Skrining Sifilis Penting untuk Deteksi Dini dan Cegah Penularan
- 20 Jul 2026 16:46 WIB
- Sintang
RRI. CO. ID, Sintang– Skrining sifilis menjadi salah satu langkah penting dalam mendeteksi infeksi menular seksual sejak dini, khususnya pada ibu hamil. Deteksi dini melalui pemeriksaan darah memungkinkan tenaga kesehatan memberikan penanganan lebih cepat sehingga dapat mencegah komplikasi pada ibu maupun janin.
dr. Novia Rachmawati, dokter umum, PKM Tanjung Puri menjelaskan bahwa skrining sifilis dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk diperiksa di laboratorium. Hasil pemeriksaan akan menunjukkan apakah seseorang memiliki hasil reaktif atau nonreaktif terhadap infeksi sifilis. Menurutnya, pemeriksaan ini sederhana, cepat, dan telah tersedia di puskesmas.
"Skrining sifilis dilakukan dengan pengambilan darah. Nanti akan dilihat hasilnya reaktif atau nonreaktif, dan pemeriksaan ini sangat sederhana serta cepat dilakukan di puskesmas," ujar dr. Novia.
Ia mengatakan, sifilis yang tidak ditangani dapat menimbulkan dampak serius. Pada ibu hamil, infeksi tersebut tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu, tetapi juga dapat menyerang organ-organ dalam serta meningkatkan risiko gangguan pada janin.
Meski demikian, dr. Novia menegaskan bahwa sifilis dapat disembuhkan karena merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Dengan pengobatan yang tepat dan sesuai anjuran tenaga kesehatan, pasien memiliki peluang untuk sembuh.
Namun, ia mengingatkan bahwa seseorang tetap dapat terinfeksi kembali apabila kembali melakukan perilaku seksual berisiko, seperti berganti-ganti pasangan, tidak setia kepada pasangan, atau melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi sifilis.
"Sifilis bisa sembuh, tetapi bisa terinfeksi lagi apabila seseorang kembali melakukan perilaku seksual berisiko dan melakukan hubungan dengan orang yang terinfeksi," katanya.
Selain pengobatan, dr. Novia menekankan pentingnya pemeriksaan terhadap pasangan pasien. Menurutnya, apabila hanya satu pihak yang menjalani pengobatan sementara pasangannya tidak diperiksa dan tidak diobati, maka penularan dapat terus berulang.
Ia mencontohkan, seorang suami yang telah dinyatakan sembuh dari sifilis masih dapat tertular kembali apabila istrinya ternyata telah terinfeksi tetapi tidak menjalani pemeriksaan maupun pengobatan. Kondisi tersebut dikenal sebagai penularan berulang atau ping-pong infection. Oleh karena itu, kedua pasangan harus menjalani pemeriksaan dan pengobatan secara bersamaan agar rantai penularan benar-benar terputus.
Lebih lanjut, dr. Novia mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat sebagai langkah pencegahan sifilis. Upaya tersebut meliputi menghindari hubungan seksual bebas atau berganti-ganti pasangan, setia kepada satu pasangan, menggunakan kondom selama masih menjalani pengobatan, serta menjauhi narkoba dan minuman beralkohol yang dapat menurunkan kesadaran dan meningkatkan risiko perilaku seksual tidak aman.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada sifilis atau merasa memiliki faktor risiko terpapar penyakit tersebut. Menurutnya, deteksi dan pengobatan sejak dini merupakan kunci utama untuk mencegah komplikasi serta memutus rantai penularan sifilis di masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....