AI, Artificial Intelligence vs Anak Indonesia
- 09 Jan 2026 20:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
DERASNYA kehadiran berbagai kecerdasan buatan di tengah tumbuh kembang anak-anak Indonesia saat ini dapat diibaratkan sebagai pedang bermata dua. Dampaknya terhadap kemampuan berpikir anak sebenarnya sudah mulai terlihat melalui fenomena “budaya instan”.
AI menawarkan jawaban yang cepat dan mudah, sangat memanjakan, namun berisiko mematikan daya berpikir kritis. Anak-anak yang terbiasa menyalin jawaban dari AI tanpa melalui proses sintesis akan kehilangan “otot mental” untuk memecahkan persoalan, dari yang level sederhana hingga yang kompleks.
Alih-alih memahami proses belajar yang menantang, mereka justru terjebak pada pencapaian hasil akhir semata. Risiko terbesarnya adalah lahirnya generasi yang luas wawasannya, tetapi dangkal pemahamannya.
Lalu, bagaimana dampaknya terhadap kemampuan berbicara? Berdasarkan berbagai penelitian, persoalan ini tak kalah mengkhawatirkan dan rawan.
Indonesia dikenal memiliki budaya komunikasi yang kaya konteks, rasa, dan sopan santun. Sementara itu interaksi dengan AI cenderung bersifat transaksional, datar, dan tanpa emosi.
Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini dapat menumpulkan kepekaan sosial anak. Anak-anak Indonesia berisiko tumbuh menjadi komunikator yang sangat logis secara teknis, tetapi miskin empati dan kurang mampu membaca situasi emosional lawan bicara di dunia nyata.
Jika hari ini AI menjadi “tongkat penyangga” dalam proses belajar, di masa depan ia bisa berubah menjadi “kursi roda” yang membuat anak enggan berjalan dengan kakinya sendiri. Generasi Emas Indonesia 2045 terancam kehilangan orisinalitas jika hanya menjadi operator mesin, bukan inisiator gagasan yang bernalar tajam dan bertutur ramah.
Karena itu, pendidikan karakter serta interaksi tatap muka harus diperkuat agar anak-anak kita tetap cerdas bernalar dan santun bertutur. Mereka perlu menguasai teknologi tanpa kehilangan jati diri kemanusiaannya.
Jangan biarkan anak-anak kita “diserahkan” sepenuhnya pada alat. Dampaknya kelak bisa membuat para orang tua hanya mampu menatap dengan sedih dan keprihatinan.

Penulis: Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM (Praktisi Radio)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....