RD. Isnadi Tekankan Komitmen dan Keberlanjutan dalam Program Pemberdayaan Umat

  • 15 Jun 2026 07:45 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang - Gereja tidak hanya berperan dalam pembinaan iman umat, tetapi juga hadir untuk mendorong kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Pastor Paroki Maria Ratu Semesta Alam Sintang, RD. Antonius Isnadi Wibowo, dalam pertemuan Pelatihan Ketahanan Pangan dengan tema “Merawat Bumi, Memperkuat Umat: Kemandirian Pangan Keluarga Berbasis Pertanian Organik yang Berkelanjutan” pada Sabtu, 13 Juni 2026.

Menurut RD. Isnadi, program yang digagas Dewan Pastoral Paroki (DPP) bersama Seksi Pengembangan Sosial, Ekonomi, dan Caritas (PSE Caritas) bukan semata-mata berorientasi pada peningkatan ekonomi, melainkan wujud nyata kepedulian Gereja terhadap lingkungan hidup.

Ia mengingatkan pesan Paus Fransiskus yang menegaskan bahwa bumi merupakan rumah bersama yang harus dijaga dan dirawat oleh seluruh umat manusia. Karena itu, pemanfaatan lahan di sekitar rumah, meskipun dalam skala kecil, menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk merawat lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yang pertama-tama ingin kita bangun adalah kesadaran untuk merawat bumi. Tidak harus memiliki lahan yang luas. Apa yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan dan itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga rumah bersama,” ujarnya.

Peserta Pelatihan Ketahanan Pangan dengan tema “Merawat Bumi, Memperkuat Umat: Kemandirian Pangan Keluarga Berbasis Pertanian Organik yang Berkelanjutan” pada Sabtu, 13 Juni 2026 (Foto: Dokumentasi RRI Sintang/Sabina)

RD. Isnadi menjelaskan bahwa program pemberdayaan umat yang dijalankan paroki juga merupakan salah satu bentuk pemanfaatan dana Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang dihimpun dari umat. Dana tersebut dikembalikan kepada umat dalam bentuk kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat.

Menurutnya, kesejahteraan ekonomi dan penguatan iman harus berjalan beriringan. Ketika kehidupan ekonomi umat semakin baik, maka kemampuan untuk terlibat dan berkontribusi dalam kehidupan menggereja juga akan semakin meningkat.

"Inilah salah satu bentuk pemanfaatan Aksi Puasa Pembangunan itu. Jadi kembali pembangunan umat lagi, pemberdayaan umat kembali. Nah, sehingga nanti dengan pemberdayaan ini umat menjadi sejahtera, ekonomi menjadi lebih baik, iman juga lebih kuat. Ke gereja kolekte lebih banyak, uang lebih banyak lagi, kita buat kegiatan lebih besar lagi, menghasilkan yang lebih besar lagi. Siklusnya seperti itu terus ya," Katanya.

RD. Isnadi juga menekankan pentingnya komitmen dan keberlanjutan dalam setiap program pemberdayaan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak dapat diraih secara instan, melainkan melalui proses yang membutuhkan ketekunan dan konsistensi.

Selain pengembangan di sektor produksi atau hulu, ia menilai penguatan sektor hilir juga perlu dipersiapkan agar hasil pertanian yang dihasilkan umat memiliki nilai tambah dan tidak terbuang sia-sia. Pengolahan, pengemasan, hingga pemasaran produk menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

“Kalau hasilnya sudah berlimpah, harus dipikirkan juga bagaimana mengelolanya. Karena itu, pengembangan dari hulu hingga hilir harus berjalan bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh umat,” jelasnya.

Lebih lanjut, RD. Isnadi menegaskan bahwa Gereja menerapkan prinsip subsidiaritas dalam mendukung program pemberdayaan. Artinya, Gereja hadir untuk membantu hal-hal yang belum mampu dilakukan oleh umat, sementara inisiatif dan kemampuan yang sudah dimiliki tetap didorong untuk berkembang secara mandiri.

“Gereja mendukung dan mendampingi, tetapi tidak mengambil alih. Yang sudah mampu dilakukan umat, silakan dikembangkan. Yang belum mampu akan dibantu agar bisa bertumbuh bersama,” ujarnya.

Ia berharap program pemberdayaan yang telah dirintis dapat terus berkembang melalui kerja sama, komunikasi, dan pendampingan yang berkelanjutan. Dengan demikian, pemanfaatan lahan, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan umat dapat berjalan secara seimbang dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

“Yang terpenting adalah komitmen, konsistensi, dan keberlanjutan. Jika itu dijaga, program ini tidak akan berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi akan menjadi gerakan bersama yang terus bertumbuh dan menghasilkan kebaikan bagi banyak orang,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....