Menakar Efek Jera Cancel Culture di Dunia Maya
- 07 Jan 2026 08:49 WIB
- Sorong
KBRN, Sorong: Cancel culture merupakan suatu bentuk pemboikotan atau pemberhentian yang awalnya jadi follower akhirnya tidak menjadi follower bahkan haters. Fenomena sosial ini juga juga dikenal dengan budaya pembatalan yang seringkali terjadi di media sosial. Dimana terjadi emosi kolektif yang menarik dukungan bisa berbentuk boikot, kritikan, hingga mengasingkan terhadap individu karena dianggap menyimpang dari etika, norma, atau melakukan tindakan dan ucapan yang tidak pantas. Hal ini dikatakan oleh Nurisah Yusdiranti Barus dari Biro Psikologi Bina Insan Papua (BIP) pada Rabu (07/01/2026).
“ Ini berhubungan dengan psikologi massa. Dalam suatu konten media sosial kita melihat adanya keterlibatan interaksi netizen yang banyak. . Dengan kesalahan yang publik figure lakukan, akhirnya memancing emosi netizen yang bersifat kolektif atau menimbulkan emosi kolektif. Emosi kolektif terbentuk secara spontan yang bertujuan untuk menekan konten kreator agar tertekan secara psikologis. Dampaknya sangat luas dan berkempanjangan.” Ujarnya.
Nursiah menambahkan cancel culture terjadi banyak sekali di media sosial. Hal ini merupakan dampak dari psikologi massa. Fenomena ini bentuknya dengan psikologi massa saat demo di lapangan. Kalau demo di lapangan itu sifatnya real, ada pergerakan, perusaka, ada emosi bergejolak dan bersatu pada emosi kolektif. Begitu juga di media sosial. Ada seseorang yang memegang kendali sehingga bisa mempengaruhi banyak orang untuk mengikuti kendalinya. Efek jangka pendeknya adalah mengharapkan agar influencer yang berkasus segera minta maaf. Sedangkan efek jangka panjangnya adalah akan terjadi beberapa reaksi dari infulencer seperti menarik diri dari lingkungan, berhenti sejenak dari dunia maya, bahkan bisa berakibat depresi.
“Jadi reaksi kolektif netizen akan ditanggapi emosi juga oleh influencer. Meski sudah minta maaf namun kemungkinan dalam hati ada rasa tidak terima. Pastinya juga akan mengalami overthingking. Yang nanti akan mengarah ke kecemasan dan depresi,” Imbuhnya.
Menurut Nursiah cancel culture biasa dilakukan dari orang yang tidak mengenal dekat. Dia tidak mendapatkan upaya yang mungkin lebih personal dan lebih pribadi untuk melakukan pemberian upaya positif untuk mengubah perilaku seperti nasihat. Maka orang-orang tersebut lebih mengambil upaya ringkas seperti mengata-ngatai.
“Penting untuk dibuat peraturan dari pemerintah untuk memberikan efek bagi seseorang yang merusak reputasi orang agar netizen lain tidak ikut-ikutan.” Ujarnya
Pada intinya cancel culture bisa saja berdampak positif untuk mengubah perilaku buruk korban cancel culture. Namun yang paling penting bagi influencer atau publik figure yang rentan terkena cancel cultre agar lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
“ Yang paling penting bagi influencer adalah mengetahui dunia digital. Sebelum memposting ada baiknya menyusun konten dan mengetahui dampak. Ada baiknya mengevaluasi dan meminta pendapat sebelum mengunggah konten. Agar dalam memposting sesuatu tidak berlandaskan emosi sesaat,” Imbuhnya.