Supervulkan, Ancaman Terbesar dari dalam Perut Bumi

  • 03 Agt 2026 09:13 WIB
  •  Sintang

RRI.CO.ID, Sintang – Di atas semua jenis letusan gunung berapi yang pernah tercatat, ada satu kategori yang berada di kelasnya sendiri, yaitu supervulkan. Letusan dari jenis ini tidak hanya merusak wilayah lokal, tetapi juga berpotensi mengancam kelangsungan hidup spesies di seluruh planet.

Mengutip Live Science, kekuatan letusan gunung berapi diukur menggunakan Volcanic Explosivity Index atau VEI, sebuah skala logaritmik dari angka 1 hingga 8. Setiap kenaikan satu angka berarti kekuatan letusan sepuluh kali lebih besar. Supervulkan adalah gunung berapi yang mampu mencapai VEI-8, kategori tertinggi dalam skala ini, dan belum ada satu pun yang meletus dalam 10.000 tahun terakhir.

Salah satu contoh supervulkan paling dikenal adalah sistem gunung berapi di bawah Taman Nasional Yellowstone, Amerika Serikat. Berdasarkan catatan geologis yang dikutip Tempo, Yellowstone telah mengalami tiga letusan kolosal dalam sejarahnya, yaitu sekitar 2,1 juta, 1,2 juta, dan 640.000 tahun lalu. Kaldera yang terbentuk dari letusan-letusan itu kini menjadi dasar dari taman nasional tersebut, dan aktivitas geotermal yang terus berlangsung di bawahnya menjadi daya tarik utama kawasan itu. Para ilmuwan memantau aktivitasnya secara terus-menerus, meski kemungkinan letusan besar dalam waktu dekat dinilai sangat rendah.

Jauh lebih tua dan lebih besar dari Yellowstone, supervulkan Toba di Sumatra, Indonesia, meletus sekitar 74.000 tahun lalu dalam skala yang jauh melampaui apa pun yang pernah disaksikan manusia modern. Mengutip JSTOR Daily, letusan itu memuntahkan sekitar 2.800 kilometer kubik material vulkanik ke stratosfer, lebih dari 10.000 kali lebih besar dari letusan Gunung St. Helens pada 1980. Dampaknya mencakup pendinginan global selama bertahun-tahun, penggelapan langit oleh abu yang menghalangi Matahari dan kemungkinan penurunan drastis populasi manusia purba di seluruh dunia.

Hal yang membedakan supervulkan dari gunung berapi biasa bukan hanya skala letusannya, tetapi juga cara ia terbentuk. Tidak seperti gunung berapi konvensional yang memiliki puncak berbentuk kerucut, supervulkan tidak selalu terlihat seperti gunung dari permukaan. Kantong magma yang sangat besar terkumpul di bawah tanah selama ratusan ribu tahun sebelum akhirnya meledak, dan ketika itu terjadi, puncaknya tidak menyembur ke atas melainkan runtuh ke dalam, membentuk kaldera raksasa.

Hingga kini, tidak ada letusan VEI-8 yang terjadi dalam rentang sejarah manusia modern. Namun, keberadaan supervulkan aktif di berbagai titik di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, menjadi salah satu objek pemantauan paling serius dalam ilmu kebencanaan global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....