Warga Kayan Hilir Akui Tak Berani Bakar Ladang
- 09 Sep 2026 14:48 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang — Kepala Desa Karya Baru, Yahya Suryadi (44), menyatakan dirinya bersama warga takut membakar ladang karena musim kemarau yang panjang dikhawatirkan dapat berdampak dan memicu terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Penyuluhan dan Pencegahan Satgas Karhutla TNI Wilayah Kayan Hilir, Kolonel Arh Saptarendra di Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalbar, Selasa, 8 September 2026.
Diterangkan Sapta, dirinya bersama Tim Penyuluh Satgas TNI diundang Kepala Suku Sub Suku Undau, Sekius di Desa Karya Baru untuk memberikan penyuluhan tentang Karhutla kepada tokoh masyarakat, tokoh adat dan perangkat desa di kediamannya.
"Hadir juga kepala desa, pendeta dan masyarakat, sekitar 20 orang. Kegiatan silaturahmi itu lebih kepada dialog tentang pencegahan Karhutla serta perbincangan lainnya," ujar Sapta.
Dalam pertemuan itu, lanjut Sapta, Kepala Suku terbesar di Kayan Hilir tersebut sangat mengapresiasi kehadiran Satgas TNI di wilayah yang dikenal sebagai Tanah Bertuah.
"Oleh karena itu, Kepala Suku dan Kades berinisiatif untuk mengundang Satgas TNI. Dari penyampaian Pak Kades, bersama warganya takut untuk membakar ladang karena musim kemarau bisa menyebabkan Karhutla," katanya.
Dalam kegiatan yang berlangsung hangat tersebut, Sapta didampingi anggota Satgas TNI lainnya, yaitu Kolonel Laut (KH) Chumaidi dan Kolonel Kes Robi Mandolin, Babinsa Koramil 1205-17/Kayan Hilir Sertu Burhannudin, serta anggota Satgas BKO Yon TP 542/Kodam V Brawijaya.
Senada disampaikan Sapta, Kades Karya Baru Yahya Suryadi menyampaikan ketakutan warga untuk membakar ladang karena posisi desa mereka yang terletak di tengah perkebunan sawit.
"Desa kami di tengah kebun sawit perusahaan (PT Gunas Group) dan kami merasa aman karena jika ada kendala mereka bantu. Selain itu, juga ada aparat dari Koramil dan Polsek," ujar Kades.
Ia mengatakan, saat ini hampir 90 persen masyarakat belum menugal atau tanam padi karena kemarau belum pasti kapan berhenti.
Selain itu, lanjut Yahya, di desanya juga mengalami krisis air bersih. Hanya beberapa rumah yang masih memiliki persediaan air. Bahkan, ada satu rumah yang mandi dengan satu ember untuk menghemat air.
"Untuk itu, kami berharap ada solusi juga bagi kami untuk dukungan air bersih," katanya.
Lebih lanjut, masyarakat juga telah diimbau supaya tidak melakukan pembakaran pohon untuk pupuk di ladang, agar dapat mencegah terjadinya kebakaran lahan yang dapat membahayakan masyarakat sekitar. (ril/Sta)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....