ADA keprihatinan berulang setiap menjelang Hari Raya. Kegembiraan dan euforia dalam menyambutnya, berkebalikan dengan banyak tragedi di berbagai moda transportasi publik.
Di antara angkutan udara, laut, danau dan sungai, angkutan daratlah yang paling memusingkan. Sebanyak dan seluas apapun jalan raya disiapkan, tak sanggup menampung kendaraan yang melewatinya.
Jajaran Kementerian Perhubungan dan Korlantas dipastikan paling sibuk dan berkeringat. Kesiagaan mereka akan diuji oleh fakta krusial di lapangan.
Berkaca pada data Nataru 2025/2026, Kemenhub harus mengamankan transportasi darat terhadap 31.433 unit bus dan 117 terminal. Transportasi Laut dicek 704 kapal, 69 kapal patroli dan navigasi. Transportasi Kereta Api terdapat 2.670 di jaringan jalur di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi.
Transportasi Udara melibatkan 368 unit pesawat dan 257 bandara. Transportasi Penyeberangan mengurus 253 kapal, prasarana 15 lintas penyeberangan, 29 pelabuhan, 72 unit dermaga (52 dermaga bergerak dan 20 plengsengan).
Lintasan terpadat Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk, menjadi taruhannya. Total telah dicek kelaikan terhadap 47.187 kendaraan angkutan darat, 816 kapal laut, 368 pesawat udara, dan 3.333 unit kereta api.
Gerakan terbesar datang dari Jakarta menuju kota-kota di Jawa didominasi Jawa Tengah dengan 20,23 juta pergerakan, diikuti Jawa Timur 16,83 juta dan Jawa Barat 16,61 juta. Di luar Jawa, para pemudik terbanyak mengalir ke Lampung dan Sumatra, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat/Timur.
Selama Nataru kemarin tak kurang 119,5 juta masyarakat Indonesia (42,01%) bepergian. Angka ini diperkirakan akan berulang pada Lebaran 2026 nanti.
Statistik ini masih sebatas ‘periode kesiapan’. Praktik di lapangan akan menguji deretan angka itu dengan ragam peristiwa tak terduga. Kita bahas keselamatan bus dan travel yang beroperasi secara regular maupun carter. Di kelompok bus, travel, dan kendaraan pribadi masih mencatat angka kecelakaan tertinggi.
Langkah Baru Apa
Agus Pambagio, pengamat kebijakan publik berharap ada kebijakan progresif Kemenhub menekan kecelakaan di darat. Dulu Kemenhub punya Direktorat Keselamatan Transportasi Darat. Inilah jantung angkutan umum. Setelah penataan organisasi baru, direktorat ini malah dihapus. Kita menunggu Menteri belum menerapkan langkah baru apa menghadapi Lebaran 2026 nanti.
Baru saja kita disentak kecelakaan bus Indorent yang menabrak truk boks Isuzu Elf di jalan tol Solo-Ngawi KM 566 di pagi subuh. Bus bernopol B 7107 TGE itu mengangkut 34 penumpang. Meski hanya seorang yang tewas, tetapi dunia maya khususnya para bus mania serentak berduka.
Korban adalah Naura Rinda Cantika, warga Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Pramugari cantik berusia 21 tahun ini punya banyak penggemar, tak sebatas penumpang busnya, tetapi juga kerabat di berbagai terminal, rumah makan, dan pecinta bus di jalanan.
Cantika patah tangan kanan, luka di kepala, dan kesadarannya menurun saat dibawa ke rumah sakit. Kehadiran pramugari belakangan menjadi tren. Mereka menambah daya tarik dan pesona promotif bus-bus premium di banyak rute paling popular pulau Jawa. Tetapi pramugari selalu duduk di kursi paling depan samping pengemudi, posisi terapuh di setiap tabrakan.
