Pacitan Tak Terbandingkan
- 19 Feb 2026 18:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
ADA prestasi fenomenal yang tak banyak diketahui orang tentang Pacitan. Kabupaten di perbatasan Jawa Timur-Jawa Tengah bagian selatan ini, dikenal sebagai wilayah seribu gua. Lalu seribu pantai indah, dan kelahiran mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebuah museum megah SBY-Ani juga menandai daya tariknya. Di luar itu masih ada satu kehebatan Pacitan, yaitu sebagai ‘juara nasional angka pertumbuhan terendah’ sejak era Soeharto.
Data Long Form Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik (BPS), di antara 416 kabupaten di Indonesia, Pacitan tak tergoyah dengan gelar angka kelahiran total (TFR) terendah.
TFR (Total Fertility Rate) adalah rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa usia suburnya. Atau banyaknya anak yang dilahirkan oleh satu orang perempuan di suatu wilayah.
Kota-kota kabupaten di Jawa umumnya mencatat TFR rendah, antara lain Jakarta, Magelang, Surakarta, Semarang, Bojonegoro 1,81, Tabanan (Bali) 1,81; Sidoarjo dan Tuban 1,84; Sleman (DI Yogyakarta) 1,87; Trenggalek dan Badung (Bali): 1,89; Wonogiri, Bantul, Ngawi, dan Lamongan sama-sama 1,9.
Angka kelahiran sering dipengaruhi pencapaian pembangunan yang lebih baik, seperti kesehatan, pendidikan, dan perekonomian. Pacitan memiliki prestasi program KB yang terstruktur dan masif.
Tingkat partisipasi Pasangan Usia Subur (PUS) di Pacitan hampir 79 persen atau sekitar 90 ribu dari 119 ribu PUS. Pencapaian target peserta KB sering kali melampaui 100 persen. Masih banyak wanita memilih kontrasepsi non-MKJP (seperti suntik), walau didorong penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Partisipasi pria untuk Metode Operasi Pria (MOP/Vasektomi) masih minim.
Dan, meski Pacitan bukan metropolitan yang sibuk, terpengaruhi faktor tingginya biaya membesarkan anak, termasuk biaya pendidikan dan kesehatan. Tingginya tingkat pendidikan dan tenaga kerja wanita di Pacitan, mendorong wanita menunda pernikahan dan kelahiran anak pertama. Pasangan muda mengutamakan kualitas hidup dan karir, gaya hidup modern dan perencanaan keluarga yang lebih baik.
Kematian Juga Turun
Data penduduk setempat Januari–September 2025, terdapat jumlah kelahiran sesuai akta 5.374 jiwa. Tahun sebelumnya mencapai 6.126 jiwa. Angka kematian juga turun, sepanjang 2025 tercatat 5.548 kematian, tahun sebelumnya 7.055 jiwa. Perpindahan penduduk, Januari–Juni 2025 ditandai jumlah warga datang 1.447 orang, yang pindah keluar 1.868 orang.
Kepindahan dipengaruhi pekerjaan, perkawinan, dan pendidikan (zonasi) karena anak yang bersekolah harus berdomisili bersama orang tuanya. Pacitan juga mencatat jumlah warga lanjut usia yang cukup tinggi. Warga berusia di atas 100 tahun lebih dari 500 orang, menyamai populasi usia lansia di Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.
Di Indonesia, angka TFR 2,1 dianggap sebagai tingkat pergantian (replacement level) yang artinya setiap perempuan akan digantikan satu anak perempuan untuk menjaga kelangsungan regenerasi. TFR 2,1 juga dijadikan patokan penduduk tumbuh seimbang, artinya jika kurang dari 2,1 maka jumlah kelahiran di satu wilayah rendah dan sebaliknya.
Wilayah dengan angka kelahiran terendah, antara lain Sulawesi Utara TFR 2,06; Bali 2,03; Jawa Tengah 2,03; Jawa Barat 2,03; Jawa Timur 1,98; Banten 1,98; DI Yogyakarta 1,83; dan DKI Jakarta 1,82.
Angka kelahiran itu menunjukkan perbedaan kota besar dan daerah terpencil. Ini sejalan dengan laporan State of World Population bahwa hidup di kota besar beban keluarga terbebani banyak pengeluaran. Berbeda dengan wilayah jauh seperti Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, atau Papua, TFR masih tergolong tinggi bahkan di atas 2,1.
Ogah Punya Anak
Dikutip dari Detik Health makin banyak pasangan di Indonesia memilih tidak memiliki anak atau menjalani hidup childfree. Alasannya kesehatan hingga sampai trauma masa lalu.
Wanita yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga memilih tak memiliki anak. Menolak menikah karena takut anaknya jadi korban. Namun angka childfree di Indonesia masih sangat kecil di bawah 0,01 persen, umumnya terjadi di perkotaan. Statistik pertumbuhan penduduk di Indonesia 1,1 persen, dengan angka kelahiran total 2,11 persen.
Survei United Nations Population Fund (UNFPA) dan YouGov dengan 14 ribu partisipan di 14 negara, termasuk Indonesia, menemukan satu dari lima orang diperkirakan mengurangi jumlah anak yang mereka inginkan.
Pertimbangannya biaya membesarkan anak yang tinggi, ketidakstabilan pekerjaan, biaya perumahan, kekhawatiran tentang situasi dunia, tidak adanya pasangan yang sesuai, termasuk norma yang masih mendiskriminasi gender.
Krisis fertilitas bukanlah soal orang yang tidak ingin punya anak, melainkan banyak yang ingin punya anak tapi tidak mampu. Survei itu menunjukkan lebih dari 70 persen orang di Indonesia masih ingin punya dua anak atau lebih.
Alasan memilih sedikit anak antara lain keterbatasan finansial (39 persen), keterbatasan perumahan (22 persen) dan ketidakamanan pekerjaan atau pengangguran (20 persen).
Sekitar 14 persen menyatakan khawatir situasi politik atau sosial dan 9 persen menyebut perubahan iklim sebagai hambatan memiliki anak. Lebih dari 1.000 orang di Indonesia diwawancarai survei ini.
Apakah fenomena Pacitan dan prinsip baru ‘ogah punya anak’ kelak mengubah lanskap demografi kita? Apakah perkotaan Indonesia juga sedang bergerak menuju krisis pernikahan dan kelahiran bayi seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan? Pilihan hidup generasi modern era digital, sangat menentukan hari depan Indonesia.

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)