Bencana Sunyi Lubang Bumi

  • 16 Feb 2026 18:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

AWAL tahun baru 2026 warga Kabupaten Limapuluh Kota di Sumatra Barat, dan warga Aceh Tengah dikejutkan amblasnya tanah ladang. Mulanya lubang tanah hanya selebar lapangan bola basket. Berangsur seluas lapangan sepak bola, dan berikutnya bisa membentuk cekungan dalam seperti stadion berkubah.

Inilah fenomena ‘Sinkhole’ atau lubang runtuhan pada badan bumi. Ia muncul tiba-tiba tanpa gejala kasat mata. Bagaikan kanker ganas, lubang di Sumbar dan Aceh Tengah itu terus melebar. Memakan bentang ladang, jalan desa, menara listrik tegangan tinggi, dan mengarah ke rumah penduduk.

Bupati setempat tak punya cara dan kemampuan teknis membekap lubang ini. Para ahli geofisika pun hanya sebatas menganalisis. Pada akhirnya alam sendirilah yang menghentikannya.

Tanah amblas membentuk lubang besar (luweng) berpotensi terjadi di kawasan karst (batuan kapur) seperti gugusan bukit Gunung Kidul dan Pacitan, dan Maros di Sulawesi Selatan. Topografi Sumbar umumnya berbukit pada gugusan pegunungan Bukit Barisan. Ada tiga gunung di sana, yaitu Sago, Bungsu, dan Sanggul.

Awalnya ada rekahan kecil di ladang warga desa Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota. Rekahan ini menjadi jalur masuknya air hujan ke dalam tanah.

Curah hujan tinggi menghasilkan aliran makin besar. Rekahan tergerus, membentuk lubang diameter hanya 7 meter dan kedalaman 6 meter. Warga menemukannya saat hendak bekerja di ladang dan mendengar dentuman keras sebelum kejadian.

Teknik Mitigasi

Wahyu Wilopo, dosen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM menjelaskan, sinkhole terjadi akibat kombinasi beberapa faktor geologi, seperti pelarutan batu gamping, erosi material lapuk, dan curah hujan tinggi. Wilayah Sumatra baru saja didera siklon Senyar akhir November 2025, yang memicu curah hujan tinggi dan memicu banjir bandang dahsyat. Pencegahan total sinkhole sulit dilakukan, tetapi mitigasi dapat melalui pemantauan geologi, pengendalian tata guna lahan, serta sistem drainase yang baik.

Laman BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional, menghadirkan pendapat Adrin Tohari, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN. Adrin mengatakan tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculan. Ibarat kata berproses ‘dalam sunyi’.

Pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali secara visual. Keberadaan rongga batu gamping itu sebenarnya dapat dikenali melalui survei geofisika.

Metode seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Rekayasa geoteknik untuk mencegah pembentukan lubang bisa dilakukan dengan ‘cement grouting’, yaitu menginjeksi semen, mortar atau bahan kimia tertentu untuk mengisi rongga bawah permukaan. Survei geologi dan geofisika bisa dilakukan dengan metode geolistrik, seismik, Ground Penetrating Radar (GPR).

Lubang besar juga pernah terjadi pada 2023 di Tegallalang, Gianyar, Bali dengan diameter 30 meter dan kedalaman 50 meter dan tahun 2025 di desa Pacarejo, Kec. Semanu, Kab. Gunung Kidul. Tanah amblas juga bisa terjadi di dalam kota yang sibuk. Baru-baru ini terjadi di tengah kota Shanghai, Tiongkok.

Pada 2018 Jalan Gubeng di Surabaya mendadak ambrol besar saat dilakukan fondasi sebuah bangunan rumah sakit. Lubang itu merembet dan memutus jalan raya yang padat kegiatan, berhenti di halaman rumah dan pertokoan. Walikota mengerahkan ratusan truk menguruk lubang ini. Setelah tanah urukan didiamkan memadat 2-3 tahun, di bekas lubang itu kini berhasil didirikan gedung Rumah Sakit lima lantai yang direncanakan.

Surabaya memang tidak terbentuk dari tanah karst. Penyebabnya sangat mungkin akibat drainase kota yang buruk, penyedotan air tanah berlebihan, beban gedung dan padatnya kendaraan, atau terpicu oleh hentakan paku bumi pondasi gedung.

Menjaga Warisan Dunia

Jauh di Sulawesi Tenggara terdapat bentang alam karst seluas 6.000 kilometer persegi, meliputi empat massa batuan utama yakni Matarombeo, Tangkelemboke, Sombori dan Pegunungan Mekongga. Kawasan alami ini diusulkan menjadi Taman Nasional dan Warisan Dunia, hasil rangkaian "Ekspedisi Wallacea".

Laman Mongabay mencatat kawasan ini memiliki kekayaan arkeologi unik. Di perut buminya, terdapat jaringan sungai bawah tanah dan gua yang menyimpan potensi penemuan spesies baru. Juga merupakan situs sisa sejarah manusia tertua di kawasan Wallacea.

Aset ini berada dalam ancaman industri pertambangan nikel, perkebunan sawit, hingga pabrik semen. Tambang nikel khususnya, menciptakan risiko kehancuran berlapis, mulai dari penggundulan hutan primer, polusi dari peleburan logam yang rakus energi, hingga lumpur limbah yang merusak terumbu karang di pesisir.

Kawasan ini didorong menjadi kawasan lindung berstatus Taman Nasional dan warisan dunia berstatus Cagar Biosfer dan Geopark UNESCO. Proposalnya dihasilkan kolaborasi ilmuwan lokal, internasional, dan otoritas pemerintah.

Peran ilmuwan melibatkan Universitas Halu Oleo dan NGO internasional Naturevolution, dengan kontribusi Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Universitas Gadjah Mada (UGM), International Cooperative Biodiversity Group (ICBG), University of California–Davis (UC Davis), dan Institut Teknologi Bandung.

Ekspedisi Wallacea berlangsung sepuluh tahun, melibatkan 327 partisipan termasuk 73 ilmuwan local, para arkeolog, hidrogeolog, dan ahli biologi (botani, mikologi, mamalogi, ornitologi, herpetologi, entomologi, iktiologi, dan genetika) yang bekerja di wilayah-wilayah terpencil dan belum pernah diteliti sebelumnya.

Kita didorong untuk lebih memahami hutan primer terbesar di pulau ini, keanekaragaman hayati luar biasa dan sangat terancam, agar mendapat pengakuan sebagai kawasan lindung nasional dan juga warisan dunia. Inilah respons terhadap krisis iklim dan tingginya angka deforestasi di kawasan Wallacea, yang kehilangan 1,37 juta hektar hutannya. Indonesia memiliki bentang alam karst seluas 15,4 juta hektar atau sekitar 8 persen luas daratan.

Itulah sebabnya perlu disusun manajemen mitigasinya. Sebab sinkhole bukan sekadar fenomena geologi alamiah, melainkan juga potensi ‘bencana-sunyi’ yang nyata bagi Indonesia.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Penulis: Tjuk Suwarsono (Wartawan)

Rekomendasi Berita