SWADAYA beras telah tercapai melalui lompatan cepat kurang dari setahun. Tahun 2025 ini stok beras mencapai 4 juta ton, tertinggi selama 41 tahun terakhir—Sudut Pandang, 6 Oktober 2025—.
Kini coba kita cermati jagung, adakah lompatannya sehebat beras?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih impor jagung periode Januari-September 2024 mencapai 967 ribu ton setara Rp 3,89 triliun. Volume itu naik 0,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor jagung datang dari Argentina 639 ribu ton, Brasil 256,83 ribu ton dan Pakistan 13,07 ribu ton.
Berapa produksi domestiknya? Total produksi domestik jagung pipilan kering sepanjang 2024 itu mencapai 15,21 juta ton, atau meningkat tipis 0,43 juta ton dibandingkan 2023. Kemajuan terlihat melalui produksi jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen) Januari-Juli 2025 ini sudah lampaui konsumsi nasional.
Hingga Juli 2025 produksi mencapai 9,45 juta ton, meningkat 11,08 persen dibandingkan Januari-Juli 2024. Bahkan kita sudah mampu ekspor, kata Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi.
Presiden Prabowo Subianto pun meragakan panen raya jagung serentak kuartal II di 36 Polda se-Indonesia dipusatkan di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Kamis, 5 Juni lalu. Luas lahan yang dipanen 344 ribu hektare lebih dengan estimasi hasil 1,78 hingga 2,54 juta ton jagung.
| Baca juga: Bara di Teluk Belum Mereda |
Capaian ini melibatkan kepolisian yang menjadi penggerak utama panen raya. Kata Presiden kedaulatan pangan merupakan fondasi dari kemerdekaan sejati.
Tidak ada bangsa yang merdeka kalau tidak bisa produksi pangannya sendiri. Kita bertekat menjadi lumbung pangan dunia, mampu bantu negara-negara lain yang kesusahan pangan.
Madura Pulau Jagung
Sejauh ini lumbung jagung nasional masih dipegang Jawa Timur. Di sana Pulau Madura dikenal sebagai legenda, sehingga layak sebutan ganda Madura sebagai Pulau Garam, sekaligus Pulau Jagung.
Sayang produksinya masih tergolong rendah. Produksi jagung lokal Madura sekitar 1 hingga 2 ton per hektare dengan umur genjah 65 sampai 75 hari. Ini akibat tingkat kesuburan tanah dan sedikitnya curah hujan.
Jawa Timur penghasil utama jagung dengan produksi 4,59 juta ton dari luas panen 739 ribu hektare. Capaian ini hampir dua kali lipat lebih besar dibanding Jawa Tengah di posisi kedua dengan 2,42 juta ton.
Di luar Jawa sentra jagung ada di Sumatera Utara menyumbang 1,37 juta ton, Nusa Tenggara Barat 1,20 juta ton, Sulawesi Selatan 1,13 juta ton, dan Lampung 1,10 juta ton.
Pencapaian swadaya jagung optimistis akan terwujud, bahkan diharapkan mampu ekspor karena sudah surplus. Produksi bulan Januari-Juli tahun ini stabil melampaui kebutuhan nasional, mencapai 9,45 juta ton atau meningkat 11,08 persen dibandingkan Januari-Juli 2024.
Produksi telah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi. Itupun masih ada kelebihan sehingga bisa diekspor atau dicadangkan ke stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Produksi bersih Januari-Juli adalah 9,01 juta ton. Proyeksi neraca jagung per 2 Juni 2025, kebutuhan konsumsi bulanan dari Januari sampai Juli diperkirakan 8,63 juta ton, sehingga surplusnya 380 ribu ton.
Komoditas Strategis
Jagung sudah menjadi komoditas pangan strategis selain beras. Masih terdapat banyak potensi besar produsen jagung yang tersebar di berbagai wilayah, meski terkonsentrasi di beberapa daerah tertentu. Jagung juga menjadi bahan baku utama pakan ternak, dan industri olahan.
Sumber Sumatranomics meyakini jagung merupakan salah satu komoditas pangan strategis dunia. Jagung memiliki nilai potensi yang besar di masa depan. Nilai perdagangan dunia diperkirakan 64,7 Triliun dollar AS, dua kali lipat nilai perdagangan beras.
Jagung mudah dimanfaatkan sebagai produk tepung, minyak jagung, ethanol, plastik, hingga pakan jagung dan bahan baku bioenergi ramah lingkungan. Pengembangan jagung secara serius dapat menambah cadangan devisa negara melalui ekspor.
Jagung pun lebih toleran terhadap perubahan iklim dan dapat diolah pada lahan marginal lebih baik daripada tanaman padi. Biaya produksinya pun lebih murah dibandingkan beras, karena penggunaan air dan pupuk yang lebih sedikit.
Sejauh ini masih terkesan pengembangan jagung terhambat terbatasnya dukungan pemerintah. Jagung kurang populer sebagai bahan pangan utama. Di wilayah Sumatra, petani jagung menghadapi terbatasnya akses penyediaan bibit unggul murah. Standar kadar air jagung industri seharusnya 14%, sedangkan di Sumatera kadar airnya masih 20-30%, sehingga rentan terkena jamur, tidak layak dikonsumsi ataupun diolah.
Apa saja yang dibutuhkan untuk mendukung tekat Presiden berswasembada pangan pada 2025?
Khusus untuk jagung, perlu penguatan rantai pasok dan infrastuktur, penyediaan silo, pengering, dan gudang penyimpanan. Subsidi pupuk dan benih juga harus dijamin pemerintah.
Jika kita luangkan waktu berhitung cermat, lompatan produksi jagung bisa menyamai lompatan swadaya beras. Popularitas jagung sebagai makanan pokok pendamping beras pun juga layak terus didengungkan, sehingga kita punya “ketahanan ganda pangan”, yaitu beras dan jagung.

Penulis: T. Suwarsono (Praktisi Media)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....