Memahami Perbedaan Playing Victim dan Victim Blaming
- 08 Agt 2026 19:43 WIB
- Sintang
RRI.CO.ID, Sintang - Dalam interaksi sosial sehari-hari, fenomena menyalahkan orang lain sering kali muncul dalam pelbagai bentuk. Dua istilah yang kerap membingungkan masyarakat adalah playing victim dan victim blaming. Meskipun sama-sama melibatkan perilaku menyalahkan, keduanya memiliki posisi serta latar belakang psikologis yang bertolak belakang.
Sebagaimana dilansir dari laman Alodokter, perbedaan mendasar dari kedua istilah tersebut terletak pada posisi pelakunya. Playing victim merujuk pada sikap manipulatif seseorang yang sebenarnya bersalah, namun berpura-pura menjadi korban guna menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, victim blaming adalah kondisi ketika seseorang yang menjadi korban justru disudutkan dan disalahkan atas kemalangan yang menimpanya.
Perilaku playing victim umumnya didorong oleh dorongan membela diri, trauma, atau pola pikir toksik. Berikut adalah contoh situasi atau ucapan yang mencerminkan tindakan tersebut:
- "Aku terpaksa mencari orang lain karena kamu terlalu sempurna dan buat aku tidak nyaman."
- "Ini salahku karena menyapamu, padahal aku tahu kamu hanya butuh saat ada maunya saja."
Sementara itu, victim blaming kerap terjadi akibat prasangka atau bias sosial yang menganggap korban ikut bertanggung jawab atas tindak kejahatan atau kemalangan yang dialaminya. Contoh perlakuan victim blaming meliputi:
- Menyalahkan gaya berpakaian korban ketika mengalami pelecehan seksual.
- Mengkambinghitamkan korban kecurian hanya karena ia keluar rumah pada malam hari.
Dampak kedua fenomena ini tidak bisa diabaikan begitu saja bagi kesehatan mental. Pelaku playing victim berisiko mengalami frustrasi dan kehilangan hubungan sosial hingga terisolasi, sementara korban victim blaming sangat rentan mengalami depresi berat, rasa malu, hingga trauma mendalam.
Untuk menghentikan lingkaran ini, setiap individu disarankan belajar bertanggung jawab atas kesalahan pribadi, sedangkan korban yang disudutkan perlu berani mencari bantuan pada orang tepercaya atau profesional kesehatan jiwa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....