Kisah Ningrum sang Perempuan Tangguh (Bagian 1)

  • 11 Agt 2024 12:09 WIB
  •  Sorong

KBRN, Sorong : Kami mengenalnya sekitar tahun 2016,saat setiap satker RRI wajib melaksanakan program khusus bagi anak anak difabel Momen itu terjadi pada awal Desember. Perkenalkan namanya Puji Ningrum,seorang koordinator orangtua difabel di Kabupaten Sorong Papua Barat Daya.

Suatu hari kami  menghubungi Ningrum  untuk liputan tentang kaum difabel. Kami lantas mendatangi rumahnya yang sederhana,hanya ada satu kamar tidur,yang untuk dirinya dan kedua anaknya.

Saat masuk ke dalamkamarnya,di kasur tipis beralaskan lantai ,ada gadis dalam kondisi memprihatinkan. Dia bernama Ela putri dari Ningrum yang penyandang cerebral Palsy Syndrom.

Ela, kelahiran  1998,meski kondisi fisiknya terbatas,namun Ela selalu tersersenyum. Hanya ibu dan adiknya yang paham “bahasa” Ela.

 Sebuah Ipad ada di tangan ketika kami bertanya siapa namanya. Ela dengan kesulita lalu mengetikkan namanya.

Ningrum bercerita,sekalipun Ela punya keterbatasan fisik,tetapi tidak pernah di perlakukan khusus. Ela mandiri,bisa makan sendiri. Kadang Ningrum dan adiknya sekolah, Ela pun sendiri di rumah.Sudah biasa begitu,yang penting ada makanan dan camilan di sampingnya. “Saya tidak mau Ela di kasihani. Biar berceceran tetapi dia bisa makan sendiri,minumkata Ningrum”

 Yang penting kalau saya pergi,sudah saya mandikan,ganti baju dan pakaikan pampers,aman sudah,kata Ningrum”

Sejak perkenalan itu kami menjaga komunikasi dengan Ningrum.tidak hanya sekedar urusan difabel,tetapi melebar sampai komunitas literasi.

Ningrum pernah bercerita kalau punya impian membuat rumah singgah dan rumah baca. Terkhusus buat anak anak difabel di kabupaten Sorong.

Niat itu menimbulkan Tanya,darimana Ningrum mencari uang untuk membiayai hidupnya dan anak anaknya? Apalagi dia seorang ibu tunggal.

Kami hanya tahu Ningrum berkecimpung di dunia difabel,bukan karena punya anak penyandang disabilitas. Sejak awal dia sudah aktif di sebuah LSM yang menangani permasalahan difabel yang begitu tinggi di Kabupaten Sorong

 “Alhamduillah,rezeki selalu ada buat saya sama anak anak mbak”. Saya tidak mau susahkan orang,apapun saya lakukan,yang penting halal”.

Pada 2017,saat bertugas sebagai reporter Pilkada di Kabupaten Sorong, saya mampir di rumah kontrakannya. Menumpang mandi setelah seharian penuh meliput suasana pilkada.

Selesai mandi,sepiring tempe mendoan dan segelas kopi hitam di sajikan,iseng saya Tanya bagaimana dia bisa tinggal di Sorong,merantau dengan kedua anaknya.

Betapa terenyuh hati ketika mendengar cerita perjuangannya untuk menyelamatkan nyawan sendiri dan kedua anaknya.  “Pergi Jawa sambil gendong Ela sama adiknya ke Papua,hanya dengan baju di badan,terus sedikit uang untuk naik kapal” kata Ningrum. (Bersambung)

Rekomendasi Berita