang Teluk’ berikutnya, atau yang keempat sejak 1980. Serangan itu bahkan menewaskan pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, berikut putri Khamenei, menantunya, serta seorang cucunya turut tewas.

Di pihak militer, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Mohammad Pakpour, serta sekretaris Dewan Pertahanan Iran, Ali Shamkhani, juga tewas. Kantor berita resmi IRNA menyebut

Mohammad Pakpour ditunjuk sebagai panglima IRGC setelah pendahulunya tewas dalam perang Iran–Israel selama 12 hari pada Juni 2025. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan Khamenei wafat pada Sabtu (28/02) dini hari di kantornya "saat sedang menjalankan tugas."

Presiden AS, Donald Trump, mengklaim Khamenei tewas dan menuduhnya sebagai ‘’salah satu orang paling jahat dalam sejarah’’. Serangan ini dikatakan untuk menyingkirkan rezim teroris di Iran.

Juru bicara Bulan Sabit Merah di Iran, Mojtaba Khaledi, mengatakan 201 orang tewas akibat serangan, 747 lainnya luka-luka. Sebanyak 24 provinsi dari 31 provinsi di Iran telah diserang. Sedangkan 85 orang lainnya juga tewas akibat serangan Israel yang menghantam sekolah dasar di Minab, wilayah selatan Iran.

Donald Trump menuduh rezim Iran menjalankan kampanye tanpa akhir berupa pertumpahan darah dan pembunuhan massal yang menargetkan AS. Rezim Iran telah meneriakkan slogan "kematian bagi Amerika" selama 47 tahun. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir sehingga perlu dilakukan Operasi Midnight Hammer menghantam fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.

Trump mengklaim Iran menolak setiap peluang untuk menghentikan ambisi nuklirnya dan terus mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat mengancam sekutu AS di Eropa, pasukan AS di luar negeri, dan segera dapat menjangkau daratan Amerika.

RI Siap Mediasi

Kementerian Luar Negeri Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah. Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi. Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikannya melalui cara damai. Presiden Prabowo Subianto siap memfasilitasi dialog dan bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi

Dunia khawatir tindakan AS dan Israel ini dapat memicu serangan balasan Iran. Kekuatan senjata Iran cukup memadai untuk melakukan balasan itu. Meski sangat mengherankan, mengapa markas kediaman Khamenei begitu mudah diserang tanpa dapat diprediksi sebelumnya. Kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), melaporkan bahwa Selat Hormuz—jalur strategis di selatan Iran yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman—akan ditutup. Kapal kapal telah menerima pesan dilarang melintasi selat tersebut. Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur perdagangan maritim paling vital di dunia dan merupakan titik krusial bagi transit minyak. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melintasi kawasan itu. Jika benar ditutup, pasokan migas akan terganggu berakibat gejolak harga di mana-mana, yang dapat mendorong krisis social-politik di Negara pengimpor.

Sejarah Perang Teluk

Perang Teluk terjadi antara tahun 1980 hingga 2011. Perang Teluk I (1980–1988) adalah perang melelahkan antara Irak dan Iran. Perang Teluk II (1990–1991) dipicu invasi Irak ke Kuwait, sementara Perang Teluk III (2003–2011) adalah invasi pimpinan AS untuk menggulingkan Saddam Hussein.

Perang Teluk I (Perang Irak-Iran: 1980–1988) diawali dari konflik wilayah perbatasan (Sungai Shatt al-Arab), dan kekhawatiran Irak (Sunni) terhadap Revolusi Islam di Iran (Syiah) yang dipimpin Ayatollah Khomeini. Perang ini berlarut-larut seperti Perang Dunia I dengan penggunaan parit dan senjata kimia. Perang berakhir tanpa pemenang mutlak (gencatan senjata) pada 20 Agustus 1988 setelah kedua negara mengalami kerugian besar, lebih dari satu juta tentara dan warga sipil tewas.

Perang Teluk II (Invasi Irak ke Kuwait: 1990–1991) Saat itu ekonomi Irak hancur pasca-perang dengan Iran, utang besar, serta tuduhan Irak bahwa Kuwait mencuri minyak dengan pengeboran miring (slant drilling). Saddam Hussein ingin menguasai cadangan minyak Kuwait dan ambisi memimpin dunia Arab. Perang diawali Irak menginvasi Kuwait pada 2 Agustus 1990. PBB merespons dengan embargo dan membentuk koalisi internasional dipimpin AS (Operasi Badai Gurun/ Desert Storm). Perang baru berakhir setelah pasukan koalisi berhasil membebaskan Kuwait pada 28 Februari 1991, dan memaksa Irak mundur.

Perang Teluk III (Invasi AS ke Irak: 2003–2011) dilatar belakangi tuduhan AS bahwa rezim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal (Weapon of Mass Destruction) dan mendukung terorisme pasca-serangan menara kembar 11 September 2001. Koalisi pimpinan AS menginvasi Irak pada Maret 2003, menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan cepat, namun memicu perang saudara dan kekerasan kelompok. Perang baru berakhir Desember 2011 dengan penarikan pasukan AS, meninggalkan Irak dalam masa transisi politik yang tidak stabil. Ketiga perang di Teluk ini secara signifikan mengubah peta politik Timur Tengah, mengakibatkan kehancuran infrastruktur, korban jiwa yang masif, dan ketidakstabilan ekonomi global.

Sejak Inggris Pergi

Nun jauh sebelumnya, jejak Perang Teluk berawal pada akhir 1960-an, saat Inggris yang masih menjajah negara-negara di sekitar Teluk Persia, berniat menarik diri dari Teluk Persia. Sejak awal Irak dan Iran sudah berselisih masalah teritorial, dan sengketa wilayah Shatt Al-Arab, sungai sepanjang 200 km yang terbentuk dari pertemuan Sungai Eufrat dan Tigris di Irak Selatan. Muara sungai ini mengarah ke perbatasan Irak dan Iran, yaitu Teluk Persia.

Karena tepat berada di perbatasan membuat Sungai Shatt Al-Arab menjadi sumber sengketa sejak tahun 1975. Sungai ini jalur utama Irak menuju arah laut sehingga Irak berusaha menguasainya. Selain itu, Provinsi Khuzestan menjadi wilayah sengketa selanjutnya, karena kaya minyak. Irak mengklaim Khuzestan miliknya, karena Inggris telah menyerahkan daerah tersebut ketika Irak telah merdeka dari jajahannya.

Tahun 1979 terjadi Revolusi Islam, saat kekuasaan Kerajaan Pahlevi, yang dianggap kaki tangan AS, berhasil digulingkan sehingga membawa perubahan politik di Iran menjadi republik Islam. Irak khawatir revolusi di Iran akan menyebar ke negara-negara Arab lainnya. Khomeini dinilai memiliki ambisi besar untuk melakukan revolusi ke negara-negara Arab. Dinamika di antara dua negara inilah cikal bakal penyebab Perang Teluk yang akhirnya juga merembet ke Kuwait.

Kini dunia berdebar menunggu perang teluk keempat bisa saja terjadi, bila kedua belah pihak tidak menahan diri.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

Rekomendasi Berita