Kenapa Ada Matcha yang Enak Diminum, Ada yang Justru Cocok Jadi Bahan Kue?
- 03 Okt 2026 18:15 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang – Sama-sama berwarna hijau dan sama-sama disebut matcha, tetapi tidak semua bubuk teh hijau memiliki peruntukan yang sama. Ada matcha yang dirancang untuk dinikmati langsung sebagai minuman, sementara jenis lainnya justru lebih cocok dipadukan dengan makanan atau digunakan dalam proses memasak.
Mengutip artikel Media Indonesia berjudul “Mengenal Jenis Matcha, untuk Diminum Langsung dan Dimasak Berbeda”, matcha dibedakan antara lain menjadi ceremonial grade dan culinary grade. Ceremonial grade disebut memiliki rasa umami dan cocok diminum langsung, sedangkan culinary grade lebih sesuai untuk bakery atau masakan.
Perbedaan ini menarik karena penggunaan matcha ternyata berkaitan dengan karakter bahan yang ingin ditonjolkan. Ketika matcha diminum langsung, bubuk teh menjadi bagian utama dari pengalaman rasa. Tidak ada banyak bahan lain yang menutupi karakter tersebut, sehingga rasa dan aroma matcha menjadi perhatian utama.
Situasinya berbeda ketika matcha masuk ke dalam makanan. Bubuk teh harus berpadu dengan bahan lain seperti tepung, susu, gula, atau bahan pembentuk rasa lainnya. Karena itu, matcha yang digunakan untuk memasak memiliki peran berbeda dibandingkan matcha yang disiapkan untuk diminum langsung.
Hal tersebut juga menjelaskan mengapa memilih matcha tidak cukup hanya berdasarkan warna hijaunya. Dua produk yang sama-sama terlihat menarik di dalam kemasan belum tentu ditujukan untuk penggunaan yang sama. Cara menikmatinya menjadi salah satu pertimbangan sebelum membeli.
Bagi penikmat matcha yang ingin menyeduhnya sebagai minuman, jenis yang memang diperuntukkan untuk diminum langsung menjadi pilihan yang lebih sesuai. Sementara untuk membuat kue, dessert, atau masakan dengan rasa matcha, jenis yang memang ditujukan untuk kebutuhan kuliner lebih masuk akal digunakan.
Menariknya, sumber tersebut juga mengaitkan perbedaan kedua jenis itu dengan waktu panen. Ceremonial grade disebut berasal dari panen pertama pada musim semi, sementara culinary grade berasal dari panen ketiga pada musim gugur. Artinya, cerita di balik secangkir matcha ternyata tidak berhenti pada bubuk yang sudah berada di dalam kemasan. Waktu ketika bahan dipanen juga menjadi bagian dari karakter yang dibahas.
Karena itu, ketika melihat minuman matcha atau makanan berwarna hijau di pasaran, tidak perlu langsung menganggap semua menggunakan bahan dengan karakter yang sama. Ada matcha yang memang ditujukan untuk menjadi minuman utama, ada pula yang dirancang untuk menyatu dengan resep.
Pada akhirnya, memilih matcha bukan sekadar mencari bubuk berwarna hijau. Pertanyaan sederhananya justru: matcha ini mau dinikmati sebagai apa?
Kalau ingin merasakan karakter matcha secara langsung, pilih jenis yang memang diperuntukkan untuk diminum. Jika ingin membuat kue atau makanan dengan sentuhan rasa matcha, gunakan jenis yang sesuai untuk kebutuhan kuliner. Dengan begitu, bahan yang dipilih tidak hanya terlihat tepat, tetapi juga sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....