Gawai Dayak XVIII Melawi, Ajang Pelestarian Budaya dan Penggerak Ekonomi Lokal
- 31 Mei 2026 20:13 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Melawi – Semarak budaya dan kebersamaan mewarnai pelaksanaan Pekan Gawai Dayak ke-XVIII Kabupaten Melawi Tahun 2026 yang digelar di Stadion Raden Temenggung Setia Pahlawan, Nanga Pinoh, pada 28 hingga 31 Mei 2026.
Kegiatan tahunan tersebut kembali menjadi wadah bagi masyarakat adat Dayak untuk mengekspresikan rasa syukur sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.
Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak ke-XVIII Kabupaten Melawi Tahun 2026, Saleh Tapa mengatakan Gawai Dayak merupakan festival budaya yang secara rutin diselenggarakan setiap tahun oleh masyarakat Dayak di Kabupaten Melawi. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarana memperkuat identitas budaya dan mempererat persaudaraan antar masyarakat.
“Tahun 2026 merupakan pelaksanaan Gawai Dayak ke-XVIII, mengambil tema Dayak Bebiris' Sigik Nyuruh Bisik' Seloka Nyuruh Berada' Budaya Zaman Tuha, Resistensi Masyarakat Adat Dayak di Tengah Kemajuan Zaman dan subtema Nilai Kemandirian dan Kekuatan Sosial dalam Tradisi Gotong Royong Masyarakat Adat Dayak serta Nilai Perjuangan Masyarakat Adat Dayak dalam Menentang Perubahan Zaman,” ujarnya.
Menurut Saleh Tapa, pelaksanaan Gawai Dayak merupakan bentuk nyata komitmen masyarakat adat Dayak dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya di tengah perkembangan zaman yang terus bergerak cepat. Semangat pelestarian tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan adat, seni budaya, dan ritual tradisional yang menjadi bagian penting dari rangkaian acara.
“Melalui pelaksanaan Gawai Dayak, roh dan spirit pelestarian selalu diimplementasikan dalam wujud syukur oleh suku bangsa Dayak di manapun berada,” katanya.

Ia menjelaskan, secara filosofis Gawai Dayak merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Dayak kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kelimpahan hasil alam yang diperoleh, khususnya hasil panen yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Karena itu, lanjut Saleh Tapa, pelaksanaan Gawai Dayak tidak dapat dipisahkan dari aspek hubungan manusia dengan alam, ritual keagamaan, kehidupan sosial, budaya, serta adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Pelaksanaan Gawai Dayak Kabupaten Melawi diharapkan dapat menjadi wadah untuk menjalin silaturahmi masyarakat adat Dayak dan masyarakat dari berbagai etnis lainnya sebagai wujud keberagaman dalam memajukan budaya nasional,” tuturnya.
Selain sebagai sarana pelestarian budaya, Pekan Gawai Dayak juga diharapkan mampu menjadi ruang untuk menggali dan menampilkan kekayaan budaya dari berbagai sub-suku Dayak yang mendiami Kabupaten Melawi. Melalui kegiatan ini, berbagai tradisi, kesenian, dan kearifan lokal dapat terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Lebih jauh, Saleh Tapa menegaskan pelaksanaan Gawai Dayak juga memiliki dampak strategis terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat. Keramaian pengunjung selama kegiatan berlangsung menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan pendapatan, terutama sektor UMKM serta ekonomi kreatif.
Pekan Gawai Dayak ke-XVIII Kabupaten Melawi Tahun 2026 pun diharapkan tidak hanya menjadi perayaan budaya semata, tetapi juga menjadi momentum memperkuat persatuan, melestarikan identitas masyarakat adat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis budaya dan kearifan lokal. (Sta)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....