Misa Rabu Abu Menjadi Tanda Awal Masa Prapaskah
- 20 Feb 2026 11:11 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Umat Katolik mengikuti Misa Rabu Abu sebagai penanda dimulainya masa Prapaskah, yang dimaknai sebagai waktu pertobatan dan penyerahan diri kepada Tuhan. Misa ketiga yang digelar di Gereja Maria Ratu Semesta Alam pada Rabu, 18 Februari 2026, pukul 18.00 WIB, berlangsung khidmat dan dipimpin oleh Pastor Antonius Isnadi Wibowo. Antusiasme umat terlihat dari penuhnya gereja hingga kursi tambahan di tenda yang disediakan panitia Paskah.
Dalam Homilinya Pastor Isnadi menegaskan bahwa puasa dalam masa Prapaskah bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan pertobatan batin yang diwujudkan melalui pengendalian diri, doa, dan kepedulian kepada sesama. Ia mengingatkan umat bahwa penerimaan abu di dahi merupakan tanda awal memasuki masa Prapaskah sebagai masa pertobatan. Ia mengutip pesan Kitab Nabi Yoel, “koyakkanlah hatimu bukan pakaianmu,” yang menekankan bahwa puasa yang dikehendaki Allah bukan hanya puasa lahiriah.

“Puasa yang dikehendaki oleh Allah bukan sekedar puasa lahiriah tetapi puasa batin kita mengendalikan kehidupan kita mengendalikan keinginan keinginan kita yang tak teratur itu jauh lebih penting daripada sekedar tidak makan dan tidak minum,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Prapaskah perlu diisi dengan tiga hal utama sebagaimana diajarkan Yesus, yakni doa, sedekah, dan puasa. Tentang sedekah, ia menegaskan agar dilakukan dengan tulus dan tersembunyi, bukan untuk mencari pujian. Ia menyinggung kebiasaan zaman sekarang yang justru memamerkan perbuatan baik melalui media sosial.
Mengenai doa, Pastor Isnadi mengingatkan agar doa tidak hanya menjadi rutinitas lahiriah. “Masuklah kamarmu, kuncilah pintumu, dan berdoalah bersama berdialoglah dengan bapamu yang ada di surga maka bapamu akan membalasnya,” ujarnya. Sementara itu, dalam berpuasa umat diminta tidak menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya sedang berpuasa. Puasa kristiani, menurutnya, bukan untuk memegahkan diri, melainkan untuk melatih kerendahan hati dan penguasaan diri.
Ia menegaskan bahwa Prapaskah adalah “retret agung” untuk mengubah diri menjadi lebih baik, bukan hanya selama masa Prapaskah, tetapi juga setelahnya. “Bukan berarti setelah masa prapaskah lalu kembali kepada kehidupan yang lama tapi justru sesudah masa prapaskah ini menjadi lebih baik lagi,” tuturnya.
Di akhir homili, Pastor Isnadi menjelaskan makna abu yang diterimakan di dahi umat. Abu bukan tanda kelemahan, melainkan simbol pengharapan. “Abu yang dicurahkan atau dioleskan di dahi kita bukan sebagai tanda kelemahan tetapi sebagai tanda pengharapan,” katanya. Ia menegaskan bahwa seberat apa pun dosa dan kesalahan manusia, selalu ada harapan untuk menjadi lebih baik jika mau merendahkan diri dan bertobat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....