Kita masih sarat catatan kelam kecelakaan bus dan jumlah korbannya yang besar. Beberapa contoh fatal pernah dialami bus pariwisata Giri Indah B 7297 BU dari Cianjur menuju Bogor, terjatuh ke sungai di Cisarua menewaskan 20 orang.
Bus Mustika Mega Utama berpelat F 7263 K, yang ditumpangi warga Cikemang, juga celaka karena terlalu banyak mengangkut rombongan peziarah. Harusnya kapasitas bus maksimal 48 orang, tetapi mengangkut lebih 60 orang.
Kisah lain, 16 peziarah asal Kabupaten Bojonegoro, tewas, dan 51 lainnya terluka. Bus Sang Engon nomor polisi B 7222 KGA yang mereka tumpangi terguling di ruas Tol Jatingaleh, Semarang. Bus yang dikemudikan Ahmad Husein (56 tahun) itu terguling di tikungan tajam.
Bus Limas bernomor polisi B 7919 PW yang membawa rombongan wisata dari SMPI Ar-Ridho, Depok, juga terjun ke sungai setinggi 30 meter di bawah Jembatan Cikundul, Kabupaten Cianjur.
Akibatnya 16 orang tewas, 26 luka ringan, dan 22 luka berat. Bus Limas yang dikemudikan Helmi Mahmud (47) sudah oleng selepas Puncak Pass menuju arah Cipanas. Melaju semakin kencang karena jalanan menurun.
361 Korban Jiwa
Sepanjang tahun 2025 kemarin tercatat 3.288 kecelakaan seluruh Indonesia. Angka ini meski turun 1,44 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 3.336 kejadian, tetap saja memrihatinkan.
Korlantas Polri mencatat 361 korban meninggal dunia atau turun 24,95 persen (120 jiwa) dibandingkan 2024 sebanyak 481 jiwa. Sedangkan korban luka berat 542 orang atau naik 6,07 persen jika dibandingkan 2024 yang 511 orang. Korban luka ringan justru naik menjadi 4.111 orang dibandingkan 2024 sebanyak 4.105 orang.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) ikut bersiaga. Dalam sepuluh tahun terakhir hingga 2025, KNKT telah menginvestigasi 132 kecelakaan darat. Dari jumlah ini 98 laporan telah diselesaikan, sisanya masih dilengkapi tanggapan pihak terkait. Total KNKT menghasilkan 1.198 rekomendasi keselamatan kecelakaan, mencakup regulasi, sarana kendaraan, prasarana, serta pengendalian dan pengawasan.
Salah satu kecelakaan paling dikenang terjadi di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, pada 10 Februari 2018. Sebuah bus pariwisata mengangkut karyawan PT. Indomaret rem blong saat menuruni tanjakan. Bus hilang kendali menabrak sepeda motor dan tiang listrik sebelum terbalik, menewaskan 27 orang dan melukai 30 lainnya.
Tragedi menimpa bus di tol Cipularang km 91 melibatkan 21 kendaraan, menewaskan 8 orang dan melukai 28 lainnya. Bus rombongan SMP di Sumedang terperosok ke jurang, menewaskan 27 orang.
Bus regular Safari Darma Raya bertabrakan di tol Cipali melibatkan truk, dan 2 minibus, menewaskan 12 orang dan 36 luka. Di Cikadang, Sukabumi bus terjun ke jurang, menewaskan 21 orang dan melukai 17 lainnya. Bus ALS yang legendaris di rute Sumatra, pernah alami rem blong di Bukittinggi menewaskan belasan orang.
Persaingan harga tidak sehat antar perusahaan bus pariwisata disinyalir menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan. Masyarakat cenderung memilih bus dengan harga sewa termurah, memaksa perusahaan menekan biaya operasional, termasuk aspek keselamatan.
Keprihatinan saja tak menyelesaikan soal.
Lagi-lagi faktor kesadaran dan kesiapan manusia yang utama, diikuti kendali pengawasan yang kuat. Transportasi adalah urat nadi mobilitas nasional, yang dituntut menghadirkan keandalan dan rasa aman.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